KALIANDA (lampost.co) -- Sebelum azan zuhur berkumandang, Yayan (43) telah sigap menunggu beberapa karung gabah kering panen (GKP) turun dari mesin perontok padi di areal persawahan Desa Palaspasemah, Kecamatan Palas, Lampung Selatan, Minggu (26/11/2017).
Tidak lama menunggu, pria berhelm putih itu pun mendapat giliran mengangkut dua karung GKP ke atas sepeda motornya. Secara perlahan, ia pun bergerak mengangkut GPK ke daratan, meninggalkan area persawahan dan deru mesin perontok padi.
Meski usianya telah menginjak 43 tahun, Yayan masih gigih mengais rezeki sebagai pengojek padi. Ratusan kilogram GKP yang akan diangkut merupakan pengharapan besar baginya untuk memenuhi kebutuhan ia dan keluarganya sehari-hari.
Saat ditemui lampost.co, Yayan mengaku banyak risiko yang dapat dialaminya dalam menjalani pekerjaan sebagai pengojek padi. Tidak jarang ia harus menelan pil pahit ketika turun hujan dan kondisi medan jalan yakni tanggul penuh dengan lumpur.
"Suka dan duka sebagai pengojek padi sudah banyak saya alami. Risiko yang terberat adalah ketika terjatuh dari sepeda motor saat mengangkut GKP ke daratan. Kalau yang namanya terluka, memar, dan keseleo sering saya alami," kata tiga anak itu.
Bukan hanya itu, di saat “kuda besi” yang ditungganginya mengalami kerusakan, ia pun harus mengeluarkan biaya tidak sedikit. Tentu biaya kerusakan sepeda motornya itu tak sebanding dengan pendapatannya sehari-hari.
"Ya, kalau lagi apes sepeda motor bisa rusak. Itu pun belum bisa dipastikan dengan pengeluaran biaya yang sedikit. Terkadang saya mengeluarkan biaya besar, enggak sebanding dengan penghasilannya," ujarnya.
Yayan mengaku tak banyak menghasilkan dari mengojek padi. Jika keberuntungan berpihak kepadanya, ia mampu mengumpulkan uang Rp200 ribu per hari. Sebaliknya, jika tidak beruntung, ia hanya mendapatkan Rp50 ribu per hari.
"Kami diupah berdasarkan jarak dan medan yang akan kami lalui. Kalau jaraknya jauh dan kondisi jalan berlumpur, kami diupah sebesar Rp50 ribu per dua karung. Tapi, kalau jaraknya dekat dan akses jalan bagus hanya diupah Rp25 ribu per dua karung."
Dari penghasilannya itu, Yayan menyisihkan sebagian untuk keperluan sehari-hari dan sebagian ia kumpulkan untuk biaya anaknya sekolah. Itu pun ia harus mencari pekerjaan lainnya, seperti buruh tani dan sopir bajak (handtractor).
Kalau hanya mengandalkan penghidupan dari mengojek padi Yayan mengaku tidak akan cukup membiayai keluarganya. Karena itu juga menggeluti beberapa pekerjaan lainnya. Dengan begitu barulah kebutuhan hidup keluarganya dapat ia genapi.
“Saya harus cari pekerjaan lainnya. Misalnya, kalau sebagai buruh tani biasanya diupah sebesar Rp60 ribu per hari, sedangkan sopir bajak diupah sebesar Rp300 ribu per hektare dalam jangka waktu selama 3—4 hari." 

 

loading...

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR