TAK terasa sepekan lebih Ramadan 1440 Hijriah (2019 Masehi) telah berlalu. Semangat Syawal disambut dengan suka cita yang diawali dengan Lebaran Idulfitri, kembali kepada fitrah usai ditempa Ramadan.

Ramadan sungguh sesuatu yang dinanti umat muslim untuk mengasah keimanan, setelah 11 bulan berlalu, mungkin dengan lewat begitu saja. Wajar jika banyak umat muslim merindukan Ramadan segera kembali.



Mengapa merindukan? Karena Ramadan sarat makna dan membuat kita mampu menahan emosi, hawa nafsu, sifat egois, keserakahan, ketidakjujuran, menahan haus serta lapar, dan mengajari untuk saling berbagai dan berempati terhadap sesama.

Ramadan juga dimaknai dengan menunjukkan prestasi kinerja dan kesalehan individual serta sosial. Jadi, boleh dibilang jika Ramadan adalah bulan yang komplet bagi penyempurnaan insan di hadapan Sang Khalik maupun dalam kehidupan di dunia.

Bahkan, merujuk pada beragam sumber, banyak sekali makna yang ada dalam Ramadan. Pertama, sebagai bulannya Alquran, karena pada bulan inilah Alquran pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Selain itu, kitab-kitab suci yang lain, Zabur, Taurat, dan Injil, juga diturunkan pada bulan yang sama.

Kedua, syahr al-shiyam (bulan puasa wajib), karena hanya Ramadan merupakan bulan saat umat muslim diwajibkan berpuasa selama sebulan penuh. Dan, Ramadhan satu-satunya nama bulan yang disebut dalam Alquran (QS Al-Baqarah [2]: 185).

Ketiga, bulan membaca Alquran, karena pada bulan ini Jibril as menemui Nabi saw untuk melakukan tadarus Alquran bersama Nabi dari awal hingga akhir. Keempat, syahr al-rahmah (bulan penuh limpahan rahmat dari Allah swt), karena Allah menurunkan aneka rahmat yang tidak dijumpai di luar Ramadan. Pintu-pintu kebaikan yang mengantarkan kepada surga dibuka lebar-lebar.

Kelima, syahr al-najat yakni bulan pembebasan dari siksa neraka. Allah menjanjikan pengampunan dosa-dosa dan pembebasan diri dari siksa api neraka bagi yang berpuasa karena iman dan semata-mata mengharap rida-Nya.

Keenam, bulan kedermawanan, karena bulan ini umat Islam dianjurkan banyak bersedekah, terutama untuk meringankan beban fakir dan miskin. Rasulullah memberi keteladanan terbaik sebagai orang yang paling dermawan pada bulan suci.

Ketujuh, bulan kesabaran, karena puasa melatih seseorang untuk bersikap dan berperilaku sabar, berjiwa besar, dan tahan ujian. Allah melipatgandakan pahala bagi orang berpuasa serta bulan yang berujung dengan hari raya.

Usai Ramadan juga merupakan ujian bagi umat muslim untuk belajar istikamah, melanjutkan terhadap apa-apa yang baik selama Ramadan. Sarat makna itu membuat banyak dari kita amat merindukannya dan berharap bisa berjumpa lagi di Ramadan tahun depan.

 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR