KRUI (lamnpost.co) -- “Jamiu.”
“Pakai telor Rp9.000. Biasa Rp5.000.”
“Mau pahit bisa, agak pahit juga bisa.”
Begitulah seru seorang perempuan paruh baya pada Rabu (1/11) pagi. Ia menawarkan jamu yang digendongnya menggunakan bakul bambu yang ia lilit dengan kain panjang agar melekat di badan.
Sosok perempuan hampir sepuh mengenakan kain batik khas Jawa bercorak cokelat dan berkerudung hijau muda itu kerap terlihat di lingkungan kantor pemerintahan Kabupaten Pesisir Barat.
Ia terlihat selalu menawarkan jamu dagangannya kepada seluruh staf di kantor pemerintah daerah setempat. Hari itu Lampung Post sengaja membeli dan mencicipi ramuan si ibu jamu itu.
Jamune Bude.., beras kencur wae..”
Perlahan diturunkannya bakul berisi botol–botol jamu hasil racikan dan buatannya sendiri di rumah. Dikeluarkan olehnya gelas beling dari sela antara botol jamu dalam bakul miliknya.
Dengan cekatan, dibersihkan olehnya terlebih dahulu bagian dalam gelas beling itu dengan kain lap. Kemudian, ia tuangkan dua macam jamu yang telah dipesan sebelumnya ke dalam gelas.
Iki, Mas..,” disodorkannya perlahan segelas jamu pesanan itu.
“Bude ini yang sering nawarin jamu di kantor Bupati ya.”
Dengan senyum sipu malunya dia menjawab dengan bahasa Jawa fasih.
Enggeh,” jawabnya.
“Bude tinggalnya di mana? Sudah lama ya tinggal di Krui?”
“Bude tinggalnya di daerah pasar. Sudah 30 tahun tinggal di Krui,” ucapnya dengan lancar.
Setelah kami berbincang-bincang sejenak, rupanya Bude si penjual jamu itu bekerja lantaran suaminya tidak lagi bekerja dan di rumahnya ia kini tinggal bersama dengan tiga anaknya.
“Anak Bude yang satu kerja, yang kedua juga kerja walaupun hanya kerja kasar. Yang satu lagi di rumah saja enggak kerja,” jelas wanita 55 tahun itu kepada lampost.co.
Ia menjelaskan hasil berjualan jamu gendong cukup memenuhi kebutuhan rumahnya sehari-hari. Lantaran sang suami menganggur, ia giat bekerja untuk terus dapat menyambung hidup.
“Alhamdulillah Mas, masih bisa cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Jamu ini juga sering habis laku dibeli. Ada juga yang langganan tiap hari kerja beli jamu,” ujarnya.
Sabtu dan Minggu ia tidak berjualan di perkantoran, tetapi keliling pasar. “Hari kerja keliling kantor dinas. Sabtu—Minggu ke pasar,” jelas Bude yang enggan menyebutkan nama itu. 

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR