KALIANDA (lampost.co) -- Agar anak dapat memiliki karakter seperti kemandirian dan berakhlak mulia, kunci yang harus dilakukan para pendidik adalah dengan mengenalkan pendidikan budi pekerti sejak dini. Hal itu menjadi kunci mengatasi permasalahan moral, ketika anak tumbuh remaja hingga dewasa.
Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kelompok Bermain (Kober) Insan Kamil di Desa Sukaraja, Palas, Lampung Selatan, merupakan salah satu lembaga pendidikan yang mengutamakan pembelajaran budi pekerti kepada para murid.
"Saat ini makin sering dijumpai permasalahan kenakalan remaja. Untuk itu menanamkan budi pekerti sangat penting agar anak tumbuh menjadi generasi dengan karakter mulia," kata pengelola PAUD Insan Kamil, Rohana Dahlia, Senin (11/12/2017).
Rohana menyebutkan di sekolah yang berdiri sejak 2014 tersebut pembelajaran budi pekerti dilakukan melalui pembiasaan, seperti mengajarkan anak selalu tersenyum, saling sapa dan salam kepada sesama teman, guru, dan orang tua, meminta maaf ketika melakukan kesalahan, berpamitan sebelum pergi, serta membantu pekerjaan orang tua.
Selain itu, menurut Rohana, anak juga sudah dibiasakan dengan berbagai kegiatan sederhana, seperti membiasakan mereka membawa perlengkapan belajarnya sendiri, membiasakan anak makan sendiri, serta membiasakan menjalankan perintah agama guna menumbuhkan kemandirian dan kedisiplinan anak.
"Insya Allah, kalau semua sudah dibiasakan, budi pekerti baik akan tumbuh dan karakter anak pun akan terbentuk," kata dia.
Rohana menambahkan pada dasarnya pembelajaran budi pekerti tidak cukup dilakukan di sekolah, tetapi juga perlu dukungan kedua orang tua dan lingkungan keluarga yang juga menanamkan pendidikan serupa.
"Peran pendidik hanya melanjutkan tugas. Sebab, waktu anak lebih banyak ada dalam lingkungan keluarganya. Anak akan banyak meniru perilaku orang tua mereka dalam kesehariannya," kata dia.

Masa Keemasan



Rohana menyebut usia dini merupakan masa emas pembentukan karakter anak. Sebab pada usia antara 0—6 tahun, otak anak mengalami perkembangan maksimal, yakni mencapai 80%.
"Anak di usia tersebut akan cepat menerima dan menyerap informasi yang dilihat dan didengar oleh mereka. Bahkan, mereka belum bisa melihat mana yang baik dan mana yang buruk. Untuk itu banyak yang menyebut masa tersebut sebagai masa-masa emas anak (golden age)," kata dia.
Menurutnya, untuk membentuk karakter anak di masa keemasannya, pihak sekolah menerapkan pembelajaran melalui metode lima sentra, yakni sentra persiapan, seni, alam, balok, dan ibadah atau agama. Cara tersebut bertujuan memaksimalkan perkembangan seluruh kecerdasan anak.
Seperti pada sentra persiapan, guru mulai melakukan pengenalan membaca dan berhitung pada siswa sebagai bekal memasuki jenjang sekolah dasar.
Pada sentra seni, siswa diajak menghasilkan karya melalui mewarnai, menggambar, menari, dan kegiatan lainnya. Sementara pada sentra alam, anak diajak belajar mengenal dan memanfaatkan alam sekitar untuk mendukung kreativitas mereka. 

 

loading...

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR