DUA sahabat ini saling bercanda. Budi dan Umar adalah teman akrab. Budi dibesarkan di Ibu Kota, sedangkan Umar hanya hidup di desa. Pulang mudik Lebaran, Budi bercerita kepada Umar tentang kehidupan Ibu Kota. “Mar, di Jakarta, banyak sekali jembatan layang dibangun. Ada di Tomang, Cawang, terakhir jembatan di Semanggi. Ini sangat indah,” kata Budi.
Umar yang tidak pernah melihat Jakarta terbengong-bengong mendengar cerita Budi. Dia berpikir, Jakarta sungguh hebat karena banyak sungai di bawah jembatan layang. “Enak dong, Bud. Kalau aku diajak ke Jakarta, kita bisa terjun dan berenang, seperti di jembatan kampung kita ini,” gumam Umar. Dia pun menghayal indahnya Kota Jakarta. Karena banyak sungai mengalir, banyak perahu, dan sorenya warga banyak mandi ke sungai.
Mendengar celoteh Umar seperti itu, Budi sedikit geram. Dia pun langsung bilang tanpa basa-basi. “Mar, saking padatnya kendaraan, Jakarta selalu macet, makanya dibangun banyak jembatan di atasnya alias jalan layang. Jakarta itu tidak banyak sungai seperti di kampung ini,” tegas Budi. Muka Umar dalam sekejap langsung merah dibuatnya. Umar pun berkecil hati.
Tapi, dia tak kehabisan akal agar bisa dikatakan sukses di kampung. Umar menawarkan pekerjaan ke Budi. “Bro, ada proyek yang harus dikerjakan di kampung kita ini. Biayanya dari dana desa. Mau, ndak?” kata Umar. “Proyek apa sih?” balas Budi. “Jembatan,” kata Umar. Tawaran itu diterima Budi, karena wajar ia seorang pengusaha yang banyak membangun jalan dan jembatan. Umar tak ragu sedikit pun menawarkan pekerjaan itu ke Budi.
Selang beberapa pekan dari pertemuan itu, Budi tertidur lelap di atas kursi di ruang kantornya di Ibu Kota karena kelelahan. Sahabat Umar satu ini memang gila kerja. Tak ingat waktu. Siang dan malam bekerja memikirkan agar proyek diselesaikan tepat waktu, karena memang ditunggu-tunggu warga. Dalam tidurnya, Budi bermimpi didatangi kawan akrabnya satu kampung bernama Amir. Diketahui, Amir sudah lama meninggal dunia.
Amir adalah salah satu patner bisnis kotraktor Budi dalam perantauan di Ibu Kota. “Bud, jangan kau ditolak tawaran Umar. Lumayan lo, kamu bisa bantu dia. Kan Umar dapat fee dari proyek jembatan kampung kita,” ucap Amir dalam mimpi Budi. “Mir, mana pernah aku nolak pekerjaan, apalagi ingin membangun kampung halaman,” jawab Budi.
“Sudah geh, Mir. Gua yang beresin. Pokoknya kalau berhasil, Umar pasti dapat keuntungan,“ kata Budi. “Ini ada lagi yang nawarin bangun jembatan, Bud. Tapi, janji dulu. Kalau nego berhasil dan jembatan selesai dibangun, tolong ajak aku menyeberang sampai ke ujung jembatannya," kata Amir. Hanya itu permintaan Amir kepada temannya—Budi dinilainya sudah sukses membangun banyak jembatan dan jalan di Ibu Kota.
"Bud, aku kasih tahu, ya. Dana pembangunan jembatan triliunan rupiah seperti membangun jembatan di atas lautlah. Nama jembatannya, shirathal mustaqim. Syarat utamanya, kamu harus meninggal dulu, baru bisa ikut tender membangun jembatan tersebut. Hihihi...,” ucap Amir.
Budi terjaga dari tidurnya. Dia baru sadar bahwa Amir, rekan bisnisnya, sudah lama meninggal dunia karena serangan jantung, terlilit utang proyek.  

***



Terbangun dari tidurnya, tidak hanya ketemu Amir dalam mimpinya, tapi juga disebabkan oleh telepon genggam Budi berdering dari saku bajunya. Dilihatnya Umar menelepon. “Halo, Bud. Apa kabar?” kata Umar. “Baik, Bro,” jawab Budi. “Kebenaran aku mau cerita, barusan saya mimpi, Amir menawarkan proyek jembatan. Ternyata yang mau dibangun itu jembatan shirathal mustaqim,” kata Budi tertawa lebar.
“Bro, soal itu ada cerita lain di sana,” kata Umar. “Mau dengar, ndak?” suara Umar dari teleponnya. Begini kisahnya, kata Umar kepada Budi. Malaikat mengumpulkan semua penghuni surga dan neraka agar bisa gotong-royong membangun jembatan shirathal mustaqim. Permintaan malaikat itu oleh disanggupi penghuni surga dan neraka. “Kami siap membangunnya,” kata mereka dengan jawaban yang serentak.
Belakangan, penghuni neraka dengan bangga menunjukkan ke malaikat bahwa mereka sudah separuh membangun jembatan. Separuhnya lagi jadi tanggung jawab penghuni surga. Setelah ditanya, mengapa separuhnya lagi tak bisa dibangun—dari hasil kesepakatan? Apa yang dikatakan penghuni surga itu kepada malaikat?  “Bagaimana mau membangun jembatan? Kontraktornya saja pada di neraka semua. Di surga ini tidak ada ahli yang membangun jembatan,” jawab penghuni surga. Malaikat pun terdiam!
Mendengar cerita Umar dari ujung teleponnya, Budi baru tersentak sadarkan diri bahwa ada makna tersirat dari kisah mimpi dan cerita Umar tadi. Ternyata membangun sebuah kehidupan, dicontohkan dari banyak sungai di bawah jembatan di Ibu Kota hingga jembatan shirathal mustaqim. Pelajaran berharga bagi seorang Budi sebagai pengusaha sukses dibanding sahabat karibnya, Umar dan Amir.
Membangun jembatan shirathal mustaqim tidak segampang Jembatan Kelok Sembilan Padang atau Jembatan Ampera Palembang yang dibangun pada tahun 1960-an. Harus ikhlas, transparan, dan tidak culas! Kedua jembatan itu sangat unik dibangun di eranya. Jembatan Kelok Sembilan berdiri antara perbukitan dan Ampera di atas sungai. Buat takjub bagi yang melihatnya.
Cerita dan mimpi dari Umar dan Amir, hanyalah ingin mengingatkan -- mengusik sepenggal kehidupan Budi. Dia menyadarkan sahabat sekampung agar hidupnya lebih tawaduk. Bagaikan tanaman padi; buahnya kian berisi kian merunduk. Sadar dari mana berasal dan mau ke mana kembali. Mulai dari pangkal jembatan ia berjalan dan berakhir di ujung jembatan. Seperti cerita mimpi Budi terhadap Amir. Terbatas oleh ruang dan waktu. Itulah kehidupan anak manusia! ***

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR