JEMARI Jaka meraba rangkaian kabel warna warni yang mengalirkan daya ke seluruh lini robot selam rancangannya. Dahinya mengernyit, menyigi kebocoran robot selam yang tengah berada di kolam renang Universitas Lampung, sekitar 15 menit itu, medio April. 

Satu rekannya memperbaiki baling-baling, dan lainnya berdiri di kanan Jaka siap menunggu instruksi. "Tolong lemnya, To. Ini kabelnya mesti dilem biar air enggak masuk," ujar Jaka kepada Aryanto, sesama mekanik.
Jalinan kabel warna warni itu langsung dibubuhi lem agar jalinan tersebut kedap air. Terik mentari siang itu mempercepat pengeringan lem. Sambil menyeka keringat di kening, Jaka memimpin diskusi uji coba robot selam yang keenam robot bersama 4 rekannya, dan 2 dosen pembimbing. 



Merekalah mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia, Lampung, yang tengah bersiap untuk menampilkan robot andalan berlaga di kontes robot selam internasional, ASEAN Remotely Operated Vehicle (ROV) Marine Advanced Technology Education (MATE) Competition. Kompetisi itu akan dilaksanakan pada 4 Mei, diikuti puluhan peserta dari negara-negara Asia. 

Tim robotik Universitas Teknokrat Indonesia memperbaiki robot selam yang sedang diuji coba di kolam renang Universitas Lampung, baru-baru ini. Dok.

Tim Teknokrat didaulat mengikuti ajang tersebut setelah sukses menjadi jawara kontes robot selam nasional, ROV Technology Imagine (Technogine), Februari lalu. Teknokrat mengungguli ITB, ITS, UNS, serta tuan rumah Universitas Telkom.

Tantangan besar menanti para peserta kontes Asia, mulai dari misi penyelamatan, pemetaan bawah air, hingga memperbaiki benda di dasar kolam. "Ini pengalaman pertama kami kontes robot selam tingkat Asia. Banyak uji coba yang kami lakukan agar robot bisa menunjukkan performa terbaik," ujar mahasiswa S1 Informatika tersebut.

Proses persiapan kontes hanya sekitar 2 bulan. Dimulai dari merancang desain hingga memilih perangkat serta program terbaik untuk disematkan pada robot. "Standar robot tingkat Asia menekankan safety, misalnya baling-baling harus tertutup agar tidak melukai siapapun. Targetnya adalah robot selam penyelamatan," tutur M Kholbi Nuron, penanggung jawab elektronik tim. 

Ketua tim sekaligus pilot robot, Supriyono mengisahkan perjalanan panjang menuju kontes Asia. "Selama dua bulan ini kami dikaraktina. Pulang kuliah, kami langsung ke lab kampus untuk meneliti dan memperbaiki robot," kata mahasiswa S1 Elektro itu. Diakuinya, pikiran dan tenaga dicurahkan pada robot selam tersebut. Pihak kampus memberi dukungan penuh dengan menanggung akomodasi hingga asupan vitamin bagi peserta lomba.

Robot selam Universitas Teknokrat Indonesia berbobot 6 kg yang dipersiapkan untuk menjalankan sejumlah misi di antaranya penyelamatan dan pemetaan. n ISTIMEWA

"Waktu kami untuk belajar dan kuliah. Hanya saat hari libur kami bisa bertemu keluarga dan sekadar bersantai. Setelahnya, kami kembali fokus pada tugas ini," ujarnya. Bagian uji coba dan evaluasi diakuinya sebagai proses terpenting yang menuntut disiplin, kreativitas, serta pantang menyerah. 

Menurut Supriyono, mahasiswa antusias mengikuti berbagai lomba untuk meraih beasiswa dari kampus sekaligus kebanggaan menyandang predikat juara. "Bangga itu saat berhasil menampilkan karya terbaik di hadapan tim negara lain. Ya, itu yang bisa kami lakukan untuk negara ini," tuturnya. 

Rektor Universitas Teknokrat Indonesia Nasrullah Yusuf mendorong mahasiswa untuk terus belajar serta mengikuti lomba dalam bidang akademik maupun non-akademik. Menurut dia, layaknya robot yang melalui banyak proses hingga siap melaksanakan misi, mahasiswa juga menjalani berbagai tahap belajar, evaluasi, hingga mengukur daya saing melalui kontes sampai lulus menjadi SDM unggul. "Sejak awal kami menanamkan mental sang juara kepada mahasiswa. Mental tersebut harmoni dengan patriotisme menjadi generasi pemenang yang akan membawa bangsa ini pada kejayaan," ujarnya.

Anggota Forum Rektor Indonesia itu menjelaskan keikutsertaan mahasiswa dalam lomba bukan sekadar mengukur kemampuan. Terdapat nilai penting dalam proses tersebut, di antaranya menumbuhkan militansi untuk berprestasi serta membangun nasionalisme. "Mahasiswa yang hanya kuliah, mutunya berbeda dengan yang kuliah dan berprestasi. Tugas kampus memotivasi serta memberi kesempatan mahasiswa menjadi lulusan berdaya saing," ujar Nasrullah. 

Jati Diri Bangsa

Direktur Kemahasiswaan Kemenristekdikti Didin Wahidin mengimbau mahasiswa terus mengembangkan teknologi. Pusat gencar mengadakan berbagai kontes, termasuk Kontes Robot Indonesia (KRI), sebagai sarana pembelajaran mahasiswa sekaligus demi meningkatkan harga diri bangsa.

"KRI nuansanya adalah pembelajaran. Harapan kami besar kepada para peserta untuk berinovasi demi melambungkan Indonesia hingga ke tingkat dunia," kata Didin saat membuka KRI 2019 Regional I Sumatera di Universitas Teknokrat Indonesia, pekan pertama April.

Menurut dia, era revolusi industri salah satunya menekankan pada pengembangan teknologi. Teknologi robotik mahasiswa digadang bermanfaat bagi kemaslahatan manusia sehingga menyokong cita-cita luhur bangsa.

Pada kesempatan itu, Kasubdit Penalaran dan Kreativitas Kemenristek Dikti Misbah Fikrianto mengatakan seleksi tersebut ialah upaya pengembangan penalaran untuk memperkuat daya saing bangsa. Pengembangan mahasiswa meliputi hard skill untuk keahlian spesialis, serta soft skill berupa kemampuan kerjasama tim dan kecerdasan berkomunikasi. "Hal-hal itulah yang dibutuhkan oleh dunia kerja dan industri. Kompetensi dalam menyelesaikan kerja sekaligus branding. dalam tingkat yang lebih tinggi, kami berupaya melahirkan pemimpin masa depan yang cerdas dan berbudi pekerti luhur," ujarnya.

Kepala Dinas Pendidikan Lampung Sulpakar mengapresiasi perhelatan KRI 2019 Regional I di Lampung. "KRI menjadi wahana berbagi pengetahuan, menumbuhkan kreativitas, hingga membangun jejaring hingga menghasilkan mahasiswa adaptif dan responsif dalam revolusi industri 4.0 menuju 5.0," ujarnya. KRI diklaim sejalan dengan program provinsi dalam menghasilkan SDM yang berkarya untuk pembangunan nasional.

TIM ROBOTIK. Tim robotik dan dosen pembimbing Universitas Teknokrat Indonesia. n ISTIMEWA

EDITOR

Winarko

TAGS


KOMENTAR