KOTABUMI (lampost.co) -- Pada genangan air seluas 50 hektare (ha) yang memanjang 2 km lebih di Desa Trimodadi, Kecamatan Abung Selatan, Lampung Utara, itulah cekdam Trimodadi dihadirkan.
Senin (4/12/2017), siang itu di atas genangan tampak hamparan bunga padma (bunga teratai) yang mulai bermekaran di sepanjang areal. Rimbunan pohon karet yang berada di kiri dan kanan lokasi serta beragamnya tanaman peneduh yang tumbuh di seputar areal menambah asrinya suasana bagi siapa pun.
Kepala Desa Trimodadi, Kecamatan Abung Selatan, Surip mengatakan areal kawasan cekdam itu sering dijadikan lokasi kemah pramuka saat liburan. Adapun pada hari biasa, beberapa pengunjung mendatangi lokasi untuk sekadar duduk santai sembari menikmati pemandangan dan memancing ikan.
"Biasanya mereka yang memancing ikan itu sambil melepas penat. Lokasinya yang sejuk dan alamiah menjadikan wilayah itu salah satu destinasi favorit untuk menikmati alam,” kata dia, beberapa hari lalu.
Surip mengungkapkan cekdam Trimodadi itu dibangun dengan swadaya masyarakat. Mereka membendung aliran Way Jagang, ketika Masno Asmono menjabat sebagai bupati pada 1963.
Awalnya bangunan tersebut digunakan untuk pengairan areal sawah bagi warga desa setempat maupun desa tetangga. Pada 1981, cekdam tersebut dilimpahkan pembangunannya ke Pemerintah Kabupaten Lampung Utara.
"Dulu aliran dari cekdam Trimodadi dimanfaatkan warga desa setempat maupun desa tetangga untuk mengairi areal persawahan dengan luas sekitar 150 ha," ujarnya.
Seiring berjalannya waktu, genangan air itu juga digunakan warga setempat untuk budi daya ikan karamba. Melihat luasnya genangan pada cekdam berikut segala keindahannya, banyak warga lokal, dari Kotabumi misalnya, yang datang sekadar melepas penat dengan berbagai kegiatan. Di antaranya memancing atau duduk berjam-jam sembari menikmati pemandangan hamparan perairan yang banyak ditumbuhi teratai, khususnya saat Idulfitri.
"Bila teratai bermekaran dengan bunga berwarna putih dan oranye, pemandangan di perairan cekdam terlihat indah. Ini yang mungkin menjadi alasan orang mendatangi tempat itu sekadar untuk melepas penat."
Namun segala panorama alam yang sejauh mata memandang terasa asri itu menjadi berkurang keelokannya, karena minimnya perhatian pemerintah pada pengembangan potensi wisata. Ya, pengembangan wilayah tersebut untuk menjadi kawasan destinasi wisata yang optimal belum dapat terealisasi.

Kesenian

Warga Abung Selatan yang juga pekerja seni, Subarmo WS, menuturkan tidak hanya panorama, beragam kesenian tradisional rakyat di Desa Trimodadi juga masih dilestarikan. Di desa itu sedikitnya ada 20 grup kesenian jatilan.
Dari puluhan grup itu, hanya 6 grup jatilan, 3 kelompok ketoprak, 2 grup ludruk, dan 2 grup cimplungan, yang masih aktif. Adapun untuk kesenian wayang dahulu aktif, kini menjadi tidak aktif.
"Ragam kesenian tradisional masih sering dipentaskan saat acara bersih desa, perayaan hari besar keagamaan, atau saat peringatan hari besar nasional. Dengan hidupnya kesenian tradisional yang ada ini menjadi salah satu daya tarik untuk destinasi wisata, asalkan dikemas saat pementasannya," kata Subarmo.
Selain itu, di Desa Trimodadi yang 94% warganya berasal dari Yogyakarta, budaya kegotongroyongannya masih terus terjaga. Hal itu bisa dilihat saat momen-momen tertentu.
Subarmo menyebutkan untuk mengenang daerah asalnya, misalnya, penempatan tata ruang dan tata letak pasar di Desa Trimodadi meniru tata letak Pasar Beringharjo di Yogyakarta.
"Arsip buku besar catatan desa, baik kependudukan, kekayaan desa, kegiatan desa dari awal berdirinya desa itu, hingga sekarang masih tersusun rapi. Hal itu mencerminkan administrasi Desa Trimodadi telah tertata dari dulu. Warga di sini juga masih menjaga faktor keamanan. Hal tersebut bisa dinilai dari belum adanya kasus pembegalan atau curas yang terjadi di sepanjang jalan poros desa," ujarnya.

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR