SALAH satu masalah sosial paling klasik yang tidak kunjung tuntas diselesaikan di Lampung adalah begal. Jenis kejahatan yang mulai merebak pascareformasi ini mendominasi aksi kriminalitas di Tanah Lado.

Sudah berkali-kali kepala satuan wilayah Polri berganti namun sampai hari ini begal masih tetap eksis dengan dibarengi peningkatan kualitas kejahatan. Jika dahulu para pelaku memakai senjata tajam, kini banyak yang memakai senjata api.
Aksi begal tidak kunjung surut meskipun puluhan pelaku ditembak mati dan ratusan lainnya dijebloskan ke penjara.



Kekhawatiran akan terjadinya aksi begal makin menjadi-jadi setiap musim mudik Lebaran. Ribuan pemudik bersepeda motor dari luar kota menjadi sasaran empuk komplotan begal di jalur rawan kejahatan.
Untuk melindungi para pemudik, pada Lebaran tahun ini Polda Lampung menurunkan 4.792 personel dalam Operasi Ketupat Krakatau mulai 7—24 Juni 2018.

Dua hari setelah Operasi Ketupat Krakatau bergulir, komplotan begal langsung beraksi. Seorang pemudik dari Bekasi yang hendak pulang ke kampung halamannya di Talangpadang, Tanggamus, menjadi korban aksi begal di jalan lintas Sumatera, ruas Simpang Kates, Katibung, Lampung Selatan, Sabtu (9/6) dini hari. Komplotan pelaku terdiri dari enam orang yang menggunakan tiga sepeda motor. Korban bernama Syahroni menderita luka-luka dan dirawat di RSUDAM.

Aksi begal pada musim mudik tersebut membuat geram petugas keamanan. Dua hari kemudian, Kapolri Jenderal Tito Karnavian memerintahkan jajarannya menembak mati komplotan begal yang mengancam keselamatan pemudik.
Tito bahkan mengultimatum akan mencopot kapolres yang tidak sanggup menghentikan aksi brutal para begal. Sehari setelah ultimatum tersebut, Polres Lamsel berhasil meringkus komplotan begal Simpang Kates. Empat tersangka ditangkap, satu di antaranya ditembak mati, dan satu buron.

Keberhasilan Polres Lamsel itu membuktikan selama ada niat dan dorongan dari komandan tertinggi ternyata tidak terlalu sulit menggulung komplotan begal. Seperti yang disampaikan Kapolri, sebenarnya petugas sudah mengantongi data tersangka karena biasanya pelaku orangnya itu-itu saja. Sebab, tidak semua orang sama rata berpotensi sebagai pelaku begal.

Keberhasilan itu juga hendaknya menjadi pedoman dalam tugas penindakan, tidak hanya selama musim mudik Lebaran, tetapi dalam hari-hari biasa. Masyarakat memberi harapan tinggi kepada aparat Polri untuk memberikan keamanan dan rasa aman selama dan setelah mudik Lebaran.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR