AKHIR-akhir ini, pemerintah sangat menggalakkan gerakan literasi di sekolah. Salah satu sebabnya adalah hasil penelitian PISA terakhir yang dirilis 6 Desember 2016 menyebutkan performa siswa-siswi Indonesia masih rendah yaitu pada peringkat 62,61 dan 63 dari 69 negara pada bidang sains, membaca dan matematika. 
 
Peringkat tersebut tidak jauh beda dengan hasil 2012 yang berada pada kelompok penguasaan materi yang rendah. Sangat ironis. Atas dasar itulah, Permendikbud no.23 tahun 2015 tentang penumbuhan budi pekerti yang salah satu aspek penunjangnya adalah gerakan literasi masih sangat perlu digalakkan. Terutama tentang literasi budaya. Sayangnya, implementasi literasi budaya belum begitu tampak dipermukaan. Perlu terobosan yang konkret untuk mengurai akar masalahnya. Salah satunya, melalui kegiatan kelas literasi budaya.  
 
Menurut buku “Materi Pendamping Gerakan Literasi Budaya dan Kewargaan” Kemdikbud RI (2017), literasi budaya diartikan sebagai kemampuan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa. Ada dua kata kunci dari terjemahan itu, yaitu memahami dan bersikap. Memahami berarti setiap warga negara selayaknya mengenal secara detail akan budayanya. Sementara bersikap artinya menjunjung tinggi sikap toleransi antar budaya di Indonesia. Ini penting. Mengingat bangsa Indonesia memiliki begitu banyak budaya daerah. Dari suku bangsa, bahasa, adat istiadat, kebiasaan, kepercayaan hingga lapisan sosial. 

Jika benar memperlakukannya maka kebudayaan daerah itu akan menjadi kekuatan kebudayaan bangsa. Namun, jika salah dalam mengambil langkah, kebudayaan daerah tersebut menjadi celah dalam perpecahan bangsa. Maka, kemampuan akan memahami dan bersikap mengenai budaya daerah sangat perlu mendapat perhatian yang tinggi. Terutama, perlu ditanamkan sejak dini. 



Oleh sebab itu, pembudayaan kegiatan yang dapat memberikan pemahaman yang lebih utuh tentang budaya bangsa serta melatih sikap toleransi antar budaya harus terus digalakkan. Baik dalam pendidikan di kelas, sekolah dan masyarakat. Apalagi, melalui kegiatan kelas literasi budaya.

Kelas Literasi Budaya berbasis Masyarakat
 
Kelas literasi budaya dapat dilakukan dengan berbagai cara. Pertama, menggelar festival bacaan budaya. Kegiatan ini dilakukan dengan menggelar panggung terbuka. Kemudian, seluruh peserta didik akan membaca secara massal tentang buku kebudayaan. Hasil bacaannya ditanggapi oleh peserta didik melalui tulisan. Bahkan, salah satu di antara siswa dapat diajak naik ke atas panggung untuk berdiskusi atau bercerita tentang bahan bacaan yang dibaca. Kegiatan ini akan sangat membantu untuk memahamkan siswa tentang kebudayaan bangsa. Kedua, pameran kebudayaan. Kegiatan pameran dilakukan dengan memajang hasil karya-karya siswa yang berasal dari suatu daerah. Konkretnya, setiap kelas dibagi beberapa kelompok. 

Setiap kelompok akan menyiapkan satu stand tentang suatu daerah. Isi stand meliputi hasil karya daerah, ornamen daerah, penggambaran tentang tarian daerah, musik daerah hingga kekhasan lain tentang suatu daerah. Agar lebih menarik stand dihias sesuai keunikan daerahnya. Setelah stand tampak menarik, siswa yang lain dapat saling berkunjung dan saling memberikan komentar. Stand yang mendapatkan kunjungan terbanyak dapat dinobatkan sebagai stand favorit dan mendapatkan penghargaan. Hasilnya, siswa akan belajar lebih memahami akan keanekaragaman kebudayaan yang ada di Indonesia. Bahkan, peserta didik akan lebih menghayati secara lebih mendalam tentang arti pelestarian kebudayaan hingga sikap toleransi. 
 
Ketiga, kelas budayawan. Kelas budayawan dapat dilakukan dengan memberikan ruang-ruang yang cukup terbuka untuk para pegiat budaya berbagi inspirasi di ranah pendidikan. Konkretnya, seniman, budayawan, hingga pengambil kebijakan tentang kebudayaan didatangkan ke sendi-sendi pembelajaran. Datangnya mereka akan memberikan pembelajaran semakin hidup dan berwarna. Tidak hanya pengalaman bersentuhan langsung dengan para ahli, namun mereka juga akan menebar inspirasi. Dampaknya, siswa memiliki pemikiran yang lebih utuh untuk melestarikan budaya bangsa dan bersikap toleran akan setiap perbedaan kebudayaan. 
 
Bahkan, tidak jarang peserta didik akan terinspirasi dengan datangnya tokoh budaya tersebut. Ujungnya, sikap toleransi peserta didik akan semakin menguat. 
 
Keempat, bengkel budaya. Bengkel budaya merupakan pembiasaan positif di sekolah tentang budaya daerah. Dari bahasa, alat musik hingga tarian dan lainnya. Bengkel ini merupakan ajang latihan peserta didik dalam melestarikan budaya di daerahnya. Utamanya, sebelum peserta didik mengenal budaya daerah hingga bangsa lainnya. Agar bahasa daerah tidak punah, alat musik dan tarian pun tidak musnah. Bengkel budaya pun sebagai alat untuk memupuk rasa cinta akan budaya daerahnya sendiri. 
 
Kelima, mendekatkan dengan permainan tradisional. Kegiatan ini dilakukan dengan menyediakan alat-alat permainan tradisional di sekolah seperti bakiak, egrang, gobak sodor dan permainan lainnya. Ketika alat-alat sudah ada dan didekatkan kepada siswa, pasti pada saat istirahat ataupun pulang sekolah anak-anak akan bermain tradisional. Upaya ini pun sebagai bentuk mengurangi siswa kecanduan gadget. 
 
Kesadaran bersama
 
Berbagai kegiatan kelas literasi budaya akan berhasil jika seluruh elemen mempunyai kesadaran akan pentingnya menjaga kebudayaan nasional. Semakin semangat masyarakat dalam memegang teguh dan melestarikan budayanya, maka semakin kuat pula budaya nasional. Oleh sebab itu, kuatnya budaya bangsa berasal dari semangat masyarakat yang menguatkan budaya daerahnya. Maka, mari kita bersama-sama melestarikan budaya daerah untuk menguatkan budaya bangsa.   
 

BERITA LAINNYA


EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR