DUNIA sepak bola dengan pemerintahan tidak jauh berbeda. Ketika permainannya jelek dan sering kalah, pendukungnya jelas kecewa dan ingin segera ganti pelatih. Begitu juga jika kinerja kepala negara buruk, kritik dari rakyat tidak terbendung dan desakan ingin ganti presiden juga cukup santer.

Seperti Arsenal, misalnya. Klub yang bermarkas di London, Inggris, itu sempat mengalami penurunan performa yang mengkhawatirkan. Klub yang dilatih Arsene Wenger itu bahkan terlempar dari zona Liga Champions. Tidak ayal, posisi Wenger pun digoyang.



Fan fanatik Arsenal menginginkan Wenger segera pergi dari Emirates Stadium, markas Arsenal. Mengingat, Wenger tidak mampu mengelola dan membangkitkan performa Mesut Ozil, Aubameyang, Mkhitaryan, dan kawan-kawan. Bahkan, sebagai bentuk kekecewaan dan ketidakpercayaan dengan Wenger, pendukung Arsenal kompak tidak menonton saat laga Arsenal vs Manchester City di Emirates Stadium.

Meski mendapat olok-olok dari fan Arsenal, Wenger ternyata tidak juga mau pergi. Dia memilih tetap bertahan melatih Arsenal.

Dan, secara perlahan, Wenger menjawab kritik tersebut dengan kerja-kerja yang membuahkan hasil. Pasca-kekalahan dari City tersebut, Arsenal kemudian bangkit dengan mengalahkan klub raksasa asal Italia, AC Milan. Di leg pertama Liga Eropa, Arsenal mencukur Milan 2-0. Tidak sampai di situ, pada leg kedua, Koscielny dan kawan-kawan melumat klub yang dilatih Gatusso itu dengan skor 3-1.

Itulah Wenger, dia menjawab kritik dengan kerja-kerja nyata dan terukur hasilnya, sehingga kini Arsenal menjadi tim kuat bersama Atletico Madrid yang diprediksi bakal menjadi juara Liga Eropa.

Nah, sekarang di pemerintahan. Publik saat ini menagih janji-janji kampanye presiden yang belum terealisasi. Kritik-kritik tajam kelompok masyarakat juga terus ditujukan kepada pemerintah, seperti utang luar negeri yang mencapai Rp4.800 triliun, harga BBM yang terus naik di tengah minyak dunia turun, impor yang terus membanjiri Tanah Air, penegakan hukum yang pandang bulu, harga kebutuhan pokok yang terus melambung tinggi, maraknya tenaga kerja asing masuk ke Indonesia, dan kritik-kritik lainnya.

Sekarang, tinggal mampukah pemerintah menjawab kritik tersebut? Kalau mampu, tentu rakyat akan memilihnya kembali. Tapi, kalau sebaliknya, rakyat akan memilih pemimpin alternatif yang dianggap bisa menyelesaikan problematika bangsa ini. n

EDITOR

Abdul Gofur

TAGS


KOMENTAR