"MURSI berbicara di depan hakim sekitar 20 menit, lalu ia menjadi sangat bersemangat dan pingsan. Dia segera dibawa ke rumah sakit di mana dia kemudian meninggal," kata seorang sumber pengadilan dikutip dari Aljazeera, Senin (17/6/2019).

Begitulah detik-detik terakhir dari hidup Muhammad Mursi. Sulung dari lima bersaudara anak petani miskin asal El Idwah, Mesir Utara, itu pun menghembuskan napasnya yang terakhir. Hidup Mursi benar-benar bak roler coster yang berputar-putar.



Sebagai anak petani miskin, hidup nelangsa jelas pernah ia alami. Dalam beberapa kali waktu ia kerap berkisah bagaimana susahnya menempuh pendidikan. Mursi kecil kerap bersekolah dengan menunggangi keledai, tetapi semangatnya tak pernah surut.

Seperti dituturkan The Guardian, Mursi muda lalu mengenyam pendidikan di Fakultas Teknik Universitas Kairo. Ia sempat bermukim di Amerika Serikat beberapa tahun kala meneruskan studi doktoralnya di California State University, Northridge.

Pada 1985, ia kembali ke Mesir. Mursi pun terjun ke kancah politik. Ia menjabat anggota parlemen Mesir dari 2000 hingga 2005. Tahun 2010 dunia Arab bergejolak. Revolusi terjadi di mana-mana, dimulai dari Tunisia hingga sampai jua di Mesir.

Tahun 2011, Housni Mubarak mundur sebagai presiden Mesir usai terjadi gelombang protes besar besaran atas pemerintahannya. Setelah Mubarak mundur, di tahun yang sama Mursi kemudian mengibarkan bendera Partai Kebebasan dan Keadilan.

Tahun berikutnya menjadi momen bersejarah bagi Mesir dan juga puncak karier politik Mursi. Ia maju sebagai kandidat presiden dalam pemilu Mesir. Ia terpilih menjadi presiden Mesir baru dan pertama kali dari kalangan sipil secara demokratis.

Saat menjadi presiden, Mursi berpidato dan berkomitmen menjadi kepala pemerintahan bagi seluruh rakyat Mesir. Namun, kenyataan berkata lain. Sebagian pengamat menilai ketidakmampuannya memimpin Mesir di saat ekonomi sulit menjadi awal petaka.

Kondisi itu diperkeruh dengan sepak terjangnya yang terlalu sibuk mengurusi stabilitas politik. Mursi bahkan dinilai melancarkan kebijakan-kebijakan yang justru berlawanan dengan semangat demokrasi yang menghantarkannya ke pada kekuasaan.

Akhirnya kekuasan yang ia pegang hanya seumur jagung. Protes besar-besaran atas pemerintahannya lantas kemudian berbuntut kudeta dari kalangan militer. Saat itulah roler coster Mursi menukik tajam. Pekan ini, laju kereta itu terhenti untuk selama lamanya.  

 

EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR