KASUS bullying (perundungan) yang kerap mengarah ke penganiayaan kerap terjadi. Bahkan, perundungan yang lebih dikenal dengan sebutan perpeloncoan di lingkungan kampus itu tampaknya sulit dilepas dari kegiatan mahasiswa baru. Tidak jarang perilaku negatif ini memakan korban yang berujung maut.

Meski sudah sering ditentang, sikap senioritas dalam kegiatan orientasi studi dan pengenalan kampus masih menonjol. Ospek pada praktiknya kerap melenceng dari tujuan awal.



Kegiatan yang dianggap bertujuan memperkuat mental dan fisik mahasiswa baru itu justru menjadi ajang unjuk kekuasaan dan kekuatan para senior. Parahnya, ospek diisi dengan perpeloncoan dengan kekerasan hingga penganiayaan yang tidak sedikit berakhir dengan penganiayaan hingga kehilangan nyawa.

Baru-baru ini, Rabu (18/9), mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung melaporkan dugaan penganiayaan oleh seniornya ke Mapolda Lampung. Mahasiswa baru itu mendapat perlakuan tidak manusiawi seperti ditendang dan dipukuli saat mengikuti pendidikan dasar salah satu unit kegiatan mahasiswa di fakultasnya.

Peristiwa seperti ini bukan pertama kali. Bahkan, berbagai kasus perpeloncoan saat ospek yang berujung kematian terjadi di lembaga-lembaga pendidikan tinggi bergengsi di negara ini. Sebut saja kasus kematian mahasiswa IPDN, mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP), mahasiswa Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, mahasiswa Universitas Hassanudin, dan mahasiswa Universitas Gunadarma dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

Sudah semestinya mata rantai perundungan ini segera diputus, mulai dari rumah, sekolah, kampus sehingga ke depan generasi penerus bangsa ini bebas dari kekerasan. Para orang tua, pengajar, dan masyarakat perlu berpartisipasi dalam memutus mata rantai ini.

Pihak kampus harus mengawasi kegiatan mahasiswa baru di lingkungannya. Jangan sampai kegiatan itu diisi dengan perpeloncoan. Terlebih, sebagai lembaga pendidikan sepatutnya mampu menciptakan berkarakter mahasiswa berjiwa sosial, bukan justru membentuk manusia-manusia beringas.

Aparat hukum pun harus mengusut kasus ini hingga tuntas. Jangan ada pembiaran tindakan kekerasan terjadi di lingkungan kampus. Mesti ada sanksi tegas jika memang terbukti bersalah sehingga kejadian serupa tidak terulang.

Kita harus ingat, bullying alias perundungan menjadi sebuah tindakan yang sangat tidak menyenangkan dan menimbulkan banyak kerugian, baik secara fisik maupun psikis. Sayangnya, meski sudah terbukti merugikan, hingga kini belum ada peraturan maupun undang-undang dari pemerintah yang secara spesifik merujuk pada tindakan ini.

Ini juga mesti mendapat perhatian pemerintah dan anggota legislatif untuk mendorong terciptanya UU perundungan. Selama ini, Pelaku bullying dijerat dengan UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, UU Tindakan Tidak Menyenangkan, dan jika sudah sampai kekerasan dikaitkan dengan UU pidana. Sudah saatnya ada payung hukum yang kuat untuk kasus yang kerap terulang ini. ***

EDITOR

Setiaji Bintang Pamungkas

TAGS


KOMENTAR