LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 11 July
6436

Tags

LAMPUNG POST | Menata Perlintasan Batu Bara
Kereta api batu bara rangkaian panjang. i.ytimg.com

Menata Perlintasan Batu Bara

TRUK angkutan batu bara kerap menjadi masalah di jalan lintas Lampung. Terakhir, truk pengangkut batu bara mengalami patah as akibat kelebihan muatan di jalan lintas Sumatera yang mengakibatkan macet parah hingga 18 km, Sabtu (8/7/2017).
Bukan pertama kali pengangkut batu bara membuat masalah. Tidak hanya truk yang melintasi jalan raya, kereta pembawa batu bara yang memiliki jalur sendiri pun ikut menyumbang kemacetan di Bumi Ruwa Jurai sejak beberapa tahun terakhir.
Pembiaran truk pengangkut batu bara overtonase melintas pun menjadi penyumbang kerusakan jalan di provinsi ini. Aparat tidak berani mengeluarkan cakarnya mengatasi arus distribusi batu bara yang mengancam infrastruktur di Lampung ini.
Sudah lama, Dinas Perhubungan menyiapkan peraturan gubernur pembatasan tonase muatan kendaraan pengangkut batu bara. Namun, regulasi mencegah kerusakan jalan itu tidak kunjung terwujud. Di berbagai ruas jalan kondisinya makin memburuk.
Apalagi pelanggaran muatan sumbu truk angkutan yang sebelumnya dikendalikan melalui jembatan timbang tidak bisa lagi dilakukan. Seiring diberlakukannya UU No. 23/2014 tentang Pemerintah Daerah terhadap kewenangan jembatan timbang ditarik Pemerintah Pusat.
Kondisi tanpa payung hukum mengendalikan truk bertonase lebih ini tidak bisa dibiarkan. Pemprov harus bergegas agar sarana infrastruktur jalan tidak makin parah, demi memperlancar distribusi barang sebagai penunjang perekonomian daerah.
Pembangunan jalan alternatif atau shortcut track kereta api batu bara rangkaian panjang Rejosari—Tarahan juga wajib dikebut. Mengingat produksi batu bara yang terus meningkat dan pengembangan usaha perusahaan batu bara, PT Bukit Asam (BA).
Tahun ini saja, PT Kereta Api Indonesia berkomitmen mengangkut batu bara PT BA dari lokasi tambang sebanyak 21,70 juta ton, naik 22,5% dibanding realisasi tahun lalu yang hanya 17,72 juta ton. Dari jumlah itu, 18 juta ton diangkut ke Pelabuhan Tarahan, Bandar Lampung.
Meningkatkan produksi batu bara itu tentu berdampak pada frekuensi angkutan dan berimbas pada kemacetan jalan raya karena kendaraan terpaksa berhenti saat kereta melintas. Tidak hanya angkutan batu bara, Pemprov Lampung juga harus mengkaji keberadaan stockpile yang kerap memberi dampak buruk bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.
Harus ada keterpaduan penanganan distribusi batu bara ini, mulai dari muatan truk, perlintasan kereta, hingga keberadaan stockpile. Ke depannya, tidak ada lagi masalah yang ditimbulkan pendistribusian batu bara ini. n

LAMPUNG POST

BAGIKAN


TRANSLATE

REKOMENDASI

  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv