BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Semakin tua semakin jadi, itulah pepatah yang cocok menggambarkan semangat juan'g pedagang hewan kurban musiman, Amirrudin (65). Di usianya yang sudah tidak muda lagi, ia rutin setiap tahun berjualan hewan kurban menjelang Iduladha atau Lebaran Haji.
Ditemui di lokasi berdagangnya yang sederhana dengan papan dan kayu seadanya di Jalan Rasuna Said, Pengajaran, Telukbetung Utara, Bandar Lampung, ia mengatakan baru berjualan selama 23 hari. “Belum sampai sebulan berjualan, saya akan berjualan terus sampai hari Minggu 3 September 2017 nanti,” kata Amir sapaan akrabnya ditemui Rabu (30/8/2017).
Mengenakan kemeja lusuh berwarna putih cokelat, dengan topi army untuk melindunginya dari terik matahari, Amir setia menunggui para pembeli mampir ke lapaknya berdagang. Dengan usia yang tak lagi muda, Amir harus bersaing dengan perkembangan zaman dan teknologi jual beli kurban melalui internet, dan juga pesaing pedagang musim lainnya yang lebih muda secara umur. “Ya di sini ada tiga lapak pedagang, yang lainnya anak muda semua. Sekarang sudah banyak pedagang musiman anak anak muda. Cuman saya yang paling tua sendiri, senior,” seloroh warga asli Kelurahan Pangajaran, Bandar Lampung ini.
Dengan sabar dan penuh senyum, Amir melakoni tawar menawar harga kambing dan sapi kurbannya kepada seorang pembeli yang datang. Dagangan kurbannya dipatok harga yang bervariasi. Untuk sapi paling murah seharga Rp13 juta, ukuran sedang Rp18,5 juta, dan ukuran super seharga Rp23,5 juta. Sementara untuk hewan kurban kambing paling murah seharga Rp1,5 juta, Rp2 juta,Rp3 juta hingga Rp5 juta per ekornya. “Keuntungannya tidak banyak untuk sapi paling saya ambil Rp500 ribu saja. Sementara kambing Rp100 ribu-Rp200 ribu saja,” ujar pria dengan delapan anak ini.
Asal hewan kurban yang didagangkannya dari Kalianda, Lampung Selatan, dan Tegineneng, Pesawaran. Ia juga mengatakan jika seluruh hewan kurbannya telah lolos pengecekan dari Dinas Peternakan setempat. “Kalau sapi itu dari Kalianda semua ngambilnya. Alhamdulillah sudah dinyatakan sehat semua, jadi aman,” kata Amir.
Jika tidak berjualan hewan kurban, sehari-hari Amir berprofesi sebagai buruh serabutan. Pekerjaan apa pun dilakoninya mulai dari mengecat rumah dan kuli bangunan. “Selagi kaki dan tangan saya masih kuat angkat angkat saya pasti akan kerjakan,” ujarnya bersemangat.
Di lapak dagangan hewan kurban itu dia tidak sendirian, ditemani anak nomor tujuhnya, dan satu orang tetangganya Amir rutin mencari rumput dan dedaunan untuk makan ternaknya. “Ngambil makanannya dari Lempasing. Ya lumayan juga operasional dan nungguinnya rokok dan kopi jaga siang sampai malam habis Rp70 ribu sehari,” jelasnya.
Pria yang seluruh rambutnya telah memutih ini juga masih berharap bantuan dari Pemerintah Kota (Pemkot) setempat. Terlebih kedua anak bungsunya masih bersekolah di SMP dan SMK di Kota Bandar Lampung. “Ya paling enggak ada perhatian. Siapa tahu bisa modalin ternak, setidaknya bantu beli subsidi lah,” harapnya.
Amir hanya berharap dagangannya bisa laku banyak sebelum Lebaran Haji tiba, tahun lalu ia mampu menjual total 55 ekor sapi dan kambing. “Kalau sekarang baru terjual total 40 ekor saja. Mudah-mudahan masih ada yang membeli,” pungkasnya.


 

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR