JAKARTA (Lampost.co)--Salam Terakhir adalah salah satu lagu yang membekas di kalangan penggemar grup brass rock tersohor The Rollies. Lagu ini, yang disebut-sebut punya kisah kelam, diciptakan oleh mendiang drummer-vokalis Iwan Khrisnawan dan dirilis perdana dalam album Let’s Start Again pada 1971.

Liriknya bicara soal patah hati dari seorang lelaki dan memang terasa emosional. Barangkali emosi ini tersalurkan secara kuat dan membuat lagunya mencengkeram dalam benak para penggemar. Saat The Rollies tampil di Bandung pada akhir November 2010 misalnya, seperti dilaporkan Tempo.co, penonton meminta lagu tersebut dibawakan meski Tengku Zulian Iskandar alias Iis bilang mereka enggan. 



Alasan Iis, lagu itu mengingatkan mereka kepada tiga rekan The Rollies yang telah meninggal. Is adalah satu-satunya personel sejak formasi awal tahun 1967 yang kini memainkan instrumen tiup (saksofon/terompet) dan menjadi salah satu vokalis. Namun malam itu pertahanan mereka runtuh juga. Lagu Salam Terakhir dibawakan, tetapi dengan satu baris lirik yang diubah serta disusul tembang We've Got to Live Together supaya "terus hidup bersama".
Seorang penggemar, Elvin Hendratha, pernah menuliskan pemaknaan atas lirik Salam Terakhir dalam blog Kompasiana. Dia mengaitkan proses penciptaan lagu dengan situasi Iwan serta The Rollies saat itu. Dia memberikan tiga asumsi mengenai ungkapan "salam terakhir" dari Iwan. 

Pertama, ketergantungan narkoba yang dihadapi Iwan membuat dia sadar bahwa karier dan hidupnya akan berakhir. Kedua, Iwan dekat dengan banyak perempuan tetapi terjebak dalam satu cinta sejati, yang mana tidak dia dapatkan. Ketiga, lagu ini ungkapan kecewa dan kesendirian Iwan karena sempat merasa teman-teman The Rollies meninggalkan dia, sementara ia sangat butuh dukungan untuk lepas dari jerat narkoba. 

Elvin mengaku dia menyampaikan hal itu ke Oetje Frank Tekol (bassist) pada 19 Maret 2010. Setelah itu, menurut Elvin, The Rollies membawakan Salam Terakhir dengan lirik berbeda setiap kali mereka tampil di panggung musik. 
Bagian lirik yang dimaksud adalah kalimat terakhir dalam bait keempat yang diulang hingga dua kali. Lengkapnya seperti ini: Sampaikan salamku / salam yang terakhir / Semoga kau bahagia / hidup di dunia.
Seorang penggemar lain yang juga kolektor rilisan fisik, Andre, menanyakan soal lagu tersebut dalam satu sesi obrolan bersama The Rollies di Paviliun 28, Jakarta Selatan, pada Maret 2018 lalu. Acara ini diadakan oleh Barry Likumahuwa dan Endah N Rhesa dalam rangka menyambut perilisan album kompilasi Salute The Rollies yang digarap bersama sejumlah musisi muda. 
"Lagu Salam Terakhir kayak sakral banget. Mohon dijelaskan tentang itu," tanya Andre. 
David Tarigan, pegiat arsip musik yang juga ikut dalam obrolan, menangkap maksud Andre. Dia merujuk ke mitos-mitos yang ikut dibicarakan bersama lagu tersebut. Dalam kolom komentar salah satu video lagu ini di YouTube pun, sejumlah orang juga membicarakan soal mitos kematian.
Benny Likumahuwa pun menjelaskan. Benny merupakan salah satu dedengkot grup yang bergabung sejak akhir 1960-an. Dia memberi pengaruh kuat bagi grup ini sehingga musik The Rollies menjadi brass rock seperti kita kenal sekarang. 
"Lagu itu diciptakan oleh Iwan almarhum" jawab Benny.
"Waktu itu dia jatuh cinta ke seseorang, tetapi ditinggal. Nah jadilah lagu itu dibikin. Kami tidak menyangka lagu itu akan bertahan sampai saat ini. Namun belakangan, ada lirik terakhir yang saya ganti karena setiap orang yang menyanyi lagu itu meninggal, rata-rata meninggal. Yang pertama, yang menulis," lanjutnya.

Menurut Benny, sorotan utamanya memang kalimat terakhir yang berbunyi "Semoga kau bahagia hidup di dunia". Benny menganggap bahwa ungkapan itu menyiratkan jarak maut antara si orang pertama (yang menyanyi) dengan orang kedua yang dipamiti. 

"Setiap orang yang menyanyikan lagu itu meninggal. Saya bilang, ganti dulu liriknya. Akhirnya saya ganti liriknya. 'Semoga kau bahagia hidup dengannya'," ungkap Benny. 

Barry, putra Benny yang memimpin proyek tribute album Salute The Rollies, menyatakan bahwa pada awalnya dia hendak memasukkan lagu Salam Terakhir untuk digarap ulang. Namun begitu mendengar kisah tersebut, dia membatalkan rencana. 

"Tadinya lagu ini mau kami masukkan ke Salut The Rollies. Jadi mikir-mikir. Nanti dulu deh," tukas Barry. 

Oetje F Tekol dan Jimmy Manopo dari The Rollies (Foto: Medcom.id/Purba Wirastama)
Grup The Rollies telah memasuki usia 51 pada tahun ini. Setelah mengalami banyak pergantian formasi, kini mereka jalan sembilan personel. Selain Benny, Oetje, dan Iis, ada Jimmy Manopo (drum), Didiet Maruto (terompet), Alfred (vokal), Masri (gitar), Hendro (terompet), dan Nyong Anggoman (kibor). Terakhir mereka tampil di Java Jazz Festival 2018 awal Maret lalu dan masih tampil penuh tenaga.

Proyek album Salute The Rollies diawali Barry sebagai bentuk penghormatan atas kiprah mereka selama 50 tahun dalam kancah musik Indonesia. Barry memilih delapan lagu untuk digarap ulang, yaitu Pahlawan Revolusi, Sunshine Brotherhood, Setangkai Bunga, Hari-hari, Astuti, Bad News, Kemarau, dan Burung Kecil. Musisi yang terlibat adalah Bonita & the hus Band, Adhitia Sofyan & Indra Aziz, Endah N Rhesa, R.I.M.A (grup bentukan Barry), Laid this Nite, TOR, Glenn Fredly, serta Dialog Dini Hari. Rencananya album ini akan dirilis pada April 2018. 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR