PESAWARAN (Lampost.co)--Cita-cita mengenyam pendidikan tinggi pupus sudah karena keterbatasan biaya. Tapi itu tak membuat remaja itu  kecewa dan terpuruk dalam keterbatasan. Leni pun mengasah keahliannya dengan menyulam tapis sampil mendulang rupiah membantu perekonomian keluarganya.

Leni (13), warga Desa Negerikaton, Kecamatan Negerikaton, Kabupaten Pesawaran, belajar membuat tapis sejak ia putus sekolah di tingkat SD. 



Ayahnya bekerja sebagai buruh panjat kelapa, sedangkan sang ibu membuat tapis bersama dirinya di rumahnya yang terbuat dari anyamam bambu dan berlantaikan tanah.

Ibu-ibu di kampung Leni mayoritas bekerja sebagai buruh pembuat tapis.
Leni bersama ibunya tampak piawai memasukkan benang ke jarum, dengan tangannya yang lentik dan mungil itu lincah menyulam satu per satu benang emas pada kain serat hingga terwujudlah menjadi sebuah kain dan selendang.

Bila sudah selesai, kain tapis ini akan diambil oleh sang pemesan atau pengempul.
Dari sinilah, ia baru menerima upah sebesar Rp15 ribu hingga Rp150 ribu bergantung pada jenis tapis yang ia kerjakan.

Uang dari jerih payahnya itu diserahkan kepada sang ibu untuk membantu perekonomian keluarga, seperti untuk membeli beras dan lauk untuk makan mereka sehari-hari.

Dahulu, Leni mempunya cita-cita yang cukup mulia. Ia ingin menjadi seorang dokter.  Namun, nasib berkata lain. Karena ketiadaan biaya, Leni harus melupakan angan-angannya itu. 

Banyaknya waktu luang ia manfaatkan untuk belajar membuat tapis dari sang ibu.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR