PEPATAH berkata, “Jangan pernah meremehkan kekuatan anjing”. Hewan galak ini terlihat seperti tidur atau ia tidak tertarik sesuatu di sekelilingnya. Tapi sebenarnya ia selalu mengawasi dan selalu waspada terhadap segala hal yang membahayakan dirinya. Maka itu, sebagian orang memelihara anjing untuk menjaga rumah tuannya dan mengendus tindak kejahatan.   
Dalam perhitungan tahun, dikutipAstroshiopedia, pada 2018 – dijuluki Tahun Anjing Bumi. Tahun yang menggambarkan akan muncul peristiwa keamanan dan gerakan sosial konservatif dalam masyarakat. Paling tidak, 2018 adalah tahun politik yang bergemuruh seantero Nusantara  menyoroti nilai-nilai universal dan kebenaran.
Sebab itu, pada 2018 pentingnya dialog dan solidaritas untuk menumbuhkan nilai-nilai karakteristik yang terus diperjuangkan. Karena, tahun itu akan bermunculan sikap egois, keserakahan, serta kebodohan, dan sikap tersebut muncul menjadi sumber utama ketidaksetaraan di masyarakat. Penduduk bumi ini menunggu harapan baru. Mengubah kehidupan dari bersatunya dorongan sosial dan budaya anak bangsa.

Perubahan itu sudah dimulai. Dalam hitungan jam, 2018 adalah tahun politik yang mengubah tatanan kehidupan manusia. Bulan Juni nanti, digelarnya pilkada serentak yang mencari dan memilih pemimpin di 17 provinsi, termasuk Lampung. Dalam waktu bersamaan, digelar pilwakot dan pilbup di 39 kota dan 115 kabupaten, termasuk Lampung Utara dan Tanggamus. Ini pertaruhan moral.



Tidak hanya itu, 2018 merupakan tahun persiapan pemilihan legislatif sekaligus pemilihan presiden 2019. Pilkada di 171 daerah itu juga sebagai pemanasan menjelang pemilu tersebut. Anak-anak bangsa memberikan perhatian serius dan khusus, siapa yang bakal diusung sebagai gubernur, wali kota, dan bupati. Tentunya berkepala dingin, hati yang ikhlas untuk memilih pemimpin bukan karena duit sekoper atau sembako berton-ton.

Anak bangsa bersikap menunggu dan melihat, apa yang bakal terjadi di negeri ini pada 2018 menuju 2019. Banyak yang mengumandangkan isu SARA dan intoleran dalam merebut simpati rakyat. Jika tidak berhati-hati, 2018 adalah tahun kematian bukan tahun keadilan dan kesetaraan hidup yang menjadi harapan bagi semua anak bangsa.

Selain isu SARA, hoaks menjamur kembali. Provokasi dari hoaks yang dimainkan adalah persoalan agama, nasionalisme, dan komunisme.  Isu tersebut dikemas untuk merangkul kelompok-kelompok radikal guna menjatuhkan lawan politik.  Dan kelompok radikal itu pun hanya akan dimanfaatkan oleh elite politik untuk merengkuh kekuasaan.

***

Dari itulah, pemikir sosial di negeri ini mengatakan di era pascakebenaran, fakta tidak lagi menjadi landasan utama dalam memverifikasi kebenaran. Akan tetapi yang  cenderung dikedepankan adalah perasaan, emosi, dan keyakinan sesaat dalam mengambil keputusan. Kondisi ini tidak terelakkan lagi sehingga terjadi benturan antara pihak yang bertikai dengan latar belakang kepentingan berbeda.

Pada titik inilah anak-anak bangsa dituntut kedewasaan dan kematangan emosional dan intelektual dalam bermanuver.  "Salah satu cara mendapat dukungan dan bisa digunakan sebagai alat memaksakan adalah mengusung isu nasionalisme, agama, dan komunisme,” kata mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI Soleman Ponto dalam suatu diskusi politik di penghujung 2017 di Jakarta, belum lama ini.

Ponto pun mengakui kontestasi politik baik dalam pilkada serentak, pileg, maupun pilpres telah memperkuat politik identitas. Kata perwira tinggi ini, hal itu memperenggang hubungan antarpemeluk agama dan antarsuku. Jika tidak disadari, partai politik sebagai kelompok pragmatis merangkul kelompok radikal mengangkat isu-isu irasional untuk memecah belah bangsa dan daerah–saat pilkada serentak nanti.

Negeri ini bakal tergerus oleh kepentingan sesaat. Di ujung 2017 menjelang Tahun Anjing Bumi, kata orang-orang di dataran Tiongkok–berucap masihkah rakyat berpikir jernih untuk menentukan nasib masa depan bangsa dan daerah, seperti di Lampung ini? Terkadang elite politik memanfaatkan proksi–tangan pihak ketiga untuk merebut kekuasaan.

Yang jelas, isu SARA dan politik uang–menjadi lahan empuk dihembuskan untuk membunuh karakter lawan politik. Dan bukan basa basi lagi, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) pernah mengingatkan perbankan yang sangat rentan dan berpotensi dimanfaatkan oleh calon kepala daerah untuk membiayai segala bentuk kampanye dan memuluskan jalan menjadi kepala daerah juga kepala negara.

Modusnya? Pemberian kredit dalam jumlah besar kepada calon nasabah dengan penerima manfaat sebenarnya adalah calon pemimpin, seperti kasus Bank Century adalah contoh nyata. Belum lagi sistem ijon proyek, serta memanfaatkan penyokong dana dengan imbalan fasilitas jabatan. Rakyat terbuai dibuatnya. Mabuk dibuat oleh janji-janji politik.

Apalagi ada jargon; Sudah terbukti menyejahterakan rakyat, tapi faktanya masih ada hak rakyat yang belum dilunasinya. Ini namanya pembohongan publik! Saatnya rakyat bersikap seperti naluri anjing bumi. Ia melawan jika diganggu dan mampu mengendus–mencari serta menemukan penyebab kejahatan yang dilakukan manusia. Bersikaplah jujur, terhormat, dan ksatria dalam merebut simpati pemilih.   ***

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR