TERDAPAT dua kompleks menhir yang dulu dibangun suku Abung Selatan di belantara pegunungan sebelah utara Tanggamus. Kedua kompleks itu berada di tepi daerah dataran rendah yang dilalui aliran Way Muaraabung, Way Negeriabung, Way Mintjang, dan sungai besar Way Ilahan. Daerah ini merupakan pusat orang Abung dulu di wilayah selatan.

Pada awal Juni 1953, Friedrich W Funke singgah di dataran rendah Semaka untuk menyiapkan penelitian di wilayah Ilahan atas. Funke memutuskan untuk melewati jalur penjelajahan yang sama dengan sebelumnya yang diambil para Paminggir Semaka pada 1765, saat menghancurkan desa pemburu kepala di Way Mintjang.



Pada perjalanan ke Semaka, penelitian Funke sia-sia di Talangpadang, pada penduduk yang sangat mengetahui medan berdasarkan jejak permukiman dulu di wilayah Ilahan. Baru di sekitar Kotaagung, Funke mendengar cerita dari Batu Bedil mengenai batu aneh berbentuk senapan yang diletakkan setan di tengah hutan di masa silam.

Setelah melakukan beberapa usaha, Funke berhasil menemukan pemandu yang dapat membawanya ke tempat yang dimaksud. Penjelajahan pertama ke pegunungan itu berhasil dilaksanakan, dimana ini merupakan tempat tinggal suku Abung Selatan pada zaman dahulu.

Dalam perjalanan dari Tanjungkarang ke Kotaagung, di tengah perjalanan terdapat wilayah Pringsewu dan Tanjungheran. Di wilayah ini, terdapat jalan kecil bercabang menuju arah barat laut yang melintasi Way Mintjang setelah kira-kira 2,5 km. Hingga di Tanjungheran, wilayah terus menanjak, tetapi daerahnya agak datar. Tepat di balik wilayah tersebut, kini daerahnya bergunung-gunung.

Jalan menuju daerah itu sebagian merupakan hutan sekunder yang cukup lebat. Di luar Way Mintjang, terdapat beberapa keluarga Jawa yang menempati tiga rumah bambu saling berdekatan. Mereka menanami lahan dengan sejumlah kecil tanaman kopi dan lada di samping sepetak sawah kering.

Di seberang aliran sungai kecil, terdapat jalan yang mengarah ke tepi Way Muaraabung. Jembatan kayu yang lapuk menuntun jalan ke seberang tepi utara, kemudian terletak kampung Gedungagung, Penantian, dan Muaradua. Tiga permukiman tersebut masuk ke wilayah Marga Rebang yang juga ditinggal oleh Rebang-Melayu yang berpindah dari wilayah utara dalam beberapa generasi terakhir. Setelah beberapa jam, total sekitar 2,5 jam jauhnya dari Tiuhmemen, Funke tiba di kampung yang sudah maju bernama Pulaupanggung.

Permukiman ini dulunya merupakan umbulan yang hanya ditempati pada masa bercocok tanam. Namun, kini menjadi suatu kampung yang belum memiliki rumah-rumah kokoh seperti perkampungan Muaradua, Gedungagung, dan Penantian. Rumah-rumah itu dibangun dengan bambu.

Wilayah Pulaupanggung bergunung-gunung dengan ketinggian 300 meter. Tepat di balik permukiman terdapat Way Ilahan. Di sini masih terdapat aliran sungai yang berasal dari hutan primer. Airnya mengalir sangat deras di antara bebatuan, sering juga berbuih. Sebuah jalan setapak menuju tepi sisi turunan yang curam. Sungai ini hanya bisa dilalui menggunakan batang kayu yang besar.

Di tepi lain, Funke berjalan menanjak sekitar 30 meter, hampir vertikal dengan pinggiran sungai yang ditumbuhi tumbuhan yang sangat lebat. Setelah itu terdapat jalan setapak curam menuju utara ke pegunungan yang tertutupi hutan primer. Jalannya sering ditumbuhi alang-alang dari pembukaan ladang dahulu. Setelah sekitar 1 jam perjalanan, tibalah di sebuah umbul, gubuk sederhana dari lempengan bambu yang dihuni orang Rebang.

BERITA LAINNYA


EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR