DITANGKAPNYA tiga terduga teroris di kampus Universitas Riau (Unri) Sabtu (2/6/2018), mengingatkan hasil penelitian BIN bahwa 39% mahasiswa di sejumlah perguruan tinggi terpapar paham radikalisme. Besarnya persentase itu membuat tidak mudah untuk membersihkan atau mengeliminasi paham radikalisme dari kampus.

Langkah paling tepat mungkin meredamnya, mencegah agar tidak berkembang dan beregenerasi.



Mengapa bukan tindakan pembersihan atau eliminasi sapu bersih yang ditempuh? Karena kedua jenis tindakan keras itu akan melalui diagnosis keterpaparan orang per orang, sehingga berujung pada tindakan formal terhadap individu-individu yang bisa merugikan banyak orang yang diagnosisnya terpapar.

Jadi beda dengan terpapar penyakit menular seperti ebola, orang yang diagnosisnya terpapar harus diisolasi dalam karantina agar tidak menular kepada orang lain. Sedang untuk orang terpapar ideologi atau paham radilakisme ini, tidak mungkin dikarantina. Bayangkan, 39% mahasiswa yang terpapar. Mengarantina mahasiswa sebanyak itu bisa jadi seperti mengisolasi "Golongan C" orang terpapar ideologi G30S/PKI dahulu. Untuk zaman now, jelas pengisolasian seperti itu amat tidak relevan.

Di sisi lain, berbagai metode deradikalisasi yang dipakai Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) agaknya perlu dibedah ulang, dicari kelemahannya kenapa paham radikalisme justru merebak subur di kampus, mencapai 39% populasi mahasiswa. Selanjutnya diintrodusir metode deradikalisasi yang lebih efektif menyadarkan mereka yang sempat terpapar untuk kembali ke jalan yang benar.

Namun, tetap harus disadari tidak akan ada sebuah metode sapu jagat, sekali jalan beres semua. Selain jenjang tahapan sosialisasi penyadarannya disiapkan, kemungkinan terapi terhadap perlawanan (resistensi) terhadap metode penyadaran yang ada harus diantisipasi. Pada tahap resisten inilah diagnosis personal dan penanganan khusus secara individual dilakukan. Tapi hampir bisa dipastikan, jumlah "pasien" resisten yang dihadapi tidak masif lagi, bahkan bisa cuma berbilang gelintir orang.

Terpenting, “infeksi” paham radikalisme pada yang terpapar itu telah menjadikan ideologi radikalisme sebagai “tesis” dalam struktur berpikir mereka. Deradikalisasi, dengan demikian, harus berdasar pada “antitesis” pemikiran tersebut, suatu narasi yang membuat radikalisme menjadi basi dan busuk dalam pandangan mereka, sehingga mereka pilih sendiri “antitesis” itu sebagai jalan hidup yang baru.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR