RAMADAN, Bulan Kedermawanan. Demikian judul tulisan di halaman Syiar Ramadan di Lampung Post, edisi Selasa (12/6). Memang di bulan penuh berkah ini, umat Islam berlomba-lomba mencari pahala dengan berbagai ibadah, termasuk bersedekah.

Islam mengajarkan kepada umatnya untuk gemar bersedekah, melatih diri untuk menjadi dermawan. Ada banyak ayat Alquran yang mengajarkan umatnya untuk bersedekah. Antara lain QS Ali Imran Ayat 92, "Kamu tidak sekali-kali akan dapat mencapai (hakikat) kebajikan dan kebaktian (yang sempurna) sebelum kamu dermakan sebagian dari apa yang kamu sayangi. Dan sesuatu apa juga yang kamu dermakan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya".



Allah pun menjanjikan ganjaran bagi orang yang gemar bersedekah seperti dalam QS Al-Baqarah Ayat 261, "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui".

Orang-orang mampu diperintahkan untuk bersedekah. Namun di sisi lain, Allah juga melarang orang miskin untuk meminta-minta. Semua agama dan budaya mana pun tentu sepakat mental pengemis itu hina. Mirisnya, keberadaan pengemis di bulan suci ini justru marak. Mulai dari anak-anak hingga orang tua, yang sehat hingga yang cacat memanfaatkan bulan suci ini untuk menggungah hati penderma, menengadah tangan meminta rupiah demi rupiah.

Tanpa sadar sebagian besar orang tua pun mulai menanamkan mental meminta-meminta pada anaknya saat hari Lebaran. Sebutan salam tempel atau THR di Hari Raya hanyalah untuk menaikkan derajat dari mengemis. Padahal tidak ada bedanya, meminta-minta di jalan dengan meminta-minta salam tempel saat Hari Raya. Keduanya sama, meminta-minta. Mental pengemis yang dilarang dalam Islam.

Sebagai orang tua muslim ada baiknya kita menanamkan pada anak-anak kita untuk tidak terbiasa meminta-minta salam tempel. Jangan malah disuruh berkeliling dari rumah ke rumah tetangga untuk meminta.

Jadi ingat Lebaran tahun lalu, memutuskan untuk tidak mudik, untuk pertama kalinya kami merayakan Idulfitri di rumah sendiri. Usai salat id, anak-anak kecil hingga yang sudah SMA berbondong-bondong datang ke rumah meminta THR. Salah satu tetangga yang bertamu melihat anak-anak saya di rumah, menyuruh untuk ikut keliling. "Sana keliling cari THR!" ujarnya.

Ups... padahal saya sering mengingatkan anak-anak di rumah untuk tidak meminta-minta pada orang lain saat berkunjung di Hari Raya. Saya tidak ingin anak-anak saya memiliki mental pengemis. "Ingat ya, jangan minta. Kalau dikasih boleh ambil, tetapi jangan minta!"

Namun, namanya anak-anak, terkadang apa yang kita ajarkan berbeda dengan yang mereka terima. Jadilah si sulung selalu menolak jika diberi salam tempel.

"Aku sudah punya, dikasih bunda," ujar dia setiap ada yang mau memberinya angpau Lebaran. Nah kalau begini, menolak rezeki namanya, Nak!

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR