BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Seiring perkembangan zaman, tuntutan masyarakat terhadap informasi pun makin tinggi. Sebagai lembaga penyiaran, seperti apa tugas pengawasan Komisi Penyiaran Informasi Daerah (KPID) terhadap media, baik radio maupun televisi di Lampung. Bagaimana sikap KPID menanggapi banyak televisi dan radio swasta yang tutup. Berikut kutipan wawancara wartawan Lampung Post Nur Jannah dengan Ketua KPID Lampung Tamri di kantornya, beberapa hari lalu.

Kita baru saja merayakan Hari Radio ke-72, apa tanggapannya, serta bagaimana eksistensi radio saat ini?



Sebagai lembaga regulator yang mengawasi radio dan televisi, kami berharap radio bisa makin berjaya seperti pada eranya dulu. Tidak bisa dipungkiri, popularitas radio saat ini turun. Dulu radio menjadi tolok ukur informasi dan hiburan. Sekarang sudah makin banyak hiburan dan kami berharap agar radio tetap eksis dan memiliki pendengar yang banyak.
Radio berbeda dengan media cetak, radio harus lebih update dalam menyajikan informasi kepada masyarakat. Hal ini tentu saja berbeda dengan media cetak yang baru bisa dibaca keesokan harinya. Namun, saat ini pendengarnya sudah jauh berkurang dari sebelumnya. Bahkan saat ini banyak radio yang tutup. Jangankan mencari profit, untuk biaya operasional saja mereka susah.

Lantas bagaimana peran KPID menyikapi persoalan tersebut serta bagaimana dukungannya terhadap radio?

Sebagai lembaga kami selalu mendukung keberadaan radio untuk terus eksis, baik dari segi perizinan maupun segi penyiaran. Selagi mereka tidak menyalahi aturan, kami dukung. Namun, kalau minat dan selera masyarakat kita tidak bisa memaksa. Sosialisasi sudah tidak kurang lagi, radio ada on air maupun off air, sehingga setiap radio memiliki strategi penyiaran masing-masing.

Saat ini bukan hanya radio lokal, televisi lokal juga banyak. Bagaimana peran KPID menjaga agar iklim persaingan tetap sehat?

Salah satu tugas KPID adalah menjaga agar iklim persaingan tetap sehat antara televisi dan radio. Kami sarankan masing-masing memiliki segmen dan acara berbeda, misalnya radio dalam satu daerah tidak mengambil segmen yang sama. Kami dorong agar persaingan bisa dihindari, sehingga ketika butuh hiburan atau informasi, masyarakat sudah tahu saluran mana yang akan mereka pilih.

Bagaimana perkembangan televisi lokal di Lampung?

Di Lampung ada televisi nasional masuk yang berjaringan, kalau tidak berjaringan tidak bisa menangkap sinyal di Lampung. Mereka juga mendirikan televisi lokal Lampung, untuk televisi lokal ada enam, ada juga televisi berlangganan.
Minat investor di Lampung, khususnya di Bandar Lampung, cukup tinggi, terbukti dengan peluang yang dibuka oleh menteri langsung habis kuotanya. Alokasi yang disediakan pemerintah ada lima chanel, langsung diserbu dan langsung penuh, bahkan masih banyak yang ingin mendaftar. Di Bandar Lampung sudah tidak ada kuota, Lampung Selatan juga penuh.
Kita berharap penyebaran televisi di kota dan daerah bisa merata, tetapi investor lebih tertarik di daerah perkotaan. Mungkin penduduknya yang padat dan daerahnya lebih landai sehingga mudah menangkap sinyal.

Bagaimana persaingan televisi di Lampung, serta bagaimana peran dan pengawasan KPID?

Sejauh ini semuanya berjalan dengan baik, jadi belum ada informasi ada saluran televisi A mengeluh karena ada persaingan yang tidak sehat. Antara A dan B semua bagus saja. Program siaran televisi di Lampung memiliki ciri masing-masing, walaupun tidak terlalu mencolok, masyarakat punya banyak pilihan. Ketika mau buka chanel sudah tahu apa yang akan dipilih. Kalau saingan tidak ada masalah bahkan malah kerja sama.

Bagaimana dengan pengawasan dan dukungan untuk televisi dan radio di Lampung?

Pengawasan dan dukungan antara televisi dan radio sama. Bagaimana agar televisi dan radio tetap maju dan punya kontribusi ke daerah Lampung, menyajikan berita yang sehat dan hiburan kepada masyarakat. Kemudian memberikan informasi, hiburan, kontrol, dan nilai pendidikan. Sebab, membawa kepentingan masyarakat sehingga harus kita bawa.
Ada yang harus ditunaikan oleh lembaga penyiaran. Untuk dukungan, sama antara televisi dan radio, tetapi cara penanganannya yang berbeda. Radio beda dengan televisi, tetapi perhatiaannya sama.

Konten apa yang boleh dan tidak boleh disiarkan radio dan ditayangkan televisi?

Tayangan boleh dan tidak ada standar penyiaran yang tertuang dalam pedoman di Buku Putih. Itu yang harus dipatuhi radio dan televisi. Ada rambu mana yang boleh dan tidak ditayangkan. Seperti mengadung unsur pornografi atau kekerasan. Patokannya itu kalau mau memberikan sanksi.
Kami tidak jarang memberikan teguran kepada televisi, baik lokal, swasta, berjaringan, maupun televisi publik. Ada mekanismenya, kita concern mengawasi, ada petugas yang memantau 24 jam. Lalu dibina, rata-rata mereka setelah ditegur berubah.

Di Lampung, berapa televisi dan radio yang memiliki izin dan tidak berizin?

Semua televisi dan radio yang tayang dan siaran semuanya sudah berizin karena yang tidak berizin kami tutup. Kami memiliki program penertiban. Jangan sampai ada yang sudah mengurus izin, tiba-tiba ada radio yang tidak berizin siaran, kan tidak adil. Sehingga yang tidak berizin kami tutup.
Ada delapan radio saat ini yang kami tunda siarannya sampai izin keluar. Untuk televisi ada satu yang kami tutup, yakni televisi Pemkab Pringsewu. Saat itu sempat tayang karena izin belum keluar, kami hentikan.  

BIODATA

Nama        : Tamri

Kelahiraan  : 14 Juni 1981

Alamat            : Jalan Swadaya IV, Gunungterang, Bandar Lampung

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR