PEMILIHAN Gubernur Lampung diperkirakan didominasi muka-muka lama. Apakah masih ada yang menarik dengan pilgub yang akan digelar pada 27 Juni 2018 itu?
Berdasarkan hasil sigi yang dilakukan Rakata Institut, hanya ada empat tokoh yang dinilai memiliki sumber daya yang cukup untuk maju dalam Pilgub Lampung. Mereka adalah calon petahana M Ridho Ficardo, Wali Kota Bandar Lampung Herman HN, Bupati Lampung Tengah Mustafa, dan Ketua DPD I Golkar Lampung Arinal Djunaidi.
Kecil kemungkinan muncul tokoh baru yang akan membuat Pilgub Lampung makin menarik. Sosok baru yang memiliki kompetensi dan integritas tanpa cela serta kaya inovasi tidak dimunculkan atau didorong maju. Terkadang pilkada memang bukan menjadi tempat bagi orang yang memiliki kapasitas.
Orang yang mempunyai kecakapan dan integritasnya baik dan diperkirakan mampu memimpin daerah belum tentu dilirik oleh partai politik. Parpol akan berpikir ulang tentang modal jika memiliki calon yang punya kompetensi, tetapi minim uang.
Kembali ke empat tokoh di atas. Publik di Bumi Ruwa Jurai tentu sudah memiliki penilaian tersendiri tentang mereka. Herman dikenal sebagai wali kota yang gemar membangun jalan layang. Mustafa tenar dengan sebutan bupati ronda.
Kemudian Arinal dikenang sebagai mantan sekretaris Provinsi Lampung yang berhasil menjadi ketua partai. Ridho pun sangat populer dengan beberapa program andalannya.
Pendaftaran pasangan cagub dan cawagub kurang dari satu bulan lagi. Parpol dan bakal cagub masih sibuk dengan pilihan calon wakil gubernur. Hampir belum ada cagub yang meresmikan pendampingnya.
Sejumlah nama-nama yang dicalonkan sebagai wakil gubernur pun masih didominasi muka-muka lama dan orang-orang parpol. Misalnya Bupati Lampung Timur Chusnunia, Bupati Lampung Selatan Zainudin Hasan, Ketua DPD Gerindra Gunadi Ibrahim, dan mantan Kapolda Lampung Irjen Ike Edwin. Kemudian beberapa anggota DPD, seperti Ahmad Jajuli dan Andi Surya.
Pilkada memang milik orang-orang di lingkaran parpol. Partai politik tidak mau ambil risiko untuk mengusung calon lain yang selama ini belum dikenal oleh masyarakat. Dengan mencalonkan kepala daerah, parpol dan kandidat tidak butuh waktu lama untuk sosialisasi.
Pilgub Lampung akan menjadi hal biasanya saja. Kita hanya perlu menunggu apakah Ridho akan melanjutkan pemerintahan untuk periode kedua atau dia akan digantikan pesaingnya.
Gerakan yang dilakukan sejumlah lembaga kemahasiswaan bisa menjadi penyemangat agar Pilgub Lampung berlangsung lebih jujur dan adil tanpa ada politik uang. Seperti yang disuarakan BEM dan Dewan Perwakilan Mahasiswa FISIP Universitas Lampung, Lembaga Penerbitan Mahasiswa Republica, Lingkar Studi Sosial Politik (LSPP) Cendekia, HMJ Ilmu Pemerintahan, dan HMI Komsospol Unila.
Upaya mahasiswa untuk mendorong pilgub tanpa politik uang patut diapresiasi. Mereka tidak menginginkan peristiwa pada Pilgub 2014 berulang. Para kandidat, penyelenggara, dan pengawas pilkada diminta mengedepankan integritasnya sehingga pemilihan berlangsung lebih demokratis.
Siapa pun yang terpilih, jika pilkada dibangun dengan etika politik yang baik dan penyelenggara yang adil, ada harapan lahir pemimpin yang mampu membawa perubahan. Kita berharap pilkada bukan hanya rutinitas lima tahunan tanpa membawa makna apa apa terhadap dunia politik di Lampung.

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR