PROVINSI Lampung menjadi magnet investor berbisnis dan menanamkan modal di Bumi Lampung. Terlebih, regulasi birokrasi yang mendukung investasi dari pemerintah Lampung juga ikut andil besar terhadap masuknya investor.
Itu mengapa gerbang Sumatera ini memiliki prospek cerah untuk berbisnis karena memiliki keunggulan ketimbang daerah lainnya, seperti keberadaan jalan tol trans-Sumatera (JTTS) yang terus dikerjakan dan pelabuhan pendukung bertaraf internasional.
Jelas, investor memiliki kalkulator dagang yang sangat jitu. Jika dikalkulasikan tidak menguntungkan, bahkan merugi, pasti tidak akan membenamkan modalnya di Lampung. Mereka tentu berharap investasinya bisa bertahan lama, bahkan berkembang.
Termasuk hal keamanan dan kenyamanan berinvestasi, boleh dikata menjadi prioritas investor. Menanamkan modal besar ke daerah yang tak aman dan rawan konflik ibarat membakar duit. Jelas ini tak diharapkan bagi calon investor.
Belum lagi persoalan birokrasi yang ribet bahkan rawan pungli, pasti akan menjadi pertimbangan investor. Para pemilik modal mudah mendekat manakala birokrasi suatu daerah bersahabat. Karena itu, perkara ini tidak bisa dianggap remeh atau sepele.
Pemerintah Provinsi Lampung sepertinya paham benar akan hal itu. Kebijakan birokrasi yang proinvestasi terbukti arus investasi yang masuk ke Provinsi Lampung melonjak drastis dari target Rp5,3 triliun menjadi Rp7,9 triliun pada 2017.
Data Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Provinsi Lampung mencatat sejak Januari hingga 30 Oktober 2017, investasi penanaman modal asing (PMA) mencapai 20 perusahaan sementara dalam negeri tercatat 27 perusahaan.
Hingga September 2017, total investasi Rp6,4 triliun dan hingga akhir 2017 mencapai Rp7,9 triliun. Sektor industri dan jasa berkembang, termasuk sektor properti melesat di Lampung. Ini menjadi indikator pertumbuhan di Lampung kian positif.
Bahkan, pertumbuhan ekonomi Lampung lebih tinggi dari rerata nasional. Pada 2014 ekonomi Lampung tumbuh 5,08% dan 2015 meningkat menjadi 5,13%. Sementara secara nasional pertumbuhan ekonomi terus turun sejak 2011 (6,17%) sampai 2015 (4,79%).
Karena itulah dapat kita katakan Lampung berada pada jalur yang benar. Pebisnis besar baik industri, jasa, maupun properti menancapkan kuku investasinya di Lampung. Kita tinggal menjaga keberlangsungan iklim investasi aman, nyaman, dan bersahabat.
Pertumbuhan di atas itu patut diapresiasi. Namun, selain komitmen yang mendukung masuknya investasi, pemerintah juga harus mengedepankan keadilan bagi masyarakat tanpa menelantarkan hak masyarakat yang ada.
Sebab, investasi identik dengan persoalan tempat dan lahan, dan ini kerap menjadi polemik tersendiri. Oleh karenanya, pemerintah harus tetap mengedepankan keadilan bagi semua lapisan di tengah kian derasnya aliran investasi di Lampung. n

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR