ILMU dan filsafat memiliki hubungan yang begitu erat. Sebab, sebelum menyelusuri seluk beluk filsafat, pemahaman soal teori pengetahuan (knowledge) mesti dipahami terlebih dahulu. Sebuah pengetahuan atau ilmu lahir dari hasil pemikiran manusia. Kemajuan yang dialami manusia sekarang tentu karena pengetahuan yang mereka miliki.  

Akan tetapi, pertanyaan besar muncul, apa sebenarnya yang ingin diketahui oleh manusia? Dari sini, muncul beberapa pertanyaan, seperti bagaimana manusia berpengetahuan? Apa yang ia lakukan dan dengan apa agar memiliki pengetahuan? Apakah yang ia ketahui itu benar atau salah? Apa yang sebenarnya mejadi tolok ukur kebenaran?



Beragam pertanyaan itu sebenarnya amat sederhana, karena telah terjawab dengan sendirinya ketika manusia sudah masuk ke alam realita. Namun, saat masalah-masalah itu diangkat dan dibedah dengan pisau ilmu, tidak menjadi sederhana lagi. Masalah-masalah tersebut akan berubah dari sesuatu yang mudah menjadi sesuatu yang sulit dan dari sesuatu yang sederhana menjadi sesuatu yang rumit (complicated).

Dalam hal ini, ilmu tidak lagi menjadi satu aktivitas otak seperti menerima, mengolah, dan merekam apa yang ada dalam benak, tetapi ia berubah menjadi objek. Para pemikir menyebut ilmu ini dengan epistemologi atau teori pengetahuan.

Asal-Usul

Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani. Istilah itu berasal dari dua kata "philos" dan "shopia" yang memiliki arti pencinta pengetahuan. Konon, yang pertama kali memakai kata "philoshop" adalah Socrates. Dia menggunakan kata itu lantaran dua alasan.

Pertama, kerendahhatian sosok Socrates. Walaupun tokoh Yunani tersebut adalah sosok yang luas pengetahuannya, dia tidak mau menahbiskan diri sebagai orang yang pandai. Namun, Socrates memilih untuk disebut pencinta pengetahuan. Kedua, saat itu di Yunani ada beberapa golongan yang menganggap diri mereka orang yang pandai (shopis). Mereka cakap beragumen dan bersilat lidah, sehingga apa pun yang mereka ucapkan dianggap benar. Jadi, pada saat itu, sebuah kebenaran amat bergantung pada apa yang mereka katakan.

Bagi golongan itu, kebenaran yang riil tidaklah ada. Akhirnya, pada waktu itu manusia terjangkit virus skeptis. Dengan kata lain, mereka dihantui keragu-raguan terhadap segala sesuatu. Sebab, apa yang mereka anggap benar belum tentu benar karena kebenaran bergantung pada orang-orang shopis.

Melihat kondisi demikian, Socrates terpanggil untuk membangun kepercayaan pada masyarakat Yunani bahwa kebenaran itu ada dan tidak harus bergantung pada kaum shopis. Dalam upayanya itu, Socrates berhasil dan mengalahkan kaum shopis. Walaupun berhasil, ia tidak ingin dikatakan pandai, tetapi lebih memilih kata philoshop sebagai sindiran kepada mereka yang merasa pandai.

Perjuangannya Socrates lalu oleh Plato, yang kemudian dikembangkan lagi oleh Aristoteles. Aristoteles menyusun kaidah-kaidah berpikir dan berdalil yang kemudian dikenal dengan logika (mantiq) Aristotelian. Mulanya, kata filsafat berarti segala ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia.

Akal dan Indra

Mungkinkah manusia itu memiliki pengetahuan? Masalah epistemologis yang sejak dahulu hingga kini menjadi bahan kajian ialah apakah berpengetahuan itu memungkinkan? Apakah dunia bisa diketahui? Sekilas, masalah ini menggelikan. Akan tetapi, ada beberapa orang yang mengingkari pengetahuan atau meragukan pengetahuan.

Misalnya, bapak kaum sophis, Georgias, yang pernah mengutip ungkapan, "Segala sesuatu tidak ada. Jika ada, tidak dapat diketahui. Atau, jika dapat diketahui, tidak bisa diinformasikan”. Mereka mempunyai beberapa alasan yang cukup kuat ketika berpendapat bahwa pengetahuan sesuatu yang tidak ada atau tidak dapat dipercaya.

Pyrrho—salah seorang dari mereka—menyebutkan bahwa manusia saat hendak mengetahui sesuatu pasti menggunakan dua alat, yaitu indra dan akal. Indra yang merupakan alat pengetahuan yang paling dasar mempunyai banyak kesalahan, baik indra penglihat, pendengar, peraba, pencium, dan perasa.

Mereka mengatakan satu indra saja mempunyai begitu banyak kesalahan. Kalau demikian, bagaimana pengetahuan lewat indra dapat dipercaya? Demikian pula dengan akal. Manusia kerap salah dalam berpikir. Bukti yang paling jelas bahwa di antara para filsuf sendiri terdapat perbedaan yang jelas, tidak mungkin semua benar, pasti ada yang salah. Maka, akal pun tidak dapat dipercaya. Sebab, alat pengetahuan hanya dua dan keduanya mungkin bersalah, maka pengetahuan tidak dapat dipercaya.

Para filsuf Islam menyebutkan beberapa sumber sekaligus alat pengetahuan. Pertama, alam tabiat atau alam fisik. Kedua, alam akal. Ketiga, analogi. Keempat, hati dan ilham. Kemudian, syarat dan penghalang pengetahuan. Meskipun pengetahuan tidak bisa dipisahkan dari manusia, sering ada hal-hal yang mestinya diketahui oleh manusia ternyata tidak diketahui olehnya.

Maka, ada beberapa prasyarat untuk memiliki pengetahuan. Pertama, konsentrasi. Kedua, punya akal yang sehat. Ketiga,  indra. Jika syarat-syarat ini terpenuhi, seseorang akan mendapatkan pengetahuan lewat indra dan akal. Ketika syarat-syarat itu tidak terpenuhi, pengetahuan akan terhalang dari manusia. Secara spesifik, ada beberapa sifat yang menjadi penghalang pengetahuan, seperti sombong, fanatisme, jiwa yang lemah, dan mencintai materi secara berlebihan.

BERITA LAINNYA


EDITOR

Firman Luqmanulhakim

TAGS


KOMENTAR