FUNGSI Kibutz di usaha mengatasi kemiskinan Lampung disubstitusikan pada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang kini sudah hadir di setiap desa. BUMDes dengan modal dari Dana Desa membuat proyek sederhana yang mudah dijalankan, seperti menanam singkong dengan menyewa lahan dan mempekerjakan warga miskin desanya.

Panen singkong, kapan saja, selalu banyak pabrik yang menampungnya. Luas tanaman singkong disesuaikan dengan jumlah warga miskin yang bisa dimobilisasi. Prioritas buat yang pengangguran penuh. Kepada mereka yang punya ikatan kerja lain, tapi masih bisa part timer, diberi kesempatan untuk menambah pendapatan. Sedang soal penghasilan, sesuai dengan kesepakatan para pihak.



Bentuk proyek paling tepat mungkin berupa kerja sama bagi hasil antara manajemen BUMDes di satu pihak dan para pekerja di lain pihak. Berapa persen hasil panen milik manajemen dan berapa milik kelompok pekerja, sesuai dengan kesepakatan. Terpenting, kepada para pekerja diberi biaya hidup bulanan seperti di proyek PIR, yang nantinya dipotong dari bagian hasil panen.

Dengan adanya jaminan biaya hidup bulanan, ditambah penerimaan dana PKH, bantuan pangan nontunai (BPNT), dan berbagai bansos lainnya, diperkirakan mayoritas warga di bawah garis kemiskinan akan bisa langsung mentas dari bawah garis kemiskinan. Tanpa kecuali, mereka yang hanya berpartisipasi part timer di proyek BUMDes.

Baca juga:

Mengatasi Kemiskinan Lampung!

Mengatasi Kemiskinan Lampung! (2)

Tentu bukan hanya proyek singkong. Kalau bisa dapat akses untuk menampung hasil panennya, banyak jenis tanaman yang relatif sederhana penanganannya bisa dijalankan. Misalnya tebu, PTPN 7 Bunga Mayang selama ini menampung tebu hasil panenan rakyat. Bahkan, GGP juga selama ini membina petani beberapa kecamatan di Tanggamus untuk tanaman pisang emas kualitas ekspor.

Dengan adanya BUMDes yang bisa diandalkan kelembagaannya untuk mengatasi kemiskinan, yang kebetulan terangkai dengan kegiatan pengembangan Dana Desa, kalau bisa dikelola dengan baik upaya mengatasi kemiskinan jelas tidak terlalu rumit.

Manajemen atau pengelolaan proyek semacam ini juga amat sederhana, sehingga tak harus mencari manajer yang berkualifikasi tertentu seperti pada manajer koperasi, hingga koperasinya bangkrut, manajer yang memenuhi kualifikasi tidak kunjung didapat.

Terpenting pengelola proyek ini berkemauan untuk bekerja keras dan jujur. Dengan tekad kuat untuk membantu sesama keluar dari garis kemiskinan, skala usaha yang tak terlalu besar ini akan bisa dikelola dengan baik. *** (Habis)

loading...

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR