HARI Raya Iduladha merupakan salah satu hari penting umat Islam. Banyak hikmah yang dapat dipetik menjadi nilai-nilai kehidupan dalam berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di balik Hari Raya Haji itu.

Tahun ini ada perbedaan waktu perayaan Iduladha di Indonesia dan beberapa negera Islam yang lain. Pemerintah Arab Saudi misalnya, menetapkan Idulkurban pada 21 Agustus, sementara pemerintah kita memutuskan pada 22 Agustus. Perbedaan hari ini perlu disikapi bijak sehingga tidak mengurangi kekhidmatan ibadah.



Sebelum merayakan Iduladha yang jatuh pada 10 Zulhijah, jemaah haji di Tanah Suci melakukan wukuf di Padang Arafah. Ada sekitar tiga jutaan umat muslim dunia yang berkumpul di padang tandus guna menjalani tahapan ibadah haji. Mereka semua memakai pakaian serbaputih dan tidak berjahit.

Itu melambangkan persamaan status dan pandangan hidup. Tidak ada yang membedakan mereka. Semuanya sederajat. Sama-sama mendekatkan diri pada Tuhan.

Kita berharap semua jemaah haji yang melaksanakan badah haji tetap sehat dan bisa pulang dengan selamat hingga Tanah Air. Jumlah jemaah asal Indonesia mencapai 221 ribu orang, sementara Lampung sebanyak tujuh ribuan jemaah.

Tentu kepulangan jemaah haji ini bisa membawa kebaikan bersama. Para umat Islam yang menyelesaikan ibadahnya bisa menjadi haji yang mabrur dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi di lingkungan sekitar.

Makna lain dari Iduladha adalah berkurban. Semua umat Islam pada hari itu diberi kesempatan untuk lebih mendekatkan diri pada Yang Maha Pencipta. Semangat berkurban inilah yang sejatinya bisa dijalani oleh umat. Seperti yang tergambar pada kisah pengorbanan Ismail oleh sang ayah, Ibrahim.

Ismail rela dan ikhlas menerima perintah menjadi kurban. Ibrahim pun dengan tegar menjalankan perintah Sang Pencipta, meskipun ia sangat mencintai anaknya. Keduanya mampu menjadi teladan dalam melawan hasrat pribadi demi menjalankan perintah mulia Tuhannya.

Berkurban bukan hanya sekadar simbol menyembelih hewan kurban dan membagi-bagikan dagingnya kepada fakir miskin, kepada sesama yang membutuhkan. Dalam konteks yang lebih luas, berkurban ialah kesediaan untuk mengerem syahwat kerakusan dan menghilangkan nafsu keserakahan.

Dengan kata lain, Idulkurban mesti dimaknai dengan kesediaan untuk mengorbankan semua ego diri demi kepentingan yang jauh lebih besar. Kurban seharusnya juga dimanfaatkan sebagai momentum untuk menyembelih juga sifat hewani dalam diri kita.

Jikalau ini dapat dimaknai dalam kehidupan sehari-hari. Bangsa ini tentulah jauh dari praktik korupsi. Jikalau rasa takut kepada Tuhan itu benar-benar menyatu dalam umat, niat untuk menilap harta yang bukan haknya pun tidak akan ada.

Pada tahun politik ini, umat harus mampu menahan diri mengorbankan ego. Jangan sampai terjebak politik kotor hingga terpecah dan tercerai-berai. Berpolitiklah dengan penuh keadaban tanpa berusaha menistakan lawan.

Momentum Iduladha perlu diarahkan agar semua umat memelihara sikap bersedia berkorban untuk kebaikan bersama. Dengan modal itulah republik ini beranjak maju meninggalkan kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR