NYERI sendi merupakan keluhan yang sering ditemukan pada praktik kedokteran. Hasil riset kesehatan dasar 2013 menunjukkan prevalensi penyakit sendi berdasarkan gejala atau diagnosis tenaga kesehatan sebesar 24,7%. Prevalensi penyakit sendi ini meningkat dengan semakin bertambahnya usia yaitu usia 25—34 tahun sebesar 16,1%, 35—44 tahun sebesar 26,9%, dan 45—54 tahun sebesar 37,25%.
Data tersebut menunjukkan penyakit sendi banyak dialami mereka dengan usia produktif, yang akan memberikan dampak terhadap pekerjaan, sosial, dan ekonomi bagi penderita dan keluarganya.
Penyakit reumatik sebagian besar memberikan keluhan nyeri sendi, tetapi ada juga yang memberikan keluhan lain, seperti nyeri otot, kaku sendi, ruam kulit, rambut rontok, demam lama, berat badan turun, mata kering, kelemahan otot, dan bungkuk.
Penyakit reumatik yang sering dijumpai, antara lain nyeri pinggang, osteoartritis (pengapuran sendi), reumatik akibat asam urat, artritis reumatoid, penyakit reumatik jaringan lunak dan lupus. Penyakit reumatik lain yang prevalensinya lebih rendah, antara lain ankylosing spondylitis, artritis psoriatik, scleroderma, dan sindrom sjogren.
Beberapa hal penting dalam pengelolaan penyakit reumatik ialah diagnosis dini, penatalaksanaan yang tepat, adekuat, dan dini serta monitoring efektivitas dan efek samping pengobatan serta upaya promotif dan preventif. Hal ini sejalan dengan tema Hari Artritis Sedunia (World Arthritis Day) yaitu it's in your hands, take action, yang jatuh pada 12 Oktober 2017.
Tujuannya ialah meningkatkan awareness penyakit reumatik dan muskuloskeletal sehingga dapat didiagnosis dan diobati lebih awal. Dalam rangka Hari Artritis Sedunia ini, PB Perhimpunan Reumatologi Indonesia dan cabang-cabangnya, seperti di Bandung, Malang, dan Surakarta telah melakukan berbagai kegiatan, baik untuk awam maupun tenaga kesehatan, dalam meningkatkan awareness penyakit reumatik.
Diagnosis dini pada penyakit reumatik penting, antara lain karena kerusakan sendi dan kecacatan bersifat irreversible sehingga diperlukan pengenalan dan diagnosis serta pengobatan dini yang adekuat sehingga kerusakan sendi dan kecacatan dapat dicegah, dihambat, atau dihentikan. Selain itu, respons terhadap pengobatan pada kasus yang dini lebih baik bila dibandingkan dengan kasus yang sudah lanjut.
Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan angka diagnosis dini ialah dengan memberikan edukasi kepada masyarakat tentang penyakit reumatik dan meningkatkan kewaspadaan dini bagi tenaga kesehatan di layanan primer. Kerja sama perhimpunan profesi atau perhimpunan seminar dengan Dinas Kesehatan merupakan salah satu langkah strategis yang dapat diambil untuk mempercepat usaha meningkatkan pengetahuan masyarakat dan kewaspadaan dini tenaga kesehatan di layanan primer.
Hal ini sejalan dengan sistem pelayanan kesehatan pada era JKN saat peran fasilitas pelayanan kesehatan primer sangat besar dan merupakan pelayanan terdepan yang akan mengidentifikasi kasus-kasus penyakit reumatik.
Pengobatan penyakit reumatik bergantung pada jenis penyakit reumatiknya. Pada umumnya pengelolaan penyakit reumatik terdiri dari pengobatan nonfarmakologis, pengobatan farmakologis, dan pada beberapa jenis penyakit reumatik memerlukan pengobatan dengan pembedahan.
Pengobatan nonfarmakologis meliputi edukasi kepada pasien dan keluarga serta terapi fisik dan rehabilitasi. Edukasi penting antara lain karena beberapa penyakit reumatik memerlukan pengobatan dalam jangka panjang yang memerlukan kepatuhan pengobatan yang tinggi. Ketidakpatuhan pengobatan akan mengakibatkan pengobatan tidak optimal, aktivitas penyakit tetap tinggi, kerusakan sendi atau organ, dan kecacatan.
Penyakit reumatik inflamasi, misalnya AR dan artritis psoriatik, memerlukan pengobatan dengan obat-obat yang dapat mengubah perjalanan penyakitnya disebut sebagai disease modifying anti-rheumatic drugs (DMARD). DMARD dapat dikelompokkan menjadi DMARD konvensional (metotreksat, sulfasalazine, leflunomide, siklosporin, dan klorokuin) dan DMARD biologic (misalnya anti-TNF alfa dan anti-interleukin 6).
Obat-obat ini terbukti dapat menurunkan aktivitas penyakit sampai normal dan mencegah atau menghentikan kerusakan sendi akibat penyakit reumatik tersebut. Kerusakan sendi pada AR dan artritis psoriatik bersifat irreversible sehingga penting sekali untuk mengobati pasien penyakit reumatik inflamasi ini sedini mungkin sebelum terjadinya kerusakan sendi.
Obat DMARDs pilihan pertama pada kasus artritis reumatoid ialah metotreksat (MTX). MTX dipilih sebagai obat lini pertama oleh karena alasan efektivitas, efek samping, dan biaya. DMARD konvensional lainnya dipilih bila gagal atau ada efek samping pada pemberian MTX. Pada kasus AR yang gagal dengan pengobatan DMARD konvensional, pengobatan pilihannya adalah DMARD biologis. Metotreksat sudah masuk formularium nasional, tetapi belum tersedia secara reguler.
Proses pengadaan obat tersebut saat ini masih dilakukan dengan cara special access scheme (SAS), yang bisa memerlukan waktu 3—6 bulan. Diharapkan, proses pengadaan secara reguler dapat segera terealisasi sehingga terjamin kontinuitas ketersediaan obat tersebut. DMARD biologis sudah tersedia secara reguler di Indonesia, tetapi belum masuk formularium nasional.
Pengobatan penyakit reumatik inflamasi kronis seperti artritis reumatoid memerlukan pengobatan dengan DMARD jangka panjang. Target pengobatan artritis reumatoid adalah remisi. Remisi artinya tidak adanya gejala dan tanda aktivitas penyakit. Bila remisi tidak bisa tercapai, target pengobatan adalah low disease activity. Parameter untuk menilai aktivitas penyakit AR ini menggunakan skor aktivitas penyakit AR, yang sering digunakan adalah DAS 28.
Pengobatan seperti ini dikenal dengan istilah treat to target. Selama pengobatan tersebut, harus dilakukan monitoring berkala aktivitas penyakit dan kemungkinan efek samping pengobatan. Perlunya pengobatan jangka panjang dan monitoring efektivitas serta efek samping pengobatan ini harus disampaikan kepada pasien dan keluarganya pada awal pengobatan sehingga tercapai kepatuhan dan target pengobatan.

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR