HARI raya Idul Fitri 1440 Hijriah baru saja umat Islam lalui. Semangat silaturahmi pada suasana Ramadan begitu terasa. Tak hanya masyarakat pedesaan, di perkotaan pun merasakan hal yang sama. Warga saling kunjung mengunjungi, saling maaf memaafkan. Begitulah Islam rahmatan lilalamin atau rahmat bagi seluruh alam.

Budaya mudik sejak dulu hingga saat ini terus dipertahankan. Substansi dari mudik itu tentulah silaturahmi. Sanak famili berkumpul bersama. Tak pandang jauh dekat. Semua berkumpul menuju satu titik temu keluarga. Utamanya bagi mereka yang masih memiliki orang tua. Semua perantau pulang untuk berkumpul di rumah orang tua.



Mereka yang merantau rela menghabiskan waktu berjam-jam di jalan demi berkumpul, berjumpa sanak famili. Ada yang dari pulau Jawa ke Sumatera. Pun sebaliknya. Hari baik lebaran Idul Fitri menjadi momentum yang baik pula untuk jumpa dan bermaaf-maafan. Bukan berarti silaturahmi hanya dilakukan saat lebaran saja.

Ada pesan moral yang dapat diambil dari silaturahmi mudik. Bahwa setiap orang tua sudah pasti merindukan anak-anaknya. Utamanya bagi mereka yang memiliki anak hidup jauh di perantuan. Anak yang dengan susah payah mereka didik dan besarkan. Tak terbayangkan sedihnya, ketika mereka dewasa lupa akan orang tua. Bahkan setahun sekali pun tidak.

Secara tidak langsung, melalui mudik kita pun mengajarkan arti pentingnya keluarga, orang tua pada anak-anak kita. Bahwa kelak mereka dewasa pun mestilah berbakti pada kedua orang tua.

Bukan sebaliknya, anak yang sukses justru semakin disibukan dengan kepentingan pekerjaan. Hingga lupa apa kabar kedua orang tua yang melahirkan dan membesarkannya.

Sebagai wujud bakti pada orang tua, jutaan umat Islam yang hidup di perantuan rela berdesak-desakan untuk pulang ke kampung halaman. Mereka pulang membawa berjuta rindu akan tanah kelahiran. Budaya ini menurut saya sangat lah baik dan mungkin hanya ada di Indonesia. Selamat bagi para pemudik, semoga Allah Azza Wajalla menjaga di perjalanan dan melapangkan rejekinya. Minal aidin walfaidin, mohon maaf lahir dan batin.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR