TRADISI menyambut kelahiran orang Lampung setelah silih darah adalah nabor sagun. Nabor adalah membagikan sagon atau makanan sagon yaitu makanan ringan tradisional khas Lampung yang terdiri dari dua macam sagon, yakni yang berwarna kuning terbuat dari bahan dasar kelapa dan berwarna putih dibuat dari bahan dasar tepung.
Pembagian sagon ini sebagai bentuk pemberitahuan atau pengumuman kepada khalayak ramai, tetangga, dan kerabat bahwa telah lahir dengan selamat dan telah diberikan nama seorang bayi dari keluarga fulan bin fulan sehingga penduduk sekampung bahkan di luar kampung mengetahui kabar gembira ini. Dalam sagon yang dibagikan tersebut diberi keterangan identitas bayi, mulai dari nama, tanggal lahir, berat badan, nama orang tua, serta lainnya yang dianggap perlu agar dapat diketahui keluarga dan tetangga sekitar.
Waktu pelaksanaan nabor sagun biasanya dilakukan setelah bayi berumur tujuh hari sampai maksimal empat puluh hari sejak dilahirkan, tidak ada bilangan waktu yang pasti. Namun, yang jelas nabor sagun dilakukan ketika si jabang bayi masih bayi, bukan ketika bayi telah menjadi anak-anak atau dewasa. Sebab, sifat dari tradisi nabor sagun ini adalah hanya bersifat informasi akan hadirnya seorang bayi di tengah-tengah keluarganya.
Tidak dibatasi mengenai jumlah maksimal atau minimal sagon yang harus dibagikan, pembagiannya disesuaikan dengan kemampuan keluarga sehingga tidak terkesan memberatkan. Dari sagon-sagon yang telah diterima itulah sekaligus menjadi salah satu bentuk undangan kepada masyarakat di sekitar rumah atau kampung sang bayi untuk kemudian datang memberikan balasan pemberian, mulai dari sabun mandi sampai pada hadiah-hadiah lain untuk keperluan sehari-hari bayi tersebut.
Nabor sagun adalah salah satu bentuk berbagi, membagi kebahagiaan sehingga dapat terbentuk hubungan baik antara sesama. Mengenai bentuk makanan yang dibagikan sampai saat ini masih mempertahankan esensi sagon itu sendiri, walaupun pada praktiknya selain dua macam sagon tersebut juga ada tambahan, seperti kudapan kecil dan permen, sebagai pelengkap sagon atau kreasi dari keluarga agar sagon yang dibagikan lebih menarik dan tidak monoton.

Ruyang-ruyang



Dalam proses kelahiran seorang bayi ruyang-ruyang adalah salah satu proses pemberian gelar adat kepada bayi yang baru lahir atau anak melalui rapat adat dengan mengundang tokoh-tokoh adat dan perwatin. Ruyang-ruyang merupakan salah satu bentuk begawi kecil bagi sang bayi karena di dalamnya berlangsung ritual layaknya seperti begawi memotong kerbau, canggot, dan prosesi pemberian gelar adat.
Waktu pelaksanaan ruyang-ruyang dilakukan ketika bayi sudah berumur lebih dari empat puluh hari atau setelah menginjak remaja, jamak dilakukan ketika sang anak telah melakukan khitan sehingga istilah ruyang-ruyang di sini juga biasa menggunakan kata ruyang-ruyang mandi pagi; pemberian gelar adat kepada si anak setelah dilakukannya khitanan karena si anak sudah dianggap telah mandi atau membersihkan diri usai ia dikhitan.
Namun, adapula ruyang-ruyang dilakukan pada salah satu pasangan bayi yang belum lahir, misalnya, karena tradisi ini dilakukan untuk anak laki-laki tertua dan anak perempuan tertua ketika seorang anak laki laki tertua belum memiliki adik perempuan sebagai anak tua muli (anak tua perempuan), posisi anak tua muli tersebut kemudian dilafazkan gelarnya meskipun belum lahir, ketika nanti anak perempuan tersebut lahir secara otomatis gelar telah disematkan kepadanya. Namun, apabila dikemudian hari sekira anak tertua perempuan tersebut tidak lahir, gelar tersebut kelak akan diturunkan kepada generasi selanjutnya.
Proses pemberian gelar dilakukan dengan cara nyanang, yaitu menabuh canang disaksikan oleh tokoh-tokoh adat dan perwatin dalam rapat permusyawaratan adat dan pada saat pemberian gelar adat tersebut dibacakan pula pepancor, yakni sejenis pantun yang biasa dibacakan pada saat pemberian gelar-gelar adat pada masyarakat adat Lampung.
Sebab, adat Lampung menganut sistem pewarisan mayorat, yang artinya sistem pewarisan (dalam hal ini pewarisan gelar adat) hanya diberikan kepada anak tua laki-laki dan pewarisan gelar untuk anak tua perempuan.
Anak tua laki-laki tersebut yang kelak akan menjadi penyimbang marga pewaris pusaka, gelar, dan harta benda keluarganya, ruyang-ruyang yang di dalamnya merupakan prosesi pemberian gelar adat resmi hanya dilakukan kepada anak tertua laki-laki (anak tuha meranai) dan anak tertua perempuan (anak tuha muli) saja, sedangkan untuk adik-adiknya hanya diberikan gelar tanpa melalui proses ruyang-ruyang.
Ruyang-ruyang merupakan pemberian gelar adat yang merupakan salah satu identitas orang Lampung, yaitu bejuluk beadok, memiliki julukan dan gelar nama lain selain nama sehari-hari, nama yang diberikan merupakan identitas yang harus dijaga kehormatannya sebagai nama baik, yakni piil pesenggiri orang Lampung, karena tidak semua atau sembarang orang bisa mendapatkan gelar yang disematkan tersebut.n 

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR