KALIANDA (lampost.co)--"Cucu kesayangan ku direnggut tsunami, Pak". Kalimat itu sering dilontarkan dari mulut nenek dari Azira, korban tsunami, yang melanda Kabupaten Lampung Selatan, Sabtu (22/12/2018). Azira, yang menginjak usia 2,5 tahun itu, merupakan cucu kesayangan Mulyani, warga Desa Way Muli, Kecamatan Rajabasa.

Bagi Mulyani, Azira merupakan salah satu cucu yang disayanginya, sejak lahir sudah bersamanya. Hingga kini wanita yang telah berumur 50 tahun itu masih tidak menyangka akan kehilangan cucu tersayang itu. 



Dengan hati yang berduka, ia menceritakan kejadian saat gelombang besar yang turut menerjang rumah sederhana milik nenek menjanda sejak enam tahun lalu.

Sebelum tsunami datang, Mulyani bersama anak dan cucu berada di dalam rumah kaget setelah mendengar gemuruh ombak yang dahsyat datang secara tiba-tiba mulai memasuki rumahnya. Sejurus kemudian, Mulyani tanpa pikir-pikir lagi langsung berlari menuju dataran tinggi. 

"Malam itu saya sedang memasak di dapur, sedangkan cucu dan ibunya sedang menonton televisi di ruangan tengah. Dari kejauhan saya mendengar suara gemuruh ombak dari arah laut tepat di belakang rumah. Saat saya buka pintu, tiba-tiba tembok belakang roboh dan saya langsung lari ke arah yang lebih tinggi," kata dia. 

Di tengah-tengah ceritanya, Mulyani pun tidak tahan membendung air mata yang teringat kembali nasib cucunya yang telah pergi meninggalkan ia selamanya.

Kesedihannya pun makin larut ketika menceritakan ia baru sadar kala itu cucunya tertinggal di rumah saat air hempasan gelombang menerjang. Sebab, ia tidak menyangka bila ada gelombang kedua yang begitu dahsyat hingga meruntuhkan rumahnya.    

"Di rumah hanya ada saya, Azira, dan ibunya Azira. Sedangkan bapaknya Azira berada di luar daerah, di antara kami hanya Azira yang tidak menyelamatkan diri," kata dia. 

Keesokan harinya setelah tsunami, ia bersama keluarga lainnya mencari Azira. Tidak disangka cucu pertamanya itu ditemukan di bawah tumpukan pohon pisang tepat di belakang rumah dalam kondisi tidak bernyawa. 

"Anak saya Basir yang tinggal di Kalianda ikut mencari Azira. Alhamdulillah ketemu tapi sudah tidak benapas lagi," kata dia seraya meneteskan air matanya. 

Bagi Mulyani, Azira merupakan cucu yang cerdas dan menggemaskan dengan tingkah laku yang lucu dan cerdas, yang membuat keluarga sekeliling menyayanginya.

"Dulu saya sering menanyakan cita-citanya yang ingin menjadi seorang dokter. Tapi, cita-cita itu harus pupus berakhir setelah diterjang tsunami," ujarnya.

BERITA LAINNYA


EDITOR

Winarko

TAGS


KOMENTAR