KOPI merupakan produk unggulan Lampung. Sejarah menunjukkan Bumi Ruwa Jurai ini dikenal sebagai salah satu produsen kopi terbaik di Tanah Air.

Bukan hanya di Indonesia, dunia internasional juga mengakui kenikmatan kopi lampung, khususnya kopi robusta dari Lampung Barat (Lambar). Namun, produksi kopi lampung dari tahun ke tahun makin turun. Menyambut Festival Kopi Lampung yang akan dihelat dalam waktu dekat, saatnya provinsi di ujung gerbang Sumatera ini mesti berbenah.



Festival ini sedianya mengundang Presiden dengan target minimal menghadirkan menteri terkait. Kegiatan itu akan dipusatkan di kampung kopi Pekon Rigisjaya dan Pekon Gunungterang, Kecamatan Airhitam, Lampung Barat, pada 21—23 Juli. Festival ini akan mempromosikan dan menegaskan kembali kopi lambar kepada masyarakat di Tanah Air hingga internasional.

Lampung memiliki 160.876 hektare lahan kopi dengan produksi 110.122 ton/tahun. Produktivitasnya mencapai 790 kg/ha. Lampung juga menjadi pengekspor kopi terbesar, rata-rata 70% total ekspor kopi nasional dari Pelabuhan Panjang dengan melibatkan 230 ribu keluarga petani kopi.

Lambar bahkan dikenal sebagai kawasan kopi nasional yang ditetapkan dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 46/KPTS/PD.300/1/2015 pada 16 Januari 2015. Namun, kejayaan kopi lambar ini tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan petani kopi di sana.

Berbagai upaya telah dilakukan Pemprov Lampung dan Pemkab Lambar untuk meningkatkan dan mengembalikan kejayaan kopi lampung. Oktober tahun lalu, Gubernur Muhammad Ridho Ficardo saat Hari Kopi Internasional (International Coffee Day) mempromosikan kopi fine robusta yang dihasilkan petani di sentra kopi Sumberjaya, Way Tenong, dan Airhitam, Lambar sebagai kopi spesial khas Lampung.

Sebelumnya, Pemprov juga menggelar Lampung Coffee Festival (Lacofest) dengan target meningkatkan branding kopi lampung. Selain itu, ada Coffee Bussiness Meeting yang salah satu acaranya berkunjung ke kebun Nestle di Tanggamus. Artinya, tidak kurang-kurang promosi yang gencar dilakukan Pemprov. Di Lambar, Pemkab juga menyalurkan bantuan pupuk NPK nonsubsidi untuk 650 petani kopi yang tidak mampu. Hal itu dilakukan untuk meningkatkan produksi.

Pemprov dan unsur pengusaha seperti Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Lampung harus bersinergi menyejahterakan petani kopi lampung. Misalnya, melalui sistem kelembagaan petani serta pemberdayaan kelompok tani agar mereka memiliki posisi tawar yang kuat melalui tata niaga yang efektif. Selain itu, harus ada pembinaan dan pelatihan serta bantuan bibit untuk menentukan cita rasa kopi yang baik serta usaha nyata mendongkrak produksi.

Semua pihak dari unsur pemerintah, petani kopi, asosiasi, dan pengusaha harus bahu-membahu meningkatkan produksi kopi lampung. Penyediaan bibit unggul untuk peremajaan mutlak diperlukan. Produktivitas kopi juga harus mencukupi pasokan untuk provinsi dan siap dikirim ke luar daerah. Pengembangan kopi harus terus digalakkan agar pamor Lampung sebagai penghasil kopi tidak hilang ditelan zaman. 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR