JAKARTA (Lampost.co)---Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) yang dibangun pada 1962 kini berwajah baru. Tampilan luar bangunan nyaris tidak ada perubahan. Namun, jangan kaget saat melihat bagian dalamnya yang berstandar bintang lima FIFA.

SUGBK merupakan cagar budaya yang dilindungi sehingga pemugaran hanya bisa dilakukan dengan syarat mempertahankan ciri khas bangunannya. "Ini bangunan heritage, jadi renovasinya tidak ekstrem," kata Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pelaksanaan Penataan Bangunan Strategis 2 Ditjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera) Kusworo Darpito, beberapa waktu lalu.
Lalu, apa saja yang baru? SUGBK memiliki kursi lipat singgel di tribun penonton. Kursi ini berubah dari sebelumnya berupa bangku kayu panjang, membuat kapasitas tempat duduk menyusut dari 80 ribu menjadi 76 ribu orang.
Setiap kursi mampu menahan beban 250 kg dan sulit ditarik sehingga bisa menghindari vandalisme. Mekanisme lipatnya sederhana bisa cepat menghasilkan lorong untuk penonton lewat sehingga bila terjadi kondisi darurat, stadion dapat dikosongkan hanya dalam waktu 15 menit.
Kombinasi warna merah, putih, dan abu-abu pada puluhan ribu kursi ditata sedemikian yang bisa dilihat dari tribun seberangnya. "Desainnya menciptakan ilusi lilitan bendera Merah Putih mengelilingi stadion," kata Kusworo.
Pencahayaan yang digunakan berkualitas high definition (HD). Bukan sekadar penerangan pertandingan pada malam hari, melainkan juga menciptakan efek cahaya mewah di eksterior gedung. Meski tata cahaya berkekuatan 3.500 lux itu tiga kali lebih besar dibanding yang lama, konsumsi listriknya malah 50% lebih hemat.
Hebatnya lagi sudah terintegrasi dengan sistem tata suara 80 ribu watt PMPO yang bisa membuat efek lebih dramatis ketika Indonesia Raya dinyanyikan bersama oleh puluhan ribu penonton yang memenuhi seluruh tribun. "Ini standar bintang lima FIFA. Ada 600 titik lampu yang sudah terintegrasi dengan sound system dan bisa mengikuti irama," ujar Kusworo.
Fasilitas berikutnya yang menuai decak kagum yakni SUGBK memiliki CCTV di berbagai tempat. Kamera pemantau kualitas 7K itu mampu mendeteksi wajah pelaku kejahatan yang membaur dengan ribuan penonton.
Sistem identifikasi jutaan footage-nya terhubung database Badan Nasional Penanggulangan Terorisme. Hal itu dipakai seluruh stadion kelas dunia dengan menerapkan deteksi wajah penonton sebagai bagian dari sistem keamanan.
Berikutnya adalah hamparan rumput SUGBK yang berjenis zoysia matrella. Rumput itu kelas satu standar FIFA. Ada pula sistem drainase di bawah rumput yang mencegah lapangan banjir.
Bila digunakan sebagai tempat konser musik atau lainnya, rumput tidak perlu digulung. Cukup diselimuti dengan mekanisme yang canggih. "Orang menyebutnya rumput Manila karena pertama ditemukannya di Manila," ujar Kusworo.
Salah satu detail yang dipertahankan adalah penunjuk waktu analog dari Seiko yang ada di papan skor digital berukuran 16 X 6 meter. Keberadaan papan skor di tribun barat dan timur itulah yang menguatkan kesan retro interior stadion.
"Papan skor ini termasuk heritage. Layarnya kami ganti tapi dudukannya semua asli. Jadi memodernisasikan tanpa mengubah aslinya sesuai UU Cagar Budaya," kata Kusworo.
 



 

EDITOR

Iyar Jarkasih

TAGS


KOMENTAR