JIKA anda mengunjungi Taman Santap Rumah Kayu di Jalan Arif Rahman Hakim Bandar Lampung, ada satu bangunan yang juga unik dan artistik. Bangunan tersebut adalah musala yang biasa menjadi tempat para pengunjung dan karyawan menunaikan salat.

Jika sebelumnya tempat ibadah di tempat ini berukuran kecil, guna memberikan kenyamanan tamu, Rumah Kayu menyulap bangunan musala menjadi tempat yang nyaman lagi artistik.



Seperti konsep Taman Santap Rumah Kayu yang menghadirkan sisi natural di setiap sudut bangunan, pada bangunan musala juga tidak lepas dari sentuhan kayu. Ornamen kayu sangat menonjol pada bangunan dua lantai tersebut.

Sepanjang mata memandang tanaman rumput hijau terhampar mengelilingi bangunan musalah. Sebagai pemanis, tepat di depan pintu dibariskan lima batu fosil di antara pepohonan. Pemandangan tersebut menambah kenyamanan dan kesan asri pengunjung yang hendak beribadah.

Manajer Taman santap Rumah Kayu, Haris Setiawan mengatakan musala yang dibangun dua lantai dengan ukuran 10 meter persegi itu, sengaja dibuat senyaman mungkin. Sebuah venue dihadirkan dengan menonjolkan nuansa kayu yang dibuat sebagai penutup jendela dengan susunan kayu yang teratur rapi.

"Musala yang lama kami ubah total, selain tempatnya yang kurang memadai, kita buat baru lebih nyaman dan lebih representatif untuk para tamu," kata Aris.

Selain tampak meonjolkan kayu sebagai ornamen, di bagian jendela, pada bagian anak tangga menuju lantai dua juga dihiasi dengan lantai kayu. Sementara pada beberapa sisi dinding tampak menonjolkan kesan alami dan artistik dengan menggunakan dinding batu ekspos alami. Sementara kesan modern tecermin dari pemilihan warna alami pada dinding beton, dengan ornamen kaligrafi yang khas.

Jendela Kayu

Aris menyebut konsep musalah kayu tecermin dari pilihan penutup jendela yang disusun dari potongan-potongan kayu yang menyerupai jeruji. Jendela tersebut mengelilingi sudut musala, terutama pada bagian lantai dua hingga atap. Kesan klasik sangat dominan dari pemilihan ornamen tersebut.

"Lampung cukup punya banyak kayu, selain kita datangkan sendiri dari sekitar Lampung, kami juga banyak memanfaatkan kayu lama yang disimpan dan kami daur ulang," jelas Aris.

Di lantai dua bangunan musala yang dapat menampung 100 jemaah itu, sentuhan kayu bergaya klasik juga muncul dari pemilihan pagar ruangan. Kayu-kayu berwarna cokelat tua tersusun rapi mengilingi bukaan bangunan untuk melihat ke lantai dasar. Tidak hanya kesan nyaman dari desain yang artistik, musalah ini juga terkesan sejuk, meski tidak menggunakan pendingin ruangan.

"Selain atapnya tinggi, ruas-ruas jendela dari kayu yang terbuka memberikan kesan sejuk meski bangunan musala tanpa AC maupun kipas angin," ujar Aris.

 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR