BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Lampung, Muchtar Lutfi, mengatakan melonjaknya dolar Amerika Serikat terhadap rupiah tidak ada pengaruh pada eksportir Lampung pada komoditas kopi.
"Nggak ada pengaruh, karena kita sedang tidak melakukan ekspor, "kata dia kepada Lampung Post, Jumat (27/4/2018).
Dijelaskannya, harga ekspor tidak rasional yakni Rp24.500 per kg dan tidak menguntungkan, sedangkan harga di dalam negeri Rp26.500.
Penyebabnya yakni kurangnya produksi kopi tahun ini. Ketersediaan stok kopi di Lampung hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Sebelumnya, ekspor dilakukan ke berbagai negara seperti Eropa, China, Amerika, Jepang dan beberapa negara lainnya.
Namun, tahun ini belum ekspor karena selain stok yang tidak cukup, harga kopi internasional turun.
"Jadi walaupun dolar naik nggak berpengaruh, kelihatannya memang sudah diatur mereka begitu seperti konglomerasi, "imbuhnya.
Produksi kopi di Lampung yakni 100 ribu ton per tahun. Namun sebagian besar untuk memenuhi kontrak yang diteken hanya mampu menyuplai ke dalam negeri seperti Kapal Api dan Mayora. Penjualan kopi dalam negeri cukup stabil. Konsumsi kopi di Indonesia lebih banyak.
Senada dengan Ketua Asosiasi Suplayer Kopi Lampung (ASKL) Mulyadi mengatakan melonjaknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang hampir mencapai Rp14 ribu tidak berpengaruh pada ekspor komoditas kopi.
"Tahun ini tidak ekspor, tapi memenuhi kebutuhan didalam negeri saja yaitu ke Kapal Api dan Mayora, "kata dia kepada Lampost.co.
Penyebab tidak adanya ekspor karena ketersediaan kopi di Lampung masih sangat sedikit atau hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri.
"Barangnya belum ada, kalau ada juga hanya mencukupi kebutuhan di Indonesia. Faktornya karena keterlambatan panen, akibat cuaca, "ungkapnya.

loading...

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR