Jakarta (Lampost.co) -- Fenomena pencurian informasi kartu debit atau skimming nasabah bank menjadi buah bibir beberapa waktu terakhir. Bahkan, puluhan ribu nasabah bank berbondong-bondong mendatangi kantor cabang untuk melakukan penggantian kartu berteknologi chip guna menghindari kasus serupa.

Dalam kasus tersebut, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) dan PT Bank Mandiri Tbk mengalami kerugian paling besar. Setidaknya BRI melakukan ganti rugi terhadap 33 nasabahnya dengan nilai mencapai Rp200 juta. Sementara Bank Mandiri mengalami kerugian lebih besar dengan mengganti sebesar Rp260 juta dari 141 nasabah yang menjadi korban skimming.

Kedua bank ini merupakan bank yang paling banyak memiliki jaringan ATM di kelompok bank BUMN. Tercatat ATM BRI sebanyak 24.802 mesin, disusul Bank Mandiri yang memiliki 17.695 ATM, lalu PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI sebanyak 17.178 ATM, dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN yang memiliki jaringan 1.951 ATM.


Rincian kartu menggunakan chip (Foto: Bank Indonesia)


Kasus tersebut membuat Bank Indonesia (BI) selaku penjaga sistem pembayaran mempercepat proses implementasi penggunaan kartu chip pada kartu ATM/debit yang semula pada 31 Desember 2021 menjadi akhir 2019. Percepatan migrasi kartu chip ini dibahas dalam pertemuan antara perusahaan switching dengan seluruh perbankan pada pekan lalu.


Rincian kartu menggunakan chip yang terlihat dari belakang (Foto: Bank Indonesia)

Direktur Marketing PT Rintis Sejahtera Suryono Hidayat menilai kejadian skimming layaknya fenomena gunung es. Banyak bank tidak melaporkan ke BI sehingga kasus yang muncul ke permukaan hanya tampak bagi bank-bank besar.

Hal itu membuat BI sempat 'berang' dan memberi teguran keras kepada sejumlah bank di Indonesia. Kejadian skimming sebenarnya telah terjadi sejak awal Desember tahun lalu. Namun bank-bank terdampak baru melaporkan kasus tersebut baru-baru ini.

"BI juga marah kenapa enggak lapor itu kejadian sudah dimulai Desember tapi baru mulai lapor sekarang," ungkap Suryono, saat ditemui Medcom.id, di Hotel Ritz Carlton Mega Kuningan, Jakarta, Senin, 26 Maret 2018.

Laporan perbankan, katanya, sangat diperlukan bank sentral untuk melakukan identifikasi dan menganalisa pola kasus tersebut. Identifikasi sementara ialah bank-bank yang memiliki jumlah mesin ATM terbesar menjadi sasaran sindikat skimming. Selain itu, mereka menyasar negara-negara yang belum menggunakan kartu chip pada kartu ATM/debit, salah satunya Indonesia.

"Harusnya tiap masalah dilapor, mau dianalisa di mana masalahnya dan bagaimana caranya. Relatif yang punya ATM itu bank besar, termasuk BRI dan Mandiri. Kalau orang biasa enggak mengerti bagaimana masukin alatnya dan pasti orang yang biasa. Pasti mereka yang pernah kerja," ungkap Suryono.

Dalam hal ini, BI mempercepat implementasi penggunaan kartu chip guna menghindari kasus skimming di masa depan. Kewajiban ini tertuang dalam SE BI Nomor 17/51/DKSP tanggal 30 Desember 2015 perihal Perubahan Ketiga atas Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 11/10/DASP tanggal 13 April 2009 perihal Penyelenggaraan Kegiatan Alat Pembayaran dengan Menggunakan Kartu dan SE BI Nomor 17/52/DKSP tanggal 30 Desember 2015 perihal Implementasi Standar Nasional Teknologi Chip dan Penggunaan Personal Identification Number Online 6 Digit untuk Kartu ATM dan/atau Kartu Debet yang Diterbitkan di Indonesia.

"Dengan banyaknya kasus skimming BI mempercepat migrasi kartu chip, harusnya 2021 jadi 2019 sudah kelar," kata Suryono.

Pengamat Perbankan Paul Sutaryono angkat bicara mengenai kondisi tersebut. Ia menilai teknologi chip dipercaya dapat mencegah risiko pembobolan ATM dengan skimming. Meski terjadi pembengkakan biaya dalam pembuatan kartu chip, namun risiko yang ditanggung perbankan bisa lebih tinggi dari biaya yang dikeluarkan.

"Harap ingat risikonya bisa lebih tinggi daripada biaya yang dikeluarkan. Apalagi digital banking harus terus ditingkatkan," ucapnya, saat dihubungi Medcom.id, di Jakarta, Senin, 26 Maret 2018.

Bank Asing di Indonesia 100% Terapkan Teknologi Chip

Di sisi lain, PT Bank DBS Indonesia mengaku sudah melakukan migrasi kartu debit dari teknologi magnetik stripe ke chip sejak dua tahun lalu. Kartu tersebut diimpor dari luar lewat produsen kartu di Hong Kong.

Head of Consumer Banking Group Bank DBS Indonesia Wawan Salum mengatakan kini sebanyak 1 juta nasabah DBS telah menggunakan kartu debit menggunakan chip. Langkah tersebut diterapkan lebih awal demi kepentingan nasional, nasabah, dan industri perbankan di Indonesia.

"Saat ini semua nasabah sudah memiliki kartu debit dengan teknologi chip. Jadi sudah aman," imbuh dia, kepada Medcom, Senin, 26 Maret 2018.


Ilustrasi (Foto: Medcom/Mohammad Rizal)


DBS mengakui memang biaya kartu yang menggunakan teknologi chip sedikit lebih mahal dibandingkan dengan kartu biasa. Namun potensi keamanan lebih tinggi karena semua informasi terenkripsi dengan baik dan kartu lebih tahan lama.

Adapun pihaknya sudah merencanakan investasi pergantian kartu chip sejak lama sehingga tidak membebani bank. "Kita sudah lama ya, harga kartu lebih mahal sedikit ada sistem yang harus dibangun tapi biaya ini adalah kecil dibandingkan dengan potensi benefit buat bank maupun nasabah," imbuh dia.



Hal serupa disampaikan Chief Executive Officer Citibank NA Indonesia Batara Sianturi. Pihaknya sudah mengimplementasikan teknologi chip di seluruh kartu debit yang ada sejak 2017. Penggunaan kartu berteknologi chip merupakan standar global yang memang harus diterapkan Citibank. Terkait biaya, Citi telah merencanakan sejak awal sehingga tidak memberatkan.

"Migrasi sudah jalan dan sudah 100 persen sejak rencana dari tahun lalu karena itu standar global sehingga di ritel  banking seperti itu sudah dilakukan," kata Batara, kepada Medcom.id.

Untuk diketahui, BI telah meminta kepada industri perbankan untuk meningkatkan edukasi kepada nasabahnya. Hal ini dilakukan sebagai upaya mencegah terjadinya kejahatan skimming seperti yang belakangan ini terjadi di sejumlah daerah. Salah satu yang perlu diedukasi kepada nasabah adalah penggunaan PIN yang tidak mudah ditebak.

 

EDITOR

Winarko

TAGS


KOMENTAR