MINUM kopi sudah menjadi kebutuhan sebagian besar masyarakat Indonesia pun halnya bagi masyarakat Lampung. Terlebih, provinsi di ujung Sumatera ini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kopi terbesar Nusantara.

Komoditas kopi terutama jenis robusta merupakan salah satu sektor utama penggerak perekonomian Bumi Ruwa Jurai. Sekitar 70% ekspor kopi Indonesia dipasok dari daerah Lampung dan se-Sumbagsel seperti, Bengkulu, Jambi, dan Sumatera Selatan.



Berdasar pada data Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) Lampung, pada akhir 2017 total produksi kopi robusta secara nasional mampu mencapai 650 ribu ton dan 70%-nya berasal dari Lampung dan wilayah Sumbagsel.

Dari jumlah tersebut untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan ekspor, ekspor biji kopi robusta secara nasional sebanyak 350 hingga 400 ribu ton. Dari total ekspor itu Lampung menyumbang sekitar 170 ribu ton biji kopi robusta untuk diekspor.

Namun, nilai ekspor kopi tahun 2018 turun hingga hampir 50%. Hal itu disumbang dari produktivitas tanaman kopi yang turun dari sebelumnya satu ton per hektare menjadi 500 kg. Bahkan ada wilayah di Lampung, hasil panen kopinya hanya 250 kg/ha.

Penurunan produktivitas kopi dipengaruhi harga komoditas yang fluktuatif. Harga biji kopi anjlok membuat petani malas mengurus kebun kopinya, hingga produksi buah kopi turun. Pun sebaliknya, harga kopi bagus menjadi stimulasi petani kopi.

Kestabilan harga kopi di pasaran menjadi gairah bagi petani kopi tekun merawat tanamannya. Konsistennya konsumsi kopi, diharapkan mampu memberikan kestabilan harga kopi dalam negeri hingga mampu menggerakkan perekonomian pembudi daya.

Karena itulah, gerakan membudayakan minum kopi menjadi hal penting. Kita pun patut mengapresiasi langkah Gubernur Lampung M Ridho Ficardo mengeluarkan surat edaran tentang Penggunaan Produk Kopi Lampung pada 15 Oktober lalu.

Melalui SE No.045.2/2123/V.22/2018, Gubernur menginstruksikan penyediaan jamuan kopi dalam setiap pertemuan dan rapat baik pemerintahan maupun perusahaan swasta. Hal tersebut untuk menjaga tingkat konsumsi kopi terutama di Lampung.

Sebagaimana hukum permintaan dan penawaran, dengan tingkat konsumsi kopi yang stabil, hal itu dapat mendorong dan meningkatkan produksi kopi petani serta pertumbuhan dan pengembangan petani kopi robusta di Lampung.

Melaksanakan edaran gubernur Lampung maka kita ikut berperan dalam menciptakan kestabilan harga kopi. Harga stabil, petani pun bersemangat menjaga tingkat produksi kopi mereka. Muara dari hal ini tentunya adalah kesejahteraan petani kopi.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR