KEMAMPUAN perempuan dalam mengkritisi permasalahan bangsa serta kemampuannya menyampaikan ide-ide, saran, serta solusi sebenarnya bukanlah hal baru. Kaum perempuan di zaman Rasul pun sudah lebih dulu mempraktikkannya. Semua itu dilakukan dalam rangka untuk mendapat kebaikan.

Saat Khalifah Umar bin Khattab memberi khutbah yang isinya anjuran untuk membatasi jumlah mahar (maskawin), Shafiyyah binti Abdul Muthalib segera bangkit dan mengkritisi ucapan Umar tersebut. Mendengar ucapan lugas dan tepat tersebut, tanpa ragu Umar segera membenarkan ucapan perempuan tersebut.



Dalam kaitannya dengan kisah tadi, kaum perempuan sudah selayaknya tampil percaya diri di berbagai bidang kehidupan sosial masyarakat ini, apalagi di zaman sekarang dengan terbukanya kesempatan bagi kaum perempuan untuk duduk sebagai anggota legislatif. Namun, untuk itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Pertama, kepekaan politik kaum perempuan Indonesia hendaknya semakin meningkat, sehingga kaum perempuan tidak lagi abai untuk membahas permasalahan poitik. Sebab, dengan adanya kepekaan politik, peluang untuk pembelajaran politik bagi perempuan tentu semakin terbuka.

Kedua, adanya kemampuan menyiasati dan mengatur segala tugas-tugas dengan baik. sebab, bagaimanapun seorang perempuan yang berkualitas sesungguhnya yang benar-benar berupaya optimal menyeimbangkan kedua tugas tersebut dengan tidak mengesampingkan salah satunya karena berbagai alasan. Mengatur dan menyeimbangkan bukan berarti segala masalah teknis harus kita yang melakukan. Namun, yang terpenting adalah kemampuan untuk mengawasi dan mengendalikan tugas-tugas yang mungkin didelegasikan kepada orang lain.

Yang ketiga, menyangkut kualitas perempuan yang duduk di legislatif tersebut. Dalam hal ini, sumbangsih nyata seorang perempuan di legislatif akan menentukan pandangan positif atau negatifnya masyarakat, khususnya kaum laki-laki terhadap perempuan. Karena itu, kaum perempuan yang duduk di legislatif haruslah orang-orang yang memang memiliki kualitas yang teruji, apakah itu menyangkut kualitas wawasan perpolitikan ataupun kualitas moralnya.

Itu semua adalah hal penting yang perlu diperhatikan setiap kaum perempuan dalam kaitannya dengan interaksi di berbagai sisi kehidupan.

Pesan Kartini

Perjuangan perempuan Indonesia selalu saja dikaitkan dengan sosok Karini sebagai pejuang bagi kaumnya. Namun, dalam hal ini emansipasi menurut Kartini terkadang sering disalahartikan oleh kaum perempuan, seperti tecermin pada suratnya kepada Prof Anton dan nyonya tanggal 4 Oktober 1902.

Surat itu berisi, “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan anak laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tetapi, karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum perempuan agar kaum perempuan lebih cakap melakukan kewajibannya. Kewajiban yang diserahkan alam (sunatullah) sendiri ke dalam tangannya, menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama”.

Itulah pesan penting dalam tujuan perjuangan Kartini yang sangat mulia yang perlu dipahami kaum perempuan agar jelas arah perjuangan hidupnya dalam beraktivitas. Sebab, dengan jelasnya arah dan tujuan hidup, kaum perempuan dapat memilih segala tindakan yang benar dan terhindar dari penilaian keliru dirinya sendiri.

Perempuan dalam Islam

Emansipasi memang telah mendorong kaum perempuan melakukan peran-peran sosial, ekonomi, politik, bahkan militer. Secara perlahan mereka juga tidak jarang mulai meninggalkan tugas-tugas fitrahnya sekalipun mustahil meninggalkan peran melahirkan dan menjadi ibu. Islam memiliki perangkat hukum terbaik menyangkut status perempuan.

Islam menjadikan kedudukan perempuan sangat terhormat, beberapa belas abad yang lalu ketika perlakuan tidak manusiawi terhadap perempuan di Semenanjung Arab dan di seluruh dunia mencapai puncaknya. Islam datang sebagai cahaya, memberikan pandangan hidup yang sempurna, komprehensif, dan penuh keseimbangan.

Di bawah sistem sosial Islam, tak seorang manusia pun diperlakukan diskriminatif. Laki-laki dan perempuan ibarat dua roda masyarakat yang saling memenuhi dan melengkapi fungsi masing-masing. Islam juga tidak mengangkat persoalan superioritas dan inferioritas dari dua jenis kelamin yang ada. Perkembangan personal dan latihan intelektual adalah HAM yang dijamin Islam bagi laki-laki dan perempuan.

Islam memberikan kesempatan sama dalam pengembangan kepribadian dan mencari ilmu pengetahuan. Begitu pula perlindungan terhadap perempuan tidaklah berarti berdiri di hadapan perempuan, tetapi mendorong mereka belajar dan berlatih. Rasulullah sangat memperhatikan pendidikan kaum perempuan, yaitu dengan mengajarkan mereka kebijaksanaan praktis dan norma-norma tingkah laku.

Dengan melihat begitu kompleksnya pengaruh posisi dan sosok seorang perempuan, sudah selayaknya kita lebih dewasa menyikapi semua ini. Cukup sudah rasanya kita bergelut dengan permasalahan yang menyebabkan kita seolah berjalan di tempat, sementara waktu tak akan menunggu kita, bagaimanapun kita harus kembali meluruskan cita-cita Kartini, “Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai,” (surat Kartini kepada Ny Van Kol, 21 Juli 1902).

Untuk mempraktikkan harapan Kartini tersebut, tentu salah satu caranya adalah dengan semangat menuntut ilmu dari kaum perempuan Indonesia yang harus terus ditempa. Dengan begitu, kaum perempuan Indonesia benar-benar memiliki pemahaman keislaman yang benar dan luas sehingga menjadikan dia lebih mantap dalam beraktivitas dan terhindar dari langkah-langkah yang keliru.

Negara Indonesia yang mayoritas muslim sudah seharusnya mempraktikkan tradisi-tradisi yang sesuai. Dalam kaitan itu, kebiasaan membaca dan menuntut ilmu jelas sangat penting. Tradisi Islam erat kaitannya dengan belajar dan membaca, bahkan ayat yang pertama turun memerintahkan kita membaca.

Harus Berilmu

Abdul Kadir Djaelani, mubalig yang cukup kita kenal, mengatakan kejayaan suatu bangsa berbanding lurus dengan kebiasaan membaca dan menuntut ilmu, bahkan seharusnya setiap muslim di mana pun dan kapan pun adalah bagian dari generasi iqro; generasi yang cinta membaca dan menuntut ilmu. Sudah seharusnya kita membekali diri dengan banyak belajar dan menuntut ilmu agar kita memiliki wawasan yang benar, bukankah Allah swt mengingatkan dalam Alquran Surah Al-Alaq Ayat 3 sampai 5, “Bacalah dan Tuhanmulah yang paling pemurah, yang mengajarkan (manusia) dengan perantaraan kalam, dia mengajarkan pada manusia apa yang tidak diketahuinya.”     

Jadi, sangatlah jelas memang, setiap kaum perempuan khususnya muslimah sejak dahulu apalagi saat ini sangatlah memerlukan wawasan yang luas agar dapat menyikapi segala permasalahan hidup dengan bijak. Dengan bekal ilmu dan wawasan, seorang perempuan dapat mendidik anak anaknya dengan benar sebagaimana yang dipesankan Kartini bahwa ibu adalah madrasah pertama.

Dengan wawasan yang luas, perempuan menyikapi segala permasalahan hidup di sekitarnya dengan baik dan tidak mudah terprovokasi terlebih di zaman sekarang banyak info-info yang belum jelas kebenarannya. Wawasan yang luas dan benar juga akan menjadikan muslimah  memiliki harga diri dan keyakinan akan ketinggian dan kesucian agamanya. Itulah cita-cita suci Kartini bagi muslimah, kususnya bagi perempuan Indonesia.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR