LINGKUNGAN memberi pengaruh bagi keberlangsungan makhluk hidup. Sebab itu, kelestarian lingkungan menjadi kebutuhan yang wajib dipenuhi. Sebagai provinsi yang memiliki banyak sungai, harus ada perhatian khusus terhadap kelestarian lingkungannya. Di Kota Bandar Lampung saja ada 23 aliran sungai. Mirisnya, sungai-sungai yang sebagian bermuara ke Teluk Lampung itu dalam kondisi memprihatinkan. Sampah plastik yang menumpuk hingga pencemaran air akibat limbah rumah tangga, industri, dan rumah sakit menyebabkan air keruh, berubah warna, dan berbau. 

Belum lagi, limbah tambang-tambang liar di pesisir Lampung Selatan, Bandar Lampung, Pesawaran, dan Tanggamus yang dibuang melalui aliran sungai. Akibatnya terjadi pencemaran merkuri di Teluk Lampung. Bukan hanya sampah dan limbah yang menyebabkan pendangkalan sungai, keberadaan bangunan-bangunan baru yang tidak memperhatikan garis sempadan sungai juga menyebabkan penyempitan daerah aliran sungai. Hal itu berdampak keringnya sungai di musim kemarau, dan kondisi terbalik saat musim hujan. Di mana sungai tidak sanggup lagi menampung debit air yang tinggi, sehingga menyebabkan banjir. Tidak heran jika pada musim hujan, banjir terus terjadi seperti di Lampung Utara, Lampung Tengah, Tulangbawang, dan Lampung Selatan.



Miris lagi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menginventarisasi jumlah mata air di Indonesia mencapai 10.321. Dalam kurun waktu 10 tahun, 20 hingga 40% mata air di Indonesia mengering dan hilang disebabkan degradasi daerah tangkapan air. Jika kondisi ini dibiarkan, generasi mendatang dipastikan kesulitan mendapatkan air bersih. Bahkan sejak 1989, Pemerintah Pusat sudah mencanangkan Program Kali Bersih (Prokasih) yang kegiatannya dilaksanakan di daerah oleh pemerintah provinsi dan kabupaten/kota. Tujuan program ini meningkatkan kualitas air sungai sehingga memenuhi fungsi peruntukannya. Pelaksanaan program ini telah diperbarui pada 2003 melalui penandatanganan Surat Pernyataan Program Kali Bersih (Superkasih). Tapi program ini hanya sekadar jargon. Nyatanya, kondisi sungai-sungai makin buruk.

Di Bandar Lampung, aliran beberapa sungai dalam kondisi tercemar. Seperti aliran sungai di Jalan Dr Harun II, Gang H Agus Salim I, Kotabaru, Tanjungkarang Timur; sungai di Jalan Narada, Jagabaya II, Sukabumi, Bandar Lampung, dan sungai di Jalan Hanoman, Jagabaya I, Way Halim, Bandar Lampung. Program normalisasi sungai juga tidak berjalan mulus. Padahal, anggaran kegiatan ini tidaklah kecil. Pemerintah Kota Bandar Lampung menganggarkan Rp6 miliar untuk pelaksanaan normalisasi sungai. Di samping itu, normalisasi sungai bukanlah jalan keluar utama untuk menjadikan sungai bersih. Pemerintah harus memulai dari akarnya. Kegiatan manusia yang menyebabkan pencemaran sungailah yang harus diantisipasi. 

Dibutuhkan sosialisasi terus menerus mengenai kondisi lingkungan dan pentingnya menjaga kebersihan. Pengelolaan limbah rumah tangga, pemisahan sampah, pengolahan dan daur ulang sampah, termasuk limbah rumah sakit untuk mengurangi pencemaran lingkungan. Jika masyarakat sudah menyadari pentingnya menjaga kebersihan sungai,  permasalahan sampah di aliran air ini tentu bisa diatasi.

loading...

EDITOR

Abdul Gofur

TAGS


KOMENTAR