JAKARTA (Lampost.co)--Menteri Kepariwisataan (Menpar) Arief Yahya akan membantu memfasilitasi ke Menhub agar bandara Raden Inten II segera berubah status menjadi bandara internasional.

"Silakan Gubernur kirim surat  ke  Menteri Perhubungan.  Sisanya saya yang kerjakan," tegas Menteri Arief Yahya kepada pers usai membuka Lampung Krakatau Festival di Kemenpar, Jakarta, Kamis (9/8/2018).



Meskipun Gubernur Lampung sudah mengirim surat ke Menhub, namun Menpar meminta  dikirimkan surat kembali.

"Ya direfresh, dan diinfokan bahwa  kita sudah siap agar mudah  meyakinkan rekan - rekan di Kemenhub untuk segera menjadikan bandara Raden Intan menjadi bandara internasional," kata Menpar.

Secara infrastuktur,  kata Menpar, tak ada permasalahan untuk menjadikan Raden Intan sebagai bandara internasional, tinggal izin dari Menhub.

Menurut pengalaman, penerbangan internasional akan dibuka jika ada penumpang. "Tadi sudah dikatakan sudah ada Lion Air yang siap dengan flight internasional," katanya.

Sebelumnya, saat memberi sambutan, Menpar mengatakan sepertiga wisatawan ke Indonesia berada di Jakarta. Dengan adanya penerbangan berskala internasional , tak sulit membawa wisatawan ini ke Lampung.

Anggota Komisi X, Dwita Ria, meminta Menhub untuk segera merealisasikan perubahan status bandara Raden Intan sebagai bandara internasional jika semua persyaratan untuk itu sudah terpenuhi.

Apalagi masih banyak agenda tahunan pariwisata yang akan digelar di Lampung. Salah satu syarat untuk menjadi bandara internasional adalah jumlah penumpang. Karena itu, Lampung harus memberikan data terkait hal tersebut ke Menhub.

Menurut Menteri Arief, keberadaan Bandar raden Intan  sebagai bandara internasional sangat penting untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan kepariwisataan di Lampung.

Sementara dukungan transportasi darat sudah cukup baik. Lampung  beruntung karena jaraknya dekat dengan Jakarta, sekitar 30 menit perjalanan udara. Sehingga sebetulnya sangat mudah untuk dikunjungi wisatawan.

Menpar juga meminta Pemprov Lampung  segera menyiapkan lahan untuk Kawasa Ekonomi Khusus (KEK) Kepariwisataan. Menpar dan Pemrov akan bersama-sama mengurus KEK tersebut.

"Siapkan tanah, nanti kita sama urus KEKnya," kata Menpar. Bahkan, Menpar bersedia menyediakan ruang untuk menyiapkan KEK di Lampung.

Menanggapi hal tersebut, Gubernur Lampung M Ridho Ficardo mengatakan pihaknya akan segera mengirimkan kembali surat ke Menhub.
"Kita akan kirim surat lagi. Kalau memang bisa minggu depan menjadi bandara internasional, sore ini juga kami akan kirim surat," ujar Ridho.
Menurut Ridho, pihaknya telah mengirimkan surat ke Menhub, namun pihaknya tidak tahu dimana kendalanya hingga hari ini Menhub belum mengeluarkan izin bandara menjadi bandara internasional.

Pihaknya, tegas Ridho, bukan hanya meminta dijadikan bandara internasional, namun juga mengeluarkan dana  pendukung.
Meskipun bandara Raden Intan merupakan milik pusat, namun pihaknya telah mengeluarkan uang sekitar Rp400 miliar (melalui APBD Lampung).

Tak hanya bandara Raden Intan, pihaknya juga memberikan dukungan untuk bandara di Pesisir , bandara Taufik Kiemas dengan memberikan lahan untuk perpanjangan landasan.
Hal tersebut merupakan komitmen Pemprov Lampung untuk memajukan transportasi udara dan kemajuan pariwisata Lampung.

Keberadaan bandara Taufik Kiemas juga sangat penting untuk memajukan pariwisata di Lampung Barat. "Dari Bandar Lampung ke Krui 5 jam saja orang sudah ramai datang, apalagi kalau sudah ada penerbangan langsung," kata Ridho.

Terkait KEK Praiwisata, Ridho mengatakan sejak tahun lalu pihaknya mengusulkan Lampung Selatan dan Pesisir Barat sebagai KEK pariwisata.
Namun, belakangan pihaknya juga menambakan Pesawaran. Hal ini karena wilayah yang memiliki banyak pulau ini ternyata menjadi tempat wisatawan untuk weekend.
Pihaknya menyerahkan kepada Menpar untuk menentukan mana dari 3 wilayah tersebut yang menjadi skala prioritas.Mengenai lahan, sebagian milik pemprov, sebagian lagi milik swasta.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR