KALIANDA (Lampost.co)--Musim pancaroba menyebabkan aktivitas petambak udang vaname di pesisir timur Kecamatan Ketapang dan Sragi, Lampung Selatan banyak yang terpuruk.

Aan Junaedi (38), petambak asal Desa Sidoasih, Ketapang, Lampung Selatan, mengatakan akibat kondisi cuaca yang tidak menentu saat ini  seluruh bibit udang yang ditebarnya, sebanyak 110 ribu benur mati semua.
"Tahu-tahu udang yang sudah berumur 2 minggu itu mengambang dipermukaan air tambak. Mati semua," kata Aan kepada Lampost.co, Selasa (4/7/2017).



Sebelum udang mengambang, ujar dia, selama tiga hari lokasi disekitar tambak diguyur hujan."Saat saya akan kasih pakan udang jam 10.00 kondisi cuaca cukup terik, tahu-tahu saya lihat banyak udang yang mati mengambang di permukaan air," ungkap dia.

Ia menduga kematian udang miliknya di lahanl tambak seluas 1/2 hektare itu akibat cuaca yang tidak menentu. "Setelah hari hujan lalu kondisi cuaca panas, bibit udang sudah pada mengambang. Atas dasar itu, saya duga kematian udnag akibat faktor cuaca," terang warga Dess Sidoasih yang mengaku merugi sekitar 10 jutaan.

Hal senada diungkapkan Redy, petani tambak di paret 5 Desa Berundung, Ketapang. Akibat hujan deras yang melanda sejak malam hingga siang hari pertengahan Juni lalu, aliran air di tanggul penangkis meluap, hingga udang milik petani yang siap panen sepekan lalu tersapu banjir.

"Akibat tanggul penangkis meluap isi tambak yang siap panen nyaris habis. Hanya terssisa sekitar 25 persennya, 75 persen lenyap disapu banjir," kata Redy.

Biasanya, lahan seluas 1/4 hektare tambak udang vanamie yang ia geluti sejak setahun terakhir ini dapat menghasilkan 3-4 kuintal dengan ukuran (size) 50."Akibat banjir hanya dapat 80 kilogram saja. Lumayan bisa untuk modal membeli bibit benur (bibit udang), pungkasnya.

 

 

 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR