DERING telepon berbunyi, membangunkan Samin yang tengah pulas. Samin yang bekerja malam memang kerap kembali tidur usai sahur dan salat subuh. Saking nyenyaknya tidur, kadang si Romlah, istri Samin, tak tega membangunkannya untuk sekadar pamit berangkat kerja.

Telepon diangkat. Dengan nada panik, Romlah memberondong Samin yang baru setengah sadar. “Bang, jemput! Motor Romlah mogok di depan kantor lurah. Romlah hampir telat, nih! Abis nganter Romlah, Abang servis ya motornya. Bawa aja ke bengkel!” kata Romlah nyerocos.



Samin pun mengiyakan. Tapi, sesaat kemudian matanya kembali terasa berat. Rasa kantuk menyerangnya lagi. Samin tak kuasa. Dia pun kembali merebahkan badannya di kasur.

Selang beberapa waktu, telepon berbunyi lagi. Romlah kembali menghubungi. Merasa bersalah, Samin sempat waswas mengangkat telepon, takut didamprat istrinya. Tapi, kepanikan Samin mereda saat suara Romlah dari ujung telepon merendah. "Bang, motornya udah nyala, nih. Ternyata, bensinnya lupa Romlah isi!” kata Romlah cengegesan.

Merasa dapat kesempatan, seketika jiwa akting Samin muncul. Dari atas kasur, dengan suara yang disegar-segarkan, lantang Samin balas, "Waduh, padahal Abang sudah hampir sampai nih jemput kamu, Yang!"

Akting Samin nyaris sempurna. Sampai-sampai, Romlah tanpa sadar sukses dikibuli Samin. Yang ada, si Romlah malah merasa bersalah.

"Wah, maaf ya, Bang, jadi merepotkan Abang pagi-pagi. Enggak apa-apa, Abang pulang lagi aja. Lanjut tidurnya. Sebagai gantinya, nanti Romlah belikan bukaan, martabak kesukaan Abang," ujar Romlah dengan gaya kenesnya.

Cuma dengan modus—modal dusta—si Samin bisa memanfaatkan keadaan untuk meraup untung banyak. Dapat pujian istri, dapat pula seloyang martabak, hanya dari balik selimut.

* * *

Komar, yang dari awal khusyuk mendengar cerita Samin mengibuli istrinya, tak terima.

"Wah, curang! Puasa kok bohong! Mestinya kamu terus terang kalau saat itu kamu lanjutin molormu, Min," ucap Komar.

"Lha, kok kamu yang sewot, Mar. Ini kan bohong yang tidak merugikan. Sebaliknya, malah membawa keromantisan dalam rumah tangga kami, haha..." bela Samin.

“Menang banyak kamu ya, tapi aku tak terima!” sahut Komar. “Nanti kuadukan saja sama si Romlah, biar habis kau didampratnya!” ancam Komar.

“Lha, bohong untuk kebaikan itu tidak apa-apa! Kalau kau ngadu sama Romlah, itu malah membawa malapetaka yang lebih besar. Jujur yang seperti itu juga tidak boleh, Mar!” dalih Samin.

“Duh, iya, kasian juga kau Min kalau aku adukan! Ternyata, untuk jujur dan bohong saja kita mesti banyak belajar dan pintar menimbang ya, Min?” ujar Komar.

Bener, Mar. Ya sudahlah, supaya kepala kita ini berisi, sebaiknya habis tarawih nanti kita duduk di masjid untuk ikut taklim Ustaz Usman. Biar otak kita ngisi, Mar!” ajak Samin.

“Betul juga ya, Min. Astagfirullah!”

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR