KALI ini kita membahas Surah Ad Dukhan Ayat (17). Dalam ayat ini menjelaskan tentang peringatan apakah kita termasuk dalam golongan orang yang mau mendengarkan peringatan dan apakah peringatan dari Allah swt itu membuat kita menjadi orang-orang yang bertakwa.
"Sungguh sebelum mereka, kami telah menguji kaum Firaun datang kepada mereka Rasul yang mulia."
Dalam ayat ini ada kata yang artinya fitnah. Manusia diperlakukan Allah atau Allah memperlakukan manusia seperti perlakuan seorang yang menguji untuk mengetahui kadarnya sampai di mana serta dibersihkan kotorannya. Jadi fitnah ini bukan berarti membicarakan keburukan orang di belakangnya, tidak. Tapi ujian.
"Harta dan anak kamu itu ujian buat kamu. Sungguh kami telah memperlakukan kaum Firaun yang hadir sebelum masyarakat Mekah itu memperlakukan orang yang mau menguji."
MENGAPA kita mengatakan demikian? Yang mau menguji berarti dia ingin tahu dan belum tahu, tetapi Allah sudah tahu. Oleh sebab itu, kita mengatakan memperlakukan sebagaimana atau bagaikan orang yang mau menguji.
"Datang kepada mereka Rasul Karim."
Karim artinya itu yang baik dalam segala bidangnya. Dan Rasul menyampaikan kepada kaum Firaun.
"Serahkanlah kepada hamba-hamba Allah aku adalah untukmu secara khusus adalah utusan yang tepercaya."
Siapa yang dimaksud? Orang-orang Yahudi. Di Mesir pada masa Nabi Musa as hidup, masyarakat Mesir bukan Yahudi, melainkan ada warga Yahudi. Nabi Musa diutus masyarakat Yahudi yang ditindas Firaun. Oleh karena itu, Nabi Musa diutus, “Ayo selamatkan mereka wahai Musa”. Maka dia datang kepada Firaun.
"Wahai Firaun kembalikan kepadaku biar dia ikuti aku. Aku ini adalah utusan dari Allah yang tepercaya. Jangan kamu meninggi-ninggikan diri di sisi Allah."
Artinya, jangan angkuh kepada Allah. Apa yang Allah perintahkan, ikuti. "Aku datang kepadamu membawa kekuasaan yang jelas."
Apa yang dimaksud kekuasaan? Kuasa itu adalah sesuatu yang memaksa seseorang menerima apa yang diperintahkannya. Kuasa yang dimaksud di sini adalah mukjizat. Musa datang membawa mukjizat yang mestinya itu kuasa menundukkan mereka sehingga patuh kepada Allah swt dengan satu kekuasaan dan satu bukti nyata berupa mukjizat. Musa mengetahui Firaun itu kejam sehingga memohon perlindungan kepada Tuhan dan tuhannya jangan sampai membunuh aku.
Selanjutnya pada Ayat 20 menceritakan kisah Nabi Musa. Nabi Musa tahu Firaun kejam setelah menyampaikan itu semua dan melihat gejalanya tetap ditolak sehingga dia bermohon kepada Tuhan.
"Sesungguhnya aku membutuhkan perlindungan kepada Tuhanku dan Tuhanmu."
Di situ Musa tidak memohon kepada Tuhanku Allah dan Tuhanmu yang kamu sembah, tidak. Namun, dia mengatakan Tuhanku dan dia yang juga Tuhanku itu juga Tuhanmu. Jangan sampai engkau melempar aku sampai mati.
Dalam hal ini ada juga yang menafsirkan, "Jangan sampai engkau mencaci maki aku dan menfitnah aku (rajam)".
Dipersingkat oleh Alquran, tetap saja ditolak dan diganggu sebagainya. Oleh sebab itu, Allah di mana Musa meminta perlindungan mengabulkannya dengan berkata, "Maka berangkatlah di waktu malam dan malam membawa hamba-hambaku di tengah malam. Kalian akan diikuti secara bersungguh-sungguh".
Berangkatlah Firaun mengikuti Nabi Musa. Sesampai di pantai, umatnya melihat diikuti (Firaun) dan kita pasti akan tertangkap. Nabi Musa menjawab, "Tidak mungkin kita tertangkap Tuhanku bersama aku".
Ada perbedaan ucapan Nabi Musa dan Muhammad saat berada dalam keadaan yang meminta perlindungan Allah swt. Jika Nabi Musa mengatakan tidak akan Tuhan bersama aku, sedangkan Nabi Muhammad saat dikejar-kejar jawabnya, "Jangan sedih Tuhan bersama kita".
Artinya, Nabi Musa orang Yahudi menonjolkan keakuan. Sementara Islam menonjolkan kebersamaan yang dibawa Nabi Muhammad. Kita saat salat sendiri mengatakan "hanya kepadamu". Kita menyertakan orang lain padahal kita (salat) sendiri. Intinya ajaran Islam yaitu kebersamaan.
Pada penjelasan selanjutnya kenapa Allah meminta Nabi Musa memakai tongkat untuk memukul laut? Itu artinya jika mau memperoleh sesuatu harus ada usaha walau itu kecil.
Pada Ayat 24—25, Musa dan umatnya melewati laut yang terbesar dan sampai, sedangkan Firaun ada di belakangnya. Setelah sampai ke pantai, Allah swt berfirman kepada Musa, "Biarkan saja dia tenang seperti itu keadaannya, seperti itu terbelah tidak perlu khawatir. Mereka sebentar lagi akan tenggelam".
Harus diketahui Firaun dan umatnya adalah masyarakat yang maju. Sampai sekarang sebagian dari upaya mereka masih mengagumkan. Namun, dalam ayat ini dikatakan betapa pun kuatnya Firaun, tetapi dia menantang Tuhan, dia dihancurkan Tuhan.
Dalam Alquran disebutkan ada tiga kaum. Pertama kaum ahli seni sampai dia memahat gunung, ahli pembangunan sampai mereka membangun bangunan yang tinggi, dan terakhir kaum Firaun yang ahli dalam teknologi.
Firaun seperti yang dijelaskan di sini menyiksa (siksa hati dan fisik) kaum Yahudi. Dan yang paling berat yakni menjajah mereka. Itu merupakan siksaan yang menyakitkan hati. Kalau begitu yang akan saya sampaikan kemerdekaan adalah nikmat, itu kebanggaan dan harus dijaga.
Selanjutnya pemimpin tidak boleh angkuh, dia harus merasa diri setingkat dengan masyarakatnya. Jika dia merasa angkuh, akan mengantarkannya untuk menghina orang lain.
Ada ungkapan yang mengatakan sebelum dia jadi pemimpin, dia terlibat kepada masyarakat seakan-akan dia yang memimpin walaupun dia belum memimpin. Namun, setelah dia jadi pemimpin, dia seakan-akan jadi rakyat biasa yang dipimpin masyarakatnya. 
Namun yang dilakukan Firaun angkuh, dia menganggap dirinya Tuhan. Jadi sikap Firaun tersebut bukan sekadar menyiksa fisik, melainkan melecehkan masyarakat Yahudi. Namun, ingatlah betapa pun kuatnya manusia jika datang ketentuan Tuhan, dia pasti akan tidak selamat. 
Pembebasan Tuhan terhadap Bani Israel itu sebagai nikmat kemerdekaan. Setiap orang harus mensyukuri kemerdekaan yang sudah dianugerahkan kepada setiap orang. Orang Yahudi dipilih Tuhan sebagai masyarakat yang menonjol, tetapi itu pada masanya. Sebab, jika tidak dilakukan penambahan pengetahuan, dia bisa dilampaui orang atau kaum lain.
 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR