KALIANDA (Lampost.co)--Kenaikan harga gabah Kering giling (GKG) di sejumlah kecamatan di Kabupaten Lampung Selatan melambung Rp100 ribu per kuintal sejak akhir November lalu.  Akibatnya, harga beras juga ikut naik Rp1.000-Rp2.000/kg.
Misnan (45), pengepul padi sekaligus pemilik penggilingan padi, mengaku harga GKG yang semula Rp500 ribu menjadi Rp600 ribu/ kuintal. 

“Sejak panen gadu September lalu,  hampir seluruh areal persawahan di Kecamatan Ketapang, Sragi dan Bakauheni belum digarap lagi. Akibatnya stok hasil panen gadu menipis dan menyebabkan harga gabah dan beras naik,” kata Misnan pengepul padi saat ditemui di penggilingan padi miliknya desa Lebungnala,  kecamatan Ketapang,  Lampung Selatan, Jumat (15/12/2017).
Menurut dia, harga beras kualitas biasa tidak mengalami kenaikan signifikan, karena dipasok dari daerah sendiri. Kenaikan, ujar dia,  dari Rp7.500 menjadi Rp8ribu/kg.
“Kenaikan harga beras yang dirasakan oleh masyarakat adalah beras kualitas sedang yang semula Rp10 ribu menjadi Rp12 ribu/kg. Kemudian kualitas baik dari Rp12 ribu menjadi Rp14 ribu/kg,” kata Misnan. 
Sementara itu, sejumlah petani di sejumlah desa di Ketapang hingga saat ini masih belum menggarap lahan tanaman padi sejak panen musim gadu awal Oktober lalu. 
“Walau sejumlah daerah kebanjiran,  namun di desa kami lahan sawah masih kering. Jadi masih kami biarkan ditumbuhi rumput liar. Molornya masa tanam membuat harga beras naik dan membebani masyarakat kecil seperti kami ini,“ kata Bambang saat ditemui sedang membabat rumput untuk pakan ternak diareal sawahnya desa Bangunrejo, kecamatan Ketapang. 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR