LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 12 July
1661

Tags

LAMPUNG POST | Mewaspadai Gerakan ISIS
Waspada ISIS. medansatu.com

Mewaspadai Gerakan ISIS

SEBAGAI gerakan garis keras, kehadiran ISIS di Indonesia patut menjadi perhatian agar tidak sampai menarik minat kalangan generasi muda untuk bergabung dengan kelompok ini. Target ISIS untuk merekrut kalangan generasi muda atau mahasiswa menjadi pola baru dalam perekrutan anggota mereka yang berusaha menancapkan ideologi radikal sebagai basis gerakan. Kita memang perlu mencermati bagaimana kelompok ISIS meyakini orang untuk bergabung menjadi pengikutnya. Apa yang sebenarnya menjadi magnet atau daya tarik ideologi mereka sehingga banyak kalangan generasi muda di berbagai belahan dunia bergabung secara sukarela untuk mengobarkan jihad yang mereka usung?
Pertanyaan di atas sebagai bagian dari upaya mewaspadai setiap gerakan radikal yang mencoba merekrut kalangan anak muda. Adanya model baru dalam perekrutan kelompok ISIS perlu diwaspadai segenap aparat yang berwajib agar generasi kita tidak sampai tergiur dengan romantisme yang mereka tawarkan. Orientasi ideologi yang dibawa ISIS, semisal romantisme perlawanan terhadap ketidakadilan global, Islamophobia, dan semangat jihad dalam spirit Islam, merupakan beberapa tujuan yang hendak dicapai.
Sebagai isu yang sangat sensitif di masyarakat, gerakan ISIS tidak ubahnya seperti hantu yang sangat menakutkan bagi masyarakat di seluruh dunia. Seperti hantu karena menebarkan ancaman dan ketakutan luar biasa bagi kedamaian dunia. Gerakan radikal ISIS bagi mereka tidak hanya menyangkut ketakutan terhadap hilangnya nyawa, namun juga berkaitan dengan tekanan psikologis yang diakibatkan oleh teror yang menakutkan itu.

Cuci Otak

Dari sisi psikologis, gerakan radikal yang diusung ISIS adalah bentuk kejahatan kemanusiaan yang perlu ditumpas keberadaannya. Pola perekrutan kelompok ISIS pun perlu diwaspadai, karena sudah menyasar pada kalangan generasi muda yang masih dalam kondisi labil sehingga sangat mudah termakan rayuan atau iming-iming masuk surga. Ada berbagai motivasi yang dapat membuat seseorang terlibat dalam gerakan radikal, seperti kelompok ISIS.
Semisal, dari sekadar ikut-ikutan (tanpa mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi) sampai jihad ekstrem yang rela mengorbankan jiwa bagi kemenangan agama. Terlepas dari perbedaan motivasi itu, terdapat kesamaan di antara para pelakunya. Mereka ingin memperbaiki keadaan yang mereka anggap tidak adil dan tidak sejalan dengan ajaran Islam. Pemerintah pada umumnya dituduh tidak adil pada Islam. Dan, cara mereka menjalankan negara dinilai tidak islami (Sarlito Wirawan Sarwono, 2012).
Orang-orang yang terlibat dalam gerakan ISIS memang ada kecenderungan untuk melakukan tindakan radikal sebagai tujuan mulia. Mereka mungkin dicekoki dengan proses indoktrinasi sampai pencucian otak (brain washing) sehingga sangat mudah tertarik untuk menjadi pengikutnya. Sesungguhnya, tidak ada orang yang sejak kecil lahir radikal, melainkan ia tumbuh dari pengalaman, pengasuhan, dan pendidikan orang tua. Perilaku seseorang yang terlibat dalam gerakan radikal, bisa dirubah, dikurangi, dan bahkan dihilangkan, asalkan ada penanaman keislaman secara holistik.

Ideologi Pancasila

Ruang gerak dan perekrutan kelompok ISIS ini harus segera dibatasi karena sangat berbahaya bagi eksistensi ideologi Pancasila sebagai dasar negara yang sudah final. Pemerintah perlu merapatkan barisan untuk mencegah kebocoran pelarian WNI ke luar negeri dengan maksud bergabung dengan kelompok ISIS. Hal ini menjadi seruan penting bagi masyarakat agar berhati-hati terhadap setiap gerakan radikal sekaligus transnasional yang mencoba masuk ke Indonesia.
Kita tidak bisa membayangkan bahwa ideologi bisa diekspor melalui berbagai jalur, dari mulai yang radikal ataupun moderat. Radikal-bisa melalui teror, serangan militer, embargo, moderat (halus) bisa berupa promosi media massa, buku-buku, dan propaganda. Dalam skala global, pemerintah berupaya memblokade ideologi yang bukan berasal dari kepribadian bangsa. Ideologi yang tidak sesuai dengan sosio-historis bangsa, melainkan dari jazirah timur tengah yang berbeda karakter dan tradisi.
Ruang gerakan kelompok ISIS sebisa mungkin dibatasi oleh intelijen negara agar kalangan muda tidak tergiur dengan rayuan dan romantisme pengantin surga. Di sini pentingnya pemantapan ideologi Pancasila sebagai ideologi yang sudah final dan tidak bisa diganggu gugat lagi. Bagi Indonesia, Pancasila bukanlah ideologi transisi yang terpaksa diterima karena keadaan politik belum memungkinkan untuk menegakkan ideologi definitif, ideologi Islam misalnya. Akan tetapi, Pancasila memang memiliki platform yang sama sebagai sebuah falsafah negara yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam.
Kita tidak ingin ideologi radikal merasuki kalangan generasi muda yang mudah tergoyah karena romantisme jihad yang dikobarkan kelompok ISIS. Sungguh suatu hal yang ironis, bila pada akhirnya ideologi transnasional, seperti ISIS tumbuh subur di tengah-tengah kehidupan umat. Untuk itulah, kita perlu memberikan pengawasan yang ketat terhadap kelompok Islam radikal yang mengadopsi gerakan ideologi transnasional sehingga tidak mengganggu stabilitas politik nasional ke depan. Mengingat gencarnya gerakan radikal yang mengatasnamakan Islam, maka segenap elemen bangsa perlu memantapkan kembali ideologi pancasila sebagai pedoman utama.

Generasi Muda

Gerakan radikal yang berupaya mencampuradukkan atau menyulut api kemarahan umat Islam harus dipandang sebagai sebagai kejahatan ideologi yang hendak merusak pola pikir dan paradigma masyarakat kita yang mudah terbuai oleh iming-iming kapitalisme global. Jangan sampai gerakan radikal, seperti ISIS, leluasa melakukan perekrutan anggota yang berasal dari kalangan generasi muda. Hal ini bisa jadi akan semakin menular ke kelompok masyarakat yang tidak suka dengan alam demokrasi di Indonesia.
Dengan pemantapan ideologi Pancasila sebagai falsafah negara, kita bisa menangkis dan membendung merajalelanya berbagai macam ideologi yang berusaha merusak ideologi kita yang sudah final. Jika ada sekelompok masyarakat yang tidak menginginkan Pancasila sebagai ideologi negara, berarti mereka dianggap sebagai pemberontak yang harus ditumpas dan sebisa mungkin dicegah penyebaran ideologi tersebut.

BAGIKAN


BERITA TERBARU

REKOMENDASI

  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv