MEDIA arus utama hingga kini masih jadi rujukan masyarakat, sehingga cara penulisannya harus cermat terutama nama seseorang. Sehingga wajar jika ada narasumber protes jika terjadi kesalahan menulsi namanya.

Nay ya kidah, nyani gelakhno pakai nikol kebau muneh aga beduani (Iyalah, memberi nama itu harus menyembelih kerbau dalam syukurannya).



Wajar, jika kini Pemerintah Jepang meminta media-media internasional memperbaiki cara menulis nama warga Negeri Sakura sesuai dengan budaya lokal. Sebab, dalam budaya Jepang, nama depan adalah identitas keluarganya, sementara yang kedua adalah nama dirinya.

Dilansir dari laman The Guardian, Menteri Luar Negeri Taro Kono—atau Kono Taro jika sesuai dengan budaya Jepang—memintakan itu kepada media asing. Contohnya, nama PM Jepang yang selama ini dituliskan Shinzo Abe, semestinya Abe Shinzo.

Temon do ana, mani gelakh kik tibalik-balik aga ketulahan. Wat-wat gawoh (Iya, kalau nama terbalik-balik itu bakal kualat. ADa-ada saja).

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR