PERSOALAN lalu lintas khususnya keselamatan dalam berkendara mestinya menjadi tanggung jawab bersama. Dimulai dari sendiri, kemudian keluarga, masyarakat, lingkungan kerja akhirnya menjadi suatu budaya dan peradaban bangsa.

Sayangnya, Indonesia merupakan negara kelima penyumbang kematian melalui angka kecelakaan lalu lintas (lakalantas). Ironisnya, sebagian besar korban lakalantas, tepatnya 57% berada pada usia produktif yakni 15—37 tahun.



Data nasional korban lakalantas pada 2018 sebanyak 171.436 orang perinciannya korban meninggal dunia 29.083 orang, luka berat 13.258 jiwa, dan luka ringan 129.095 jiwa. Di Lampung, sebanyak 4.003 orang menjadi korban lakalantas, dengan perincian 814 jiwa meninggal dunia, 1.220 orang mengalami luka berat, dan 1.969 orang luka ringan.

Angka ini dipastikan akan terus bertambah jika tidak ada upaya bersama yang dilakukan sejak dini.

Dari unsur kepolisian dan instansi terkait perlu ada pencegahan lakalantas di lapangan seperti penguatan patroli dan pemasangan rambu-rambu lalu lintas. Apa yang digelar Polda Lampung yakni agenda Millenial Road Safety Festival adalah salah satu cara agar generasi muda bisa juga menjadi pelopor dan sukarelawan keselamatan berkendara.

Kegiatan ini diharapkan dapat menguatkan karakter generasi milenial untuk patuh terhadap aturan lalu lintas.

Selain Polda, Pemerintah Provinsi hingga kabupaten/kota juga perlu menyiapkan anggaran keselamatan. Anggaran itu nantinya bisa digunakan kegiatan fisik dan nonfisik untuk menurunkan angka kecelakaan khususnya bagi pengendara motor.

Pemda harus memastikan semua jalan di daerahnya berkualitas baik sehingga tidak menjadi penyebab kecelakaan. Tidak dimungkiri bahwa salah satu penyebab kecelakaan lalu lintas adalah jalan rusak dan berlubang.

Pemerintah juga berkewajiban menyediakan angkutan umum yang layak dan terjangkau. Transportasi publik yang baik diharapkan mengubah kebiasaan orang untuk naik kendaraan pribadi, terutama sepeda motor. Jika pengguna kendaraan pribadi turun, kemacetan akan berkurang dan jumlah lakalantas bisa ditekan.   

Selain peran aktif pemerintah, keselamatan berkendara harus diawali dari diri sendiri dan keluarga, khususnya para orang tua. Beberapa orang tua bersikap permisif dan mengizinkan anaknya yang belum cukup umur untuk membawa kendaraan pribadi. Bisa kita cek di sejumlah sekolah, pelajar yang belum memiliki SIM dan belum cukup umur, bebas membawa kendaraan roda dua hingga empat ke sekolah.

Padahal dalam UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Pasal 81 Ayat (2) huruf a secara tegas mengatur batas usia untuk mendapatkan surat izin mengemudi paling rendah 17 tahun. Namun, aturan ini masih banyak dilanggar. Dalam kasus ini, orang tua dan pihak sekolah harus lebih peduli dan mengawasi siswanya.

Selain UU, kini terdapat Inpres No 4/2013 tentang Program Aksi Dekade Keselamatan Jalan. Instruksi Presiden tersebut merupakan ratifikasi dari resolusi PBB Nomor 64/255 tentang Improving Global Road Safety melalui program Decade of Action for Road Safety 2011—2020. Intinya menekan angka kecelakaan dengan lima pilar pedoman keselamatan jalan, yakni manajemen keselamatan, jalan yang berkeselamatan, kendaraan yang berkeselamatan, perilaku pengguna jalan yang berkeselamatan, dan penanganan pra- dan pascakecelakaan.

Jika lima pilar itu sudah dijalankan secara penuh, jalan raya tidak lagi menjadi mesin pembunuh nomor satu di Republik ini. Semua pihak harus berkomitmen mewujudkan keselamatan berkendara sehingga bisa memutus rantai lakalantas. Mulailah dari diri sendiri dan mulailah saat ini juga. 

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR