GEMERINCING dan tabuhan alat musik Lampung mengurung aula mini TK Kuntum Mekar Kids, Rajabasa, Bandar Lampung, Kamis (19/4/2018). Lima bocah perempuan berpakaian etnik lengkap dengan siger sebagai mahkota di kepala serta-merta meningkahi irama. Tubuh mereka tampak berlenggak-lenggok memainkan tari sigeh penguten; tari selamat datang khas suku Lampung.

Kelima anak perlahan bergerak menuju ke tengah panggung. Salah satu penari yang berada paling depan tampak membawa baki yang berisi sekapur sirih, sedangkan keempat penari cilik lainnya beriringan mengikuti dari belakang sambil menangakupkan tangan di dada mereka.



Koreografi yang dimainkan lima penari cilik itu sederhana. Mereka membentuk segitiga cemara dengan gerakan lembut ke kanan ke kiri, berdiri, membungkuk, hingga berlutut. Di pertengahan sesi, satu penari yang berada paling depan memisahkan diri turun dari pentas. Dengan gemulai, ia menghampiri tamu terhormat dan mempersilakan mengambil sekapur sirih—diganti permen—untuk dinikmati.

Tari selamat datang yang juga sering disebut tari sembah ini menjadi satu ekstrakurikuler di TK tersebut. Hari itu, mereka menggelar geladi resik menjelang lomba sebagai bagian untuk memberi pengalaman kepada setiap siswa tampil di depan publik.

“Kami menyediakan beberapa ekstrakurikuler kepada anak-anak. Ada menari, bermain angklung, drumben, komputer, dan berenang. Kami mengakomodasi dengan melatih. Di momen-momen tertentu, anak-anak kami lombakan. Target kami, semua anak harus pernah tampil di depan umum,” kata Verina, kepala TK Kuntum Mekar Kids, mengomentari penampilan itu.

Mengembangkan Pendidikan Karakter

Riuh rendah tidak dapat ditolak pada pergelaran itu. Maklum, puluhan anak yang dipantau orang tuanya masing-masing membuat suasana di bawah panggung kurang tenang. Meskipun demikian, para guru yang memandu tidak henti mengajak anak-anak untuk tertib.

Hal itu berbeda dengan anak-anak yang sedang beraksi di atas pentas. Para penari tampak kompak dengan derap gerak serempak. Saat itu, beberapa murid lainnya juga tampil dengan tarian etnik yang lain, seperti tari kipas dan tari bedana.

“Kami mengajarkan keberanian, melatih mental, mengasah ingatan, menjaga kekompakan, dan memupuk rasa tanggung jawab melalui kegiatan ekstrakurikuler seperti ini. Ini kami anggap penting karena karakter anak harus dibentuk sejak dini,” terang Verina.

Satu hal yang tak kalah penting, lanjut perempuan paruh baya berhijab itu, kegiatan menari ini merupakan salah satu cara sekolah untuk mengenalkan dan menguatkan budaya lokal kepada anak-anak sejak dini.

Melestarikan Budaya

Terkait pendidikan karakter di usia dini, Renyep Proborini, psikolog di Lampung, mengatakan hal yang senada dengan Verina. Menurut dia, cara sekolah untuk meningkatkan pendidikan karakter pada anak melalui kegiatan menari Lampung adalah hal yang luar biasa. “Mengapa luar biasa? Yang utama, itu adalah cara untuk melestarikan budaya Lampung agar tidak punah,” ucap psikolog lulusan Universiti Kebangsaan Malaysia itu, Kamis (19/4/2018).

Kemudian, tambah Renyep, penguasaan gerakan tari juga sangat penting bagi tumbuh kembang si kecil. Sebab, untuk menguasai keterampilan menari, dibutuhkan kemampuan yang kompleks. “Menari mampu menstimulus telinga dan sistem motorik anak. Selain itu, dalam menari ada aturan yang harus ditaati anak, yang meliputi aturan gerakan, tempo, dan ketukan yang terintegrasi menjadi koreografi yang selaras,” papar dia.

Maka itu, tambah Kepala Biro Psikologi Harmoni itu, jika seorang murid TK sudah terampil menari, artinya kontrol diri anak terhadap dirinya sendiri sudah baik. “Dia sudah bisa mengontrol dirinya untuk menyelaraskan gerakan dengan musik. Anak juga mampu mengendalikan berekspresi sesuai dengan pesan yang ada dalam tarian tersebut, apakah tarian sedih, serius, atau riang,” jelasnya. 

Dengan segala keterampilan yang didapat dari menari tersebut, dampak yang terbentuk terhadap pribadi anak, khususnya dalam peningkatan pendidikan karakter, sangatlah banyak. “Itu berimbas pada pengolahan emosi pada anak. Pola pikir anak pun terstimulasi. Maka, keseimbangan kecerdasan kognitif dan emosi akan diperoleh secara seimbang,” kata pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah tersebut.

Renyep juga mengimbau para tenaga pengajar untuk mampu memahami karakter anak saat menerapkan latihan menari. Misalnya, ucapnya, ada anak yang bersikeras memilih tempat di depan saat menari, padahal si anak bertipe peniru. “Jika anak tersebut sulit menghafal gerakan, tempatkan dia di bagian belakang, karena daya ingatnya akan terasang dengan visualisasi. Guru yang punya peran dalam menempatkan posisi mereka,” ujarnya.

Kepada pihak sekolah, Renyep pun tidak menganjurkan untuk menerapkan belajar membaca, menulis, dan berhitung pada usia TK. “Memperkenalkan calistung pada usia TK belum waktunya,” pungkasnya.

Tari Menyampaikan Pesan

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaaan Provinsi Lampung Sulpakar mengatakan bahwa pada usia dini, yang perlu ditanamkan kepada anak adalah penguatan pendidikan karakter. “Selama ini anak selalu dikejar untuk menulis, membaca, dan berhitung. Sesungguhnya, jika kita ingin anak bangsa ini baik, tanamkan kejujuran, tanggung jawab, dan akhlak sejak dini!” ujar dia, Jumat (20/4/2018).

Setelah sifat-sifat mulia itu tertanam, lanjut Sulpakar, baru anak dapat dikenalkan dengan calistung. “Terlepas kelak anak nanti mau ke mana setelah dewasa, yang penting nilai akhlak tersebut sudah tertanam dalam diri mereka.”

Sehubungan dengan cara sekolah meningkatkan pendidikan karakter melalui seni tari tradisional, Sulpakar begitu mengapresiasi langkah tersebut. Menurutnya, setiap kesenian daerah, termasuk tarian, pasti memiliki makna hakikat tentang budi yang mulia.

“Tari merupakan khazanah lokal. Tari itu merefleksikan peri kehidupan masyarakat yang harus dijunjung tinggi yang tertuang dalam piil pesenggiri (lima falsafah hidup suku Lampung). Ada nilai akhlak dalam tari. Dan, itu wajib dilestarikan secara turun-temurun,” urainya.

Secara perinci, Sulpakar melihat setiap gerakan tari dan pakaian yang dikenakan itu memiliki makna. “Dua langkah ke depan, satu langkah ke belakang, gerakan ayunan tangan, hingga pakaian yang dikenakan dalam tari itu bermakna,” ucap pria bersuku asli Lampung tersebut.

Jadi, pungkas Sulpakar, pengajaran tari dalam jenjang pendidikan TK amatlah penting dilakukan untuk mengenalkan anak budaya terhadap lokal dan menumbuhkan pendidikan akhlak yang terkandung dalam seni tari tersebut.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR