RAMADAN sudah berada di ujung. Tanggal 1 Syawal segera menjemput menandai datangnya Idulfitri, ketika umat manusia meraih kemenangan dan kembali kepada fitrahnya.

Satu bulan menahan lapar dan dahaga serta melawan nafsu keduniawian—iri, dengki, kikir, dan fitnah—kini saatnya jiwa-jiwa menjadi bersih pada hari yang fitri.



Lebaran yang kental dengan tradisi mudik ke kampung halaman untuk bersilaturahmi pun, saat ini terasa sudah lebih mumpuni persiapannya oleh pemerintah. Kita mengapresiasi komitmen pemerintah yang terus membenahi manajemen mudik agar prosesi mudik aman dan lancar.

Tahun ini tol Sumatera pun sudah bisa dilalui jalur mudik mesikpun hanya fungsional di beberapa ruas. Sementara di Jawa, dari 759 km tol Jakarta—Surabaya, sepanjang 524 km telah terhubung dan siap digunakan. Sisanya, 235 km, masih bersifat fungsional, tapi dapat dilintasi dengan kecepatan tertentu. Tujuannya tidak lain agar mudik lebih lancar dan amat tanpa kemacetan berarti.

Hal ini juga disumbang dengan adanya cuti bersama oleh pemerintah, sehingga pemudik bisa memilih waktu dan tak terjadi penumpukan di hari-hari tertentu menjelang Lebaran.

Ada yang berbeda dengan Ramadan dan Idulfitri yang telah menyatu dalam kehidupan sosial budaya masyarakat kali ini karena keduanya bertepatan dengan tahun politik 2018. Usai Lebaran, masyarakat Lampung akan melaksanakan agenda besar pesta demokrasi, pemilihan calon gubernur dan wakil gubernur Lampung dan pemilihan kepala daerah di Kabupaten Tanggamus dan Lampung Utara, tepatnya pada 27 Juni 2018.

Kian rapatnya waktu pemilihan membuat kompetisi politik menjadi sengit. Langkah-langkah tidak sepatutnya pun banyak dipilih oleh masing-masing tim sukses demi mendongkrak elektabilitas atau tingkat keterpilihan calon. Kampanye hitam, kampanye uang, hingga berita-berita hoaks, mewarnai perpolitikan di Bumi Ruwa Jurai belakangan ini. Kegaduhan demi kegaduhan dianggap sebagai keniscayaan politik dan keadaan itu harus diubah. Ramadan sebagai pencucian diri manifestasi ke arah individu dan populasi yang lebih paripurna, harusnya dimanfaatkan betul oleh setiap insan.

Berlomba mencari simpati masyarakat atau konstituen adalah hal lumrah dalam gelaran pemilihan. Tetapi semua itu harus dilakukan secara santun dan bermartabat, bukan sebaliknya. Yang patut diingat adalah bahwa pemilih kita saat ini sudah lebih cerdas dalam menentukan calon pilihan pemimpin mereka.

Pesta demokrasi harus dijaga agar jangan sampai memecah belah persatuan dan kesatuan di masyarakat. Pasangan calon harus siap untuk bertempur dengan cara apik dan elegan serta bersiap untuk menerima hasil pemilihan nanti. Ini sama seperti melaksanakan Ramadan yang bertempur selama sebulan penuh, kemudian bermuara pada kemenangan pada hari yang fitri. Kemenangan dan kekalahan hanya bisa kita ketahui dari dalam diri sendiri. Sementara kemenangan pemilihan disumbang dari banyak faktor, termasuk niat yang baik dan jalan yang benar dalam meraih elektabilitas.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR