SEJAK awal November 2018, sejumlah wilayah di Lampung sudah memasuki musim hujan. Data Stasiun Klimatologi Pesawaran, Lampung, menyebutkan beberapa wilayah mengalami puncak musim hujan berbeda.

Puncak musim hujan di Pesawaran, Tanggamus, Lampung Barat, Way Kanan, dan Lampung Utara bagian selatan, diprediksi pada Januari 2019. Lampung Utara bagian utara, Lampung Tengah, Lampung Selatan, Bandar Lampung, dan Pringsewu diprediksi Februari. Sedangkan Mesuji, Tulangbawang, dan Tulangbawang Barat puncaknya diprediksi pada Maret.



Musim hujan adalah berkah bagi alam dan seisinya, termasuk manusia. Tetapi hujan juga sering menjelma menjadi bencana. Di Tanggamus dan Pesisir Barat, hujan deras menimbulkan banjir bandang. Air sungai meluap serta menghantam infrastruktur, lahan pertanian, dan permukiman. Seorang warga Pekon Umbar, Kecamatan Kelumbayan, Tanggamus, tewas terseret arus. Sementara di Bandar Lampung, longsor menerjang rumah warga di Panjang dan Bumiwaras.

Hal penting yang harus berulang-ulang diingatkan adalah agar segenap masyarakat mulai mengantisipasi sejak sekarang. Kesiapan menghadapi bencana akan mencegah munculnya korban, terutama pada puncak musim hujan. Beberapa jenis bencana yang sering muncul pada musim hujan antara lain banjir, tanah longsor, pohon tumbang, papan reklame ambruk, dan gelombang tinggi.

Pemerintah daerah perlu segera menerjunkan personelnya sejak sekarang, antara lain untuk membersihkan badan sungai yang tertutup sampah. Juga memangkas pohon pelindung di pinggir jalan. Pohon pelindung yang terlalu rimbun pada umumnya rawan tumbang dan peristiwa tersebut pernah terjadi di Jalan Sam Ratulangi, Bandar Lampung, hingga merenggut dua korban jiwa. Demikian pula, pemasangan papan reklame di tempat umum harus diperhitungkan benar kekuatannya agar tidak membahayakan masyarakat.

Memasuki musim hujan para pamong kelurahan/desa dan jajarannya menempati peran sentral untuk menggerakkan masyarakat. Semisal memimpin masyarakat melakukan kerja bersama membersihkan saluran air yang mampat di lingkungan terdekat. Itulah ciri kepemimpinan sejati, yakni mampu memotivasi dan menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk memajukan wilayah masing-masing.

Selain bencana alam, musim hujan juga menjadi waktu yang tepat bagi berkembangnya berbagai jenis penyakit, mulai batuk, pilek, demam, hingga demam berdarah dengue (DBD) dan malaria. Masyarakat hendaknya mulai mengubur barang-barang bekas seperti kaleng, botol, dan ban, agar tidak menjadi tempat indukan nyamuk berkembang biak. Juga menguras penampungan air secara rutin sepekan sekali.

Langkah pencegahan DBD sepintas terlihat sepele. Banyak masyarakat yang sudah melakukan, tetapi banyak juga yang menganggap hal itu tidak terlalu penting. Menganggap tidak penting mungkin bagi yang belum pernah mengalami sendiri atau anggota keluarganya, terjangkit DBD. Bagi orang yang pernah terjangkit, pasti akan memahami arti pentingnya langkah antisipasi.

Kita jelas berharap musim hujan akan membawa berkah bagi seluruh alam, termasuk manusia. Jangan sampai sebaliknya, hujan menjadi bencana yang menyulitkan kehidupan manusia.

 

 

EDITOR

Firman Luqmanulhakim

TAGS


KOMENTAR