LIWA (Lampost.co)--Manusia hanya bisa berdoa dan berusaha, dan Allah yang maha menentukan. Hal itu yang kerap diucapkan orang-orang di sekitar Parosil Mabsus dalam menjalankan kehidupannya.

Bupati Lampung Barat periode 2017-2022, Parosil Mabsus yang baru dilantik Senin (11/12/17), meniti perjalanan hidupnya seperti gelombang laut yang ada pasang surutnya, hingga akhirnya berujung pada pelantikan dirinya memimpin Kabupaten Lampung Barat.



Selama  ini sebagian besar masyarakat Lampung Barat mengenal sosok Parosil Mabsus  sebagai seorang politisi ulung di Bumi Sekala Bkhak yang aktif di Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan.
Pria kelahiran Sinarjaya, 12 Maret 1974 itu makin dikenal namanya sejak duduk sebagai anggota DPRD Lampung Barat pada pemilihan umum (Pemilu)  Legislatif pada 2014  dengan perolehan suara terbanyak di daerah pemilihannya. Bahkan popularitas  putra bungsu dari pasangan Basri Tohir ( Alm) dengan Hi Asnah mengantarkan dirinya kembali merasakan empuknya korsi wakil rakyat pada pemilu Legilatif 2009 kemudian  terulang kembali ditahun 2014 dengan menyandang status sebagai anggota dewan peraih suara terbanyak. 
 Selama lebih 12 tahun menjadi wakil rakyat,  banyak asam garam yang telah dienyam alumni FKIP Unila itu, terutama menyangkut upaya menyerap aspirasi dan memperjuangkan harapan masyarakat. Di kalangan  politisi dan birokrasi, Pakcik sapaan Akrap Parosil tentu tidak bisa  lepaskan dari bayang-bayang seorang kakak, Mukhlis Basri yang menjabat sebagai Bupati Lampung Barat periode sebelumnya.
Namun tidak banyak yang tahu jika sosok Parosil juga sempat merasakan betapa susahnya perjuangan  memulai karir dari bawah hingga akhrinya dilantik sebagai orang no satu di Lampung Barat selama lima tahun kedepan. 
Ia mengawali karis sebagai guru honorer dan Lembaga Himpunan Pemekon
sebelum terjun ke dunia politik pada tahun 2003 silam, Parosil Mabsus  merupakan tenaga pendidik dan tercatat sebagai guru Honorer yang tidak kenal lelah mendidik para siswa sebagai generasi penerus bangsa, serta mengabdi sebagai anggota Lembaga Himpunan Pemekon ( LHP).
Setelah menyelesaikan bangku kuliah dan menyandang gelar Sarjana  Pendidikan  di tahun  1999, Parosil Mabsus memutuskan untuk pulang ke kampung halaman. Meski menjadi pilihan yang cukup sulit ketika kebanyakan pemuda seusianya merantau ke kota untuk merubah nasib. 
Namun keinginannya untuk memajukan  dunia pendidikan di kampung halaman  menjadi motivasi bagi Parosil untuk melamar sebagai seorang guru honorer di akhir tahun 1999, dan tercatat sebagai guru pada SMP 2 Sumberjaya (Saat ini SMP 1 Kebun Tebun) yang lokasinya hanya beberapa kilo meter dari kediamannya. "Awalnya berat untuk pulang kampung, karena  dulu selesai sekolah anak muda pada merantau. Tapi  niat saya ingin membahagiakan orang tua, saya putuskan pulang kampung, dan saya niatkan membangun kampung halaman. Saya juga ketika pulang kampung selain honor menjadi anggota LHP," Kata Parosil berbagi cerita kepada Lampung Post. Selasa (12/12/17).
Mengajar sebagai Guru Honorer, mata pelajaraan PPKN dan beberapa pelajaran lain, Parosil Mengaku setiap bulan mendapat gaji sekitar Rp80.000  yang pembayarannya terkadang di terima tiga bulan sekali. Parosil kemudian diterima sebagai guru kontrak dengan gaji sekitar 350.000,   pada  tahun  2002  dan  ditugaskan mengajar di SMA 1 Lemong Lampung Barat (saat ini masuk kabupaten Pesisir Barat).  Karena jauhnya jangkauan dari kediamannya di Kebun Tebu, Parosil memutuskan untuk menjadi anak kos. 
Pada tahun 2003, saat memasuki tahapan pemilu legilatif,  Parosil berkonsultasi dengan keluarga, mengutarakan niatnya ingin terjun kedunia politik mengikuti jejak sang kakak Mukhlis Basri yang saat itu baru terpilih sebagai wakil bupati mendampingi Bupati Erwin Nizar. Berkat Suport dan dukungan keluarga Parosil akhirnya memutuskan untuk mundur sebagai guru kontrak dam  mendaptar sebagai calon anggota DPRD Lampung Barat dan terpilih dengan perolehan suara terbanyak di dapilnya. Upayanya terus dilakukan sampai akhirnya ia maju dalam pemilihan bupati Lampung Barat 2017.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR